Protagonis yang Antagonis

Dari kecil, aku yang memang pendiam dan penurut, diam-diam mempunyai cita-cita kehidupan yang luhur (Setidaknya 'luhur' menurut definisi Rizkiani Kecil). Apa itu? Yaitu menjadi sosok protagonis* baik hati di alur kehidupanku. Dan aku sangat membenci peran antagonis**. Bagiku, peran protagonis dan antagonis memiliki perbedaan karakter yang sangat jauh. Peran protagonis adalah sosok si baik hati lagi tidak sombong dan antagonis adalah peran jahat yang memuakkan bagi semua orang. Orang-orang protagonis, bagiku, di kehidupan (maafkan aku jika pikiranku sempit dan aku termakan ide-ide sinetron) adalah orang yang selalu baik dan dia juga merupakan orang yang sering dicurangi, disakiti, ditinggalkan dan tidak dipilih, tapi kemudian menjadi pemenang di dalam drama kehidupannya. Sebaliknya orang-orang antagonis adalah orang yang berada di sisi jahat yang sering mencurangi, menyakiti, meninggalkan dan tidak memilih, dan kemudian, dia akan menjadi pecundang di dalam drama kehidupannya karena kejahatan yang telah diperbuatnya. Oleh karena itu, aku kemudian menjadi pendiam, penurut dan loyal akan sesuatu karena hal-hal itulah yang dimiliki oleh seorang protagonis.

Namun cita-citaku nda berjalan lancar. Di beberapa sisi kehidupanku, Allah benar-benar menghadapkan aku pada sesuatu yang harus ku pilih, sementara definisi sempit tentang protagonis yang baik hati, begitu kuat melekat di kepalaku, sehingga, aku merasa jadi seolah-olah antagonis hanya karena harus "memilih" dan terkesan "jahat".  

Contohnya, 

Aku kan dari kecil selalu menanamkan pada diri sendiri bahwa aku nda istimewa-istimewa banget, sehingga aku terpacu untuk harus terus belajar atau memperbaiki diri. Harus terus menjadi baik karena aku nda istimewa-istimewa banget tadi. Aku kemudian bertekad untuk tidak menyakiti satupun laki-laki. Tapi kenyataannya, aku harus dihadapkan pada laki-laki yang mendekati aku. Lalu aku harus bilang "Tidak". Aku menyakiti mereka. Ya, aku tahu, perbuatanku tidak salah. Apalagi kalau aku melakukan ini rujukannya adalah agama. Tapi tetap saja ada rasa "aku menyakiti laki-laki, lagi dan lagi, kenapa mereka tidak berlalu saja seolah-olah mereka tidak tahu aku? Kenapa mereka harus suka padahal aku tidak istimewa? Dan mengapa mereka harus menempatkan aku menjadi sosok yang menyakiti?"

Lalu juga ketika aku punya cita-cita untuk selalu menerima siapapun yang mau menerimaku. Tapi kenyataannya aku dengan "terasa jahatnya" memilih untuk tidak memilih mereka. Kenapa lagi-lagi aku harus jadi sosok yang dihadapkan pada pilihan, bukan yang 'dipilih'. 

Aku juga bertekad untuk nda akan melepaskan pekerjaanku (aku bekerja di dua tempat dan di kalangan kami, hal ini masih wajar terjadi) kecuali jika bosku yang memecatku. Kenyataannya, kedua bosku nampaknya nda berniat memecatku dan aku lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang kesannya aku akan menjadi antagonis lagi. Aku harus memilih, apakah aku tetap di tempat kerja pertamaku tapi aku keteteran ataukah aku memilih meninggalkan bos pertamaku dan aku lagi-lagi akan jadi antagonis?

Jadi sebenarnya bagaimana nasib cita-cita luhurku? Aku nda menyangka kalau dimata orang lain aku terlihat istimewa. Aku berpikir aku akan menjadi protagonis sesekali dibumbui perlakuan tidak adil oleh orang lain. Seperti di sinetron-sinetron. Tapi kenyataannya berbeda dan aku didera rasa bersalah. 

Dan pada akhirnya, siapakah aku? Apakah aku protagonis? Antagonis? Ataukah protagonis yang sebenarnya antagonis?




*) Tokoh utama dalam sebuah cerita/drama yang biasanya berwatak baik (biasanya tokoh ini akan melawan tokoh antagonis).
**) Tokoh utama atau bisa juga tokoh tambahan yang biasanya berwatak jahat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Guru Baru, Guru Muda

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa