Pelupa
Sore ini adalah penutupan kegiatan arisan alumni SMP untuk angkatan kami. Karena sore ini giliranku, akhirnya aku yang bertanggung jawab untuk menentukan tempat arisan kami.
Aku memutuskan di sebuah cafe, jalan H. Isa I. Sahabat SMPku bilang, karena ini menjelang malam minggu, kemungkinan cafe tersebut akan penuh. Tak mau mengulang pengalaman kami sebelumnya (dimana waktu itu kami akhirnya cuma kebagian tempat di teras rumah makan, gara-gara gak tahu kalau harus reservasi), akhirnya temanku menyarankan untuk reservasi dulu.
Pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, aku yang kebetulan rutenya melewati cafe yang dimaksud, akhirnya singgah. Dengan lusuh habis pulang kerja dan bau matahari. Aku mereservasi satu meja untuk kami pakai arisan. Kebetulan aku langsung berhadapan dengan seseorang yang aku yakini sebagai ownernya. Dengan ramah dia menjelaskan. Lalu tibalah saat dia mulai mencatat jam pemakaian dan no meja yang akan ku reservasi, terjadilah dialog berikut ini:
"Jadi, mbak mau reservasi untuk jam 5 sore?" ujar si owner mengkonfirmasi
"Iya" jawabku mantap
"Oke, akan kami siapkan. Mbak boleh bayar DPnya. Rp. 50.000 dulu boleh", ujarnya.
Disitu aku langsung mematung. Hari ini kan aku nda bawa uang. Bawa sih, tapi cuma untuk uang jajanku di sekolah doang.
Karena aku sadar bahwa aku rakyat jelata, sudah menjadi kebiasaanku untuk membawa uang secukupnya kalau berangkat kerja atau jalan keluar. Itu terjadi karena aku memang nda bisa tahan saat melihat uang milikku pribadi. Aku pernah menghabiskan Rp. 400.000 untuk sesuatu hal yang tidak kurencanakan. Parahnya, kalau bawa uang agak banyak, aku bisa habiskan untuk hal-hal yang kurang penting. Pas di rumah baru nyesal. Hari ini aku justru menyesal mengapa aku tidak membawa jajan lebih dari Rp. 100.000 ke sekolah.
Dengan sedikit nda enak akhirnya aku berkata ke si owner,
"Mmmm... mbak, kayaknya saya nda bawa (uang) deh"
Syukurnya si owner sangat profesional. Dengan tanpa menunjukkan ekspresi meremehkan sedikitpun di wajahnya, dia berkata
"Oh, nda papa mbak. Asalkan mbak tetap datang sore ini. 15 Menit mbak nda ada, ya, kami nda bisa menahan tempatnya" ujarnya lagi. Aku berterimakasih dan akhirnya pulang. Sedikit memalukan. Orang lain bisa saja berpikir "Bagaimana bisa dia keluar rumah tanpa membawa uang?" tapi sebodo amat dah.
Sampai di rumah aku baru benar-benar mengobrak-abrik tas ranselku, dan menemukan bahwa ternyata sebenarnya aku punya uang jajan sekitar Rp. 260.000 di dalam tasku. Uang ini memang tidak ada di dalam dompet. Wajar aku melupakannya. Yaa ampun... ternyata aku benar-benar pelupa...
Ya udah lah...
Aku memutuskan di sebuah cafe, jalan H. Isa I. Sahabat SMPku bilang, karena ini menjelang malam minggu, kemungkinan cafe tersebut akan penuh. Tak mau mengulang pengalaman kami sebelumnya (dimana waktu itu kami akhirnya cuma kebagian tempat di teras rumah makan, gara-gara gak tahu kalau harus reservasi), akhirnya temanku menyarankan untuk reservasi dulu.
Pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, aku yang kebetulan rutenya melewati cafe yang dimaksud, akhirnya singgah. Dengan lusuh habis pulang kerja dan bau matahari. Aku mereservasi satu meja untuk kami pakai arisan. Kebetulan aku langsung berhadapan dengan seseorang yang aku yakini sebagai ownernya. Dengan ramah dia menjelaskan. Lalu tibalah saat dia mulai mencatat jam pemakaian dan no meja yang akan ku reservasi, terjadilah dialog berikut ini:
"Jadi, mbak mau reservasi untuk jam 5 sore?" ujar si owner mengkonfirmasi
"Iya" jawabku mantap
"Oke, akan kami siapkan. Mbak boleh bayar DPnya. Rp. 50.000 dulu boleh", ujarnya.
Disitu aku langsung mematung. Hari ini kan aku nda bawa uang. Bawa sih, tapi cuma untuk uang jajanku di sekolah doang.
Karena aku sadar bahwa aku rakyat jelata, sudah menjadi kebiasaanku untuk membawa uang secukupnya kalau berangkat kerja atau jalan keluar. Itu terjadi karena aku memang nda bisa tahan saat melihat uang milikku pribadi. Aku pernah menghabiskan Rp. 400.000 untuk sesuatu hal yang tidak kurencanakan. Parahnya, kalau bawa uang agak banyak, aku bisa habiskan untuk hal-hal yang kurang penting. Pas di rumah baru nyesal. Hari ini aku justru menyesal mengapa aku tidak membawa jajan lebih dari Rp. 100.000 ke sekolah.
Dengan sedikit nda enak akhirnya aku berkata ke si owner,
"Mmmm... mbak, kayaknya saya nda bawa (uang) deh"
Syukurnya si owner sangat profesional. Dengan tanpa menunjukkan ekspresi meremehkan sedikitpun di wajahnya, dia berkata
"Oh, nda papa mbak. Asalkan mbak tetap datang sore ini. 15 Menit mbak nda ada, ya, kami nda bisa menahan tempatnya" ujarnya lagi. Aku berterimakasih dan akhirnya pulang. Sedikit memalukan. Orang lain bisa saja berpikir "Bagaimana bisa dia keluar rumah tanpa membawa uang?" tapi sebodo amat dah.
Sampai di rumah aku baru benar-benar mengobrak-abrik tas ranselku, dan menemukan bahwa ternyata sebenarnya aku punya uang jajan sekitar Rp. 260.000 di dalam tasku. Uang ini memang tidak ada di dalam dompet. Wajar aku melupakannya. Yaa ampun... ternyata aku benar-benar pelupa...
Ya udah lah...
Komentar
Posting Komentar