Pengalaman Pertama Pembina Upacara
Hari itu, Sabtu, saat aku masuk siang dan bertemu kepala sekolah. Bapak kepala sekolah menyambangiku di dekat meja piket. Lalu menawarkan sesuatu yang sudah kutolak sebanyak 4 kali: Menjadi Pembina Upacara.
Siang itu entah karena tidak bisa menghindar lagi alias pasrah atau entah karena aku sudah lelah lari dari kenyataan #tsah, ketika bapak menawarkan lagi (tepatnya menyuruh lagi secara halus) aku mengiyakan. Ku lihat ekspresi bapak sangat senang. Seperti orang yang baru dapat arisan #wkwkwk peace, pak.
Pulang ke rumah aku langsung di dera rasa panik. Aku memang sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab di dalam organisasi tapi aku tidak memiliki cukup kemampuan leadership, public speaking termasuk kepercayaan diri. Bertambah-tambah panikku karena pemimpin upacaranya adalah salah satu muridku yang sudah kesohor ngebanyol. Anak ini memang masuk dalam tim Lomba Baris Berbaris suaranya juga lantang sehingga masuk akal kalau dia diandalkan sebagai petugas pemimpin upacara mewakili kelasnya. Ku bayangkan bagaimana tersiksanya menahan tawa saat melihat wajah anak ini. Asal tahu saja, dengan wajah diamnya saja, dia mampu membuat separuh peserta upacara menahan tawa. Apalagi aku??
Begitu sampai rumah, aku langsung keluar kamar membawa netbookku lalu browsing tentang langkah-langkah upacara bendera. Karena aku sering menghindari ikut upacara bendera #sebenarnya aku nda suka seremonial upacara bendera, aku jadi tidak hapal apa yang harus kukatakan saat merespon laporan dari pemimpin upacara nanti.
Sambil browsing sambil gugup. Gugupku benar-benar nda kunjung hilang. Aku benar-benar browsing hanya untuk menjadi pembina upacara.
Sampai aku menemukan satu artikel dari sebuah blog yang ditulis oleh seorang guru. Dia menyayangkan dan merasa kesal terhadap guru yang tidak mau jadi pembina upacara cuma gara-gara takut dan nda percaya diri. Dari sana akhirnya aku termotivasi. Hingga aku tidak berdo'a supaya Senin pagi turun hujan. Aku malah berharap Senin pagi udara cerah dan berharap upacara bendera kami berjalan dengan lancar.
Hari H tiba. Dengan gemetaran sepanjang aku menjadi guru formal (kurang lebih setahun setengah, saat itu), aku nda pernah menginjak podium pembina upacara, nda pernah memegang mic pembina upacara dan nda pernah merasakan suasana sebagai pembina upacara.
Dan hari itu semuanya berjalan. Aku tidak menghindari kenyataan. Aku berdiri di podium. Ketakutanku tidak terbukti (termasuk saat aku takut anak-anak tidak memperhatikan aku atau berbuat keributan).
Hanya sekitar 5 menit pertama aku grogi. Setelah itu aku menikmati tempat dan kondisi yang aku sedang berada di dalamnya.
Lalu, apa trikku supaya tenang di atas podium?
1. Niat dan Yakin
Dengan niat dan keyakinan bahwa aku harus ada di atas podium, membuat aku kuat untuk melangkah #tsah
2. Amanah yang Dititipkan
Dengan berpikir bahwa ada amanat upacara yang dititipkan oleh waka kurikulum dan amanat itu merupakan informasi yang penting saat itu, maka aku mantap melangkah ke atas podium
3. Habis ini aku mau ngapain?
Saat aku mulai dilanda grogi, aku memikirkan habis ini aku mau melakukan apa (dan hal itu adalah hal yang menyenangkan atau menenangkan)
4.Memikirkan kata-kata yang memotivasi
Saat aku ditunjuk menjadi pembina upacara (tapi saat itu aku masih terus menolak dengan alasan takut) bapak kepala sekolah bilang, "Apa sih yang ditakutkan? Tenang saja, nanti kalau ibu Rizkiani jadi pembina upacara, bapak yang akan ada di belakang ibu. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan" dan kata-kata bapak kepala sekolah saat itu kuhitung sebagai janji. Saat aku akhirnya menyetujui menjadi pembina upacara, bapak kepala sekolah benar-benar berada di belakangku. Memikirkan kembali kata-kata beliau itu, akupun memutuskan untuk tidak takut. Dan dengan keputusan kita untuk tidak takut, aku menjadi tenang.
Juga aku mengingat lagi kata-kata bu Ita (Seniorku, guru sebidang dengan bidang pendidikan yang ku ampu tetapi beliau lebih senior), saat di koperasi sekolah, beliau pernah bilang, "Kalau mau benar-benar dijalankan, jatah kita menjadi pembina upacara itu cuma setahun sekali, kok. Yang berkali-kali itu justru kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Tidak ada gunanya terus menghindar, toh kita akan kena giliran juga meski terus menolak. Banyakin latihan saja, ikuti saja alurnya, lama-lama setelah berada di atas podium, grogi akan hilang dengan sendirinya"
Dan beliau-beliau ini (kepala sekolah dan bu Ita) memang benar.
