Guru Baru, Guru Muda

Aku termasuk guru baru, termasuk guru muda juga, meskipun aku pertama menjadi guru sudah berumur 25 tahun. Di dunia ini guru termuda bisa berumur sekitar 22-23 tahun. Benar-benar fresh graduated. Tiba-tiba, saat aku duduk di perpustakaan, aku terinspirasi untuk menuliskan pengalamanku menjadi guru baru guru muda.

Setidaknya, saat kita menjadi guru baru, guru muda, ada beberapa hal yang secara alamiah akan kita alami. Ini berdasarkan pengalamanku dan pengalaman yang aku lihat dari rekan-rekan kerjaku sendiri.

1. Ego Tinggi
Guru baru apalagi usianya muda, biasanya memiliki ego yang tinggi. Itu terjadi karena, mereka belum memiliki pengalaman yang cukup soal mendidik anak, mengajar anak dan bahkan berinteraksi dengan anak. Guru muda kan biasanya belum menikah, umumnya mereka belum memiliki naluri keibuan (khususnya guru perempuan). Yang ada mereka masih terlalu muda. Dengan murid yang jarak usianya semakin kecil, mereka cenderung semakin keras, bukan tegas.

2. Sulit Mengambil Keputusan di dalam Kelas
Karena minimnya pengalaman ditambah riak karakter yang masih egois, guru muda juga biasanya kesulitan mengambil keputusan di dalam kelas. Bahkan bisa sampai terkesan plin-plan. Oleh karena itu, dibutuhkan benar kerendahan hati untuk selalu belajar baik materi bahan ajar maupun belajar cara mengambil keputusan kepada guru yang lebih senior. Saya percaya bahwa, ilmu bisa dicari dengan terus belajar, tapi pengalaman nda bisa dibeli kecuali dijalani sendiri. Untuk membantu percepatan pengalaman itu, maka kita harus banyak menggali pengalaman dari rekan guru senior.

3. Mudah Marah-marah nda Jelas
Saat jadi guru muda, kita berada di antara dilema, antara rasa tega dan nda tega, antara rasa ingin mengayomi dan ingin sama-sama diayomi, antara berani dan takut, jadi, ketika terjadi masalah di dalam kelas, umumnya, akan langsung marah tetapi target dan penempatan kemarahan itu sendiri justru tidak jelas. Marah ditujukan ke siapa, bermaksud supaya apa, dan penempatan marah itu seharusnya ditempatkan di bagian mana saja. Sehingga, kalau kelas gaduh, guru muda biasanya mudah marah nda jelas dan mudah ngambek keluar kelas, bahkan bisa sampai menangis di dalam kelas, di hadapan para siswa.

4. Sulit Menempatkan Diri
Karena merasa muda, maka seringkali sering membaur dengan murid tanpa sadar bahwa ada batas-batas tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh murid. Ketika ingin menjadi tegas, sudah nda bisa lagi. Karena kondisi yang ditempatkan ke murid sudah salah sedari awal.

5. Kurang Profesional
Kurang profesional disini maksudnya bukan semata-mata lalu dimaksudkan dalam bidang akademis si guru atau keluasan pengetahuan si guru. Bukan. Karena banyak sekali kok guru yang cerdas. Melebihi teman-teman seniornya. Tapi tidak profesional disini bisa juga dimaksudkan terkait pengelolaan sikap dan emosi/ perasaan si guru. Guru itu pekerjaan yang sangat sulit dan berat. Jadi, memiliki sikap dan karakter yang kuat merupakan satu keharusan bagi seorang guru.

Demikianlah sedikit poin-poin yang pernah kualami sebagai guru baru guru muda termasuk juga pengalaman dari teman-teman yang pernah aku dengar, aku lihat dan bahkan aku rasakan sendiri. Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa