Pengalaman Pertama Pembina Upacara
Hari itu, Sabtu, saat aku masuk siang dan bertemu kepala sekolah. Bapak kepala sekolah menyambangiku di dekat meja piket. Lalu menawarkan sesuatu yang sudah kutolak sebanyak 4 kali: Menjadi Pembina Upacara. Siang itu entah karena tidak bisa menghindar lagi alias pasrah atau entah karena aku sudah lelah lari dari kenyataan #tsah, ketika bapak menawarkan lagi (tepatnya menyuruh lagi secara halus) aku mengiyakan. Ku lihat ekspresi bapak sangat senang. Seperti orang yang baru dapat arisan #wkwkwk peace, pak. Pulang ke rumah aku langsung di dera rasa panik. Aku memang sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab di dalam organisasi tapi aku tidak memiliki cukup kemampuan leadership, public speaking termasuk kepercayaan diri. Bertambah-tambah panikku karena pemimpin upacaranya adalah salah satu muridku yang sudah kesohor ngebanyol. Anak ini memang masuk dalam tim Lomba Baris Berbaris suaranya juga lantang sehingga masuk akal kalau dia diandalkan sebagai petugas pemimpin upacara mewakili ...