Aku Mengkhawatirkan Anak-anakku...

Aku pernah muda. Aku juga melalui masa SMA. Aku pernah berada dalam posisi sulit dan persaingan yang ketat dengan teman sekelas. Mungkin bedanya aku bukan orang yang berambisi tinggi. Dan tekanan sekuat apapun tak terlalu berpengaruh pada jiwaku yang pada dasarnya jiwa easy going. Aku mungkin memikirkan hinaan, tapi hinaan tak pernah berujung pada berubahnya aku secara massif.
Tapi anak-anakku mulai memprihatinkan. Saat mereka masuk dalam pusaran persaingan, mereka marah, mereka kecewa, mereka terperosok ke jurang kemarahan yang membabi-buta, mereka lalu berubah dari anak manis menjadi anak-anak dengan mulut-mulut pengumpat. Mereka juga mulai bergaya yang berbeda dari mereka apa adanya. Mereka mulai berani sombong dan memperolok-olok kecerdasan orang lain. Hanya karena sebelumnya mereka suka diolok-olok ketika tertinggal dalam persaingan kecerdasan kognitif.
Bukan cuma satu dua, tapi banyak anak yang mulai berubah.

Rupanya aku bukan ibu yang cukup kuat untuk mengatasi segala perubahan ini. Aku juga shock. Aku perlu cara untuk mengatasi masalah ini. Atau aku biarkan saja mereka? Menyelesaikan sendiri masalah mereka? Supaya kelak mereka bisa mengambil hikmah? Supaya kelak mereka tumbuh menjadi orang yang berani dan tahu konsekuensi? Supaya mereka tidak tumbuh seperti aku, manusia yang begitu naif menghadapi kehidupan nyata yang keras?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Guru Baru, Guru Muda