Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Pengalaman Pertama Pembina Upacara

Hari itu, Sabtu, saat aku masuk siang dan bertemu kepala sekolah. Bapak kepala sekolah menyambangiku di dekat meja piket. Lalu menawarkan sesuatu yang sudah kutolak sebanyak 4 kali: Menjadi Pembina Upacara. Siang itu entah karena tidak bisa menghindar lagi alias pasrah atau entah karena aku sudah lelah lari dari kenyataan #tsah, ketika bapak menawarkan lagi (tepatnya menyuruh lagi secara halus) aku mengiyakan. Ku lihat ekspresi bapak sangat senang. Seperti orang yang baru dapat arisan #wkwkwk peace, pak. Pulang ke rumah aku langsung di dera rasa panik. Aku memang sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab di dalam organisasi tapi aku tidak memiliki cukup kemampuan leadership, public speaking termasuk kepercayaan diri. Bertambah-tambah panikku karena pemimpin upacaranya adalah salah satu muridku yang sudah kesohor ngebanyol. Anak ini memang masuk dalam tim Lomba Baris Berbaris suaranya juga lantang sehingga masuk akal kalau dia diandalkan sebagai petugas pemimpin upacara mewakili ...

Menempatkan Diri

Aku masih ingat, percakapan singkat tadi siang di sekolah. Seorang teman, guru laki-laki (beliau ini padahal punya pengalaman kerja di kampungnya dulu, mengajar mencabang di SMA dan SMP, juga pengajar di lembaga bimbingan belajar), membuat aku melongo dan setengah kecewa, setengah nda percaya.  Semuanya bermula saat aku menceritakan apa yang diceritakan oleh anak kelasku, saat mereka berlebaran ke rumah. "Bu, Si A nda sopan sama pak B, masa' si A suka kasar sama bapak B"lapor anak muridku, "Becandaan aja, kali" sahutku "Nda, bu, sering juga si A dan si C kayak ngusir bapak dari kelas. Dan wajah mereka nda menunjukkan tawa sama sekali juga nda menunjukkan kalau mereka bercanda" tambahnya pula meyakinkan aku "Iya bu, kadang kami kasian sama pak B" sergah yang lain. "Pernah juga bu, bebantah-bantahan sama pak B tapi pak B diam aja diperlakukan seperti itu" Sampai sini aku cukup kesal. Pasalnya, aku wali kelasnya, aku t...