Sedikit Oleh-oleh dari Kedai Es Krim

Aku duduk di salah satu kedai es krim paling es krim di kotaku. Bersama seorang gadis yang menurutku luar biasa. Di hadapan kami ada seporsi es krim dengan gaya taco, sepiring kentang goreng, green tea milkshake dengan es krim vanilla di atasnya dan sebotol air mineral.

"Ki" ujarnya, bangkit dari posisi nyendernya di dinding
"Seandainya, kamu ditawarin kerja, katakanlah jadi manager, dengan gaji 10 juta, apa yang akan kamu lakukan?" ujarnya
aku senyum dikulum, memainkan sendok di gelas green tea milkshakeku, dan menyendok sedikit es krim
"Aku akan nolak. Karena aku gak capable" kataku jujur dan yakin. Yakin yang pesimis sebenarnya haha.
"Gini...gini" ulangnya tak sabar
"Misalnya kamu ditawarin nih. Kamu terima gak?"
aku tertawa
"Terima lah" jawabku sambil menyendok es krim vanilla dan melumerkannya di mulutku.

"Kalau aku gini, aku akan terima" katanya
"Aku akan bilang, 'Saya bisa'. Kalau ditanya, 'Mengapa (mengapa kok kamu yakin bahwa kamu bisa)?'. Ya aku jawab, 'Setiap perusahaan, memiliki SOP sendiri, aturan-aturan sendiri, bahkan sistem hirearki sendiri dan itu beda-beda. Di perusahaan A, misalnya, aku dengan jabatanku sebagai general manager bisa mendapatkan gaji 16 juta rupiah, bisa jadi di perusahaan B, dengan jabatan yang sama, aku hanya bisa mendapatkan gaji kurang dari 7 juta rupiah. Dan aku sudah biasa bergelut dengan itu semua. Aku menghadapi semuanya. Lihatlah, semua perusahaan itu beda-beda. Tapi kita masih bisa kerja di dalamnya. Menjalaninya. Selama semua itu masih bisa dipelajari, aku yakin, aku pasti bisa"

Aku tertegun. Menurutku itu salah satu pandangan baru dari dia. Dan aku nda pernah kepikiran itu sebelumnya. Padahal aku mengaku sebagai manusia pembelajar. Aku sih tahu itu cuma andai-andaian belaka. Aku juga tahu kalau permisalan semisal jabatan general manager memang bukanlah jabatan yang bisa seenak-enaknya di-iya-in. General manager juga butuh skill. Tapi lebih dari itu, aku sedang menemukan bahwa aku masih memelihara jiwa pesimis di dalam diriku.

Rasa-rasa pesimis ini lah yang gak boleh dipiara. Menjadi optimis dalam hidup itu sangat perlu. Ketika kita kehilangan rasa optimisme dan mudah patah semangat, disitulah hidup kita berakhir. Sedikit pembicaraan malam ini, membuatku tersadar. Adakalanya, kita akan mikir meski cuma gara-gara pertanyaan yang kita anggap sepele.

Intinya aku mau bilang, optimislah dalam menghadapi apapun. Kalau belum bisa optimis, belajarlah untuk jadi orang yang optimis. Jangan lupakan berdo'a kepada Allah SWT dan jalanilah hidup dengan bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Guru Baru, Guru Muda