5. Memikirkan Hal yang Lucu
Aku juga memikirkan hal yang lucu tapi tetap menahan supaya tidak tertawa
6. Membagi Penderitaan dengan Pemimpin Upacara
Poin keenam ini sebenarnya yang juga selalu bikin aku ketawa saat mengingatnya. Hahaa. Aku, setelah upacara berkali-kali meminta maaf di dalam hati pada anak yang jadi pemimpin upacara hari itu. Selama upacara, supaya tetap tenang, aku justru berani menatap mata anak yang jadi pemimpin upacara secara langsung sambil bergumam dalam hati,
"Tenang, Ki, yang grogi dan tertekan disini bukan cuma kamu saja. Tapi ada Aspira (anggap saja ini nama muridku yang bertugas sebagai pemimpin upacara hari itu)"
Dan akupun memandang lurus ke mata anak itu. Sangat lekat. Saking lekatnya beberapa kali ia justru menunduk (jarang pemimpin upacara menundukkan pandangannya, karena saat aku nda jadi pembina, aku juga sering fokus mengamati petugas pemimpin upacaranya). Ini sebenarnya menandakan bahwa dia sebenarnya terintervensi oleh tatapan mataku.
Apa boleh buat, saat itu aku merasa harus membagi rasa grogiku ke anak itu lewat tatapan mataku. Dan itu berhasil, guys. Haha (Maafin ibu, ya Aspira haha).
Dan saat-saat menegangkan itu berakhir.
Aku bahkan tak percaya aku bisa melewati hari ini dengan lancar. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah..
***
Dan sepanjang sisa hari setelah upacara bendera...
"Ciee yang jadi pembina upacara...", goda murid yang pertama
"Bu, bagus bu amanat yang ibu sampaikan, akan saya jalankan" berteriak dari jarak yang agak jauh, sambil senyam senyum.., goda murid yang kedua
"Kita harus menghargai teman... ya, kan bu??" goda muridku yang lain (mengutip salah satu isi amanat upacara bendera yang kusampaikan).
Ya, satu yang lupa kusampaikan, aku adalah guru muda yang bisa dihitung baru yang bisa kapan saja digodain murid tanpa rasa dosa. Ya, itu aku. Betul. Aku. Memang aku. Hhhhh..
Siang itu entah karena tidak bisa menghindar lagi alias pasrah atau entah karena aku sudah lelah lari dari kenyataan #tsah, ketika bapak menawarkan lagi (tepatnya menyuruh lagi secara halus) aku mengiyakan. Ku lihat ekspresi bapak sangat senang. Seperti orang yang baru dapat arisan #wkwkwk peace, pak.
Pulang ke rumah aku langsung di dera rasa panik. Aku memang sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab di dalam organisasi tapi aku tidak memiliki cukup kemampuan leadership, public speaking termasuk kepercayaan diri. Bertambah-tambah panikku karena pemimpin upacaranya adalah salah satu muridku yang sudah kesohor ngebanyol. Anak ini memang masuk dalam tim Lomba Baris Berbaris suaranya juga lantang sehingga masuk akal kalau dia diandalkan sebagai petugas pemimpin upacara mewakili kelasnya. Ku bayangkan bagaimana tersiksanya menahan tawa saat melihat wajah anak ini. Asal tahu saja, dengan wajah diamnya saja, dia mampu membuat separuh peserta upacara menahan tawa. Apalagi aku??
Begitu sampai rumah, aku langsung keluar kamar membawa netbookku lalu browsing tentang langkah-langkah upacara bendera. Karena aku sering menghindari ikut upacara bendera #sebenarnya aku nda suka seremonial upacara bendera, aku jadi tidak hapal apa yang harus kukatakan saat merespon laporan dari pemimpin upacara nanti.
Sambil browsing sambil gugup. Gugupku benar-benar nda kunjung hilang. Aku benar-benar browsing hanya untuk menjadi pembina upacara.
Sampai aku menemukan satu artikel dari sebuah blog yang ditulis oleh seorang guru. Dia menyayangkan dan merasa kesal terhadap guru yang tidak mau jadi pembina upacara cuma gara-gara takut dan nda percaya diri. Dari sana akhirnya aku termotivasi. Hingga aku tidak berdo'a supaya Senin pagi turun hujan. Aku malah berharap Senin pagi udara cerah dan berharap upacara bendera kami berjalan dengan lancar.
Hari H tiba. Dengan gemetaran sepanjang aku menjadi guru formal (kurang lebih setahun setengah, saat itu), aku nda pernah menginjak podium pembina upacara, nda pernah memegang mic pembina upacara dan nda pernah merasakan suasana sebagai pembina upacara.
Dan hari itu semuanya berjalan. Aku tidak menghindari kenyataan. Aku berdiri di podium. Ketakutanku tidak terbukti (termasuk saat aku takut anak-anak tidak memperhatikan aku atau berbuat keributan).
Hanya sekitar 5 menit pertama aku grogi. Setelah itu aku menikmati tempat dan kondisi yang aku sedang berada di dalamnya.
Lalu, apa trikku supaya tenang di atas podium?
1. Niat dan Yakin
Dengan niat dan keyakinan bahwa aku harus ada di atas podium, membuat aku kuat untuk melangkah #tsah
2. Amanah yang Dititipkan
Dengan berpikir bahwa ada amanat upacara yang dititipkan oleh waka kurikulum dan amanat itu merupakan informasi yang penting saat itu, maka aku mantap melangkah ke atas podium
3. Habis ini aku mau ngapain?
Saat aku mulai dilanda grogi, aku memikirkan habis ini aku mau melakukan apa (dan hal itu adalah hal yang menyenangkan atau menenangkan)
4.Memikirkan kata-kata yang memotivasi
Saat aku ditunjuk menjadi pembina upacara (tapi saat itu aku masih terus menolak dengan alasan takut) bapak kepala sekolah bilang, "Apa sih yang ditakutkan? Tenang saja, nanti kalau ibu Rizkiani jadi pembina upacara, bapak yang akan ada di belakang ibu. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan" dan kata-kata bapak kepala sekolah saat itu kuhitung sebagai janji. Saat aku akhirnya menyetujui menjadi pembina upacara, bapak kepala sekolah benar-benar berada di belakangku. Memikirkan kembali kata-kata beliau itu, akupun memutuskan untuk tidak takut. Dan dengan keputusan kita untuk tidak takut, aku menjadi tenang.
Juga aku mengingat lagi kata-kata bu Ita (Seniorku, guru sebidang dengan bidang pendidikan yang ku ampu tetapi beliau lebih senior), saat di koperasi sekolah, beliau pernah bilang, "Kalau mau benar-benar dijalankan, jatah kita menjadi pembina upacara itu cuma setahun sekali, kok. Yang berkali-kali itu justru kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Tidak ada gunanya terus menghindar, toh kita akan kena giliran juga meski terus menolak. Banyakin latihan saja, ikuti saja alurnya, lama-lama setelah berada di atas podium, grogi akan hilang dengan sendirinya"
Dan beliau-beliau ini (kepala sekolah dan bu Ita) memang benar.
5. Memikirkan Hal yang Lucu
Aku juga memikirkan hal yang lucu tapi tetap menahan supaya tidak tertawa
6. Membagi Penderitaan dengan Pemimpin Upacara
Poin keenam ini sebenarnya yang juga selalu bikin aku ketawa saat mengingatnya. Hahaa. Aku, setelah upacara berkali-kali meminta maaf di dalam hati pada anak yang jadi pemimpin upacara hari itu. Selama upacara, supaya tetap tenang, aku justru berani menatap mata anak yang jadi pemimpin upacara secara langsung sambil bergumam dalam hati,
"Tenang, Ki, yang grogi dan tertekan disini bukan cuma kamu saja. Tapi ada Aspira (anggap saja ini nama muridku yang bertugas sebagai pemimpin upacara hari itu)"
Dan akupun memandang lurus ke mata anak itu. Sangat lekat. Saking lekatnya beberapa kali ia justru menunduk (jarang pemimpin upacara menundukkan pandangannya, karena saat aku nda jadi pembina, aku juga sering fokus mengamati petugas pemimpin upacaranya). Ini sebenarnya menandakan bahwa dia sebenarnya terintervensi oleh tatapan mataku.
Apa boleh buat, saat itu aku merasa harus membagi rasa grogiku ke anak itu lewat tatapan mataku. Dan itu berhasil, guys. Haha (Maafin ibu, ya Aspira haha).
Dan saat-saat menegangkan itu berakhir.
Aku bahkan tak percaya aku bisa melewati hari ini dengan lancar. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah..
***
Dan sepanjang sisa hari setelah upacara bendera...
"Ciee yang jadi pembina upacara...", goda murid yang pertama
"Bu, bagus bu amanat yang ibu sampaikan, akan saya jalankan" berteriak dari jarak yang agak jauh, sambil senyam senyum.., goda murid yang kedua
"Kita harus menghargai teman... ya, kan bu??" goda muridku yang lain (mengutip salah satu isi amanat upacara bendera yang kusampaikan).
Ya, satu yang lupa kusampaikan, aku adalah guru muda yang bisa dihitung baru yang bisa kapan saja digodain murid tanpa rasa dosa. Ya, itu aku. Betul. Aku. Memang aku. Hhhhh..
Komentar
Posting Komentar