Catatan Sederhana Guru Pendamping Lomba
Aku cuma guru biasa. Aku bukan guru berprestasi. Hanya karena aku memiliki keluangan waktu, akupun diberikan kepercayaan lebih untuk mendampingi anak-anak untuk ikut lomba. Lomba apapun, meskipun lomba itu nda linier dengan bidang studi yang ku ampu. Dapat juara ataupun tidak dapat juara, aku selalu hadapi sama-sama dengan mereka.
Hingga dua tahun di setiap event lomba, aku hampir selalu pergi dengan anak-anak. Setiap kami pulang dengan tangan hampa, aku selalu membesarkan hati anak-anak. Kadang kebahagiaan kami hanya sesederhana nasi kotak yang kami dapatkan dari panitia lomba, atau sesederhana semangkuk bakso traktiranku, bahkan sesederhana segelas es capcin dingin yang juga kubelikan buat mereka. Seolah gusar dan lelah sehabis lomba langsung terhapus dengan sederet makanan murah sederhana tersebut.
Dan bila menang lomba, kebahagiaan kami bertambah-tambah, sorak mereka terdengar tumpah, dan aku merasa luar biasa bangga pada mereka.
Hari ini, lomba pidato telah kami jalani, hatiku gusar di sekolah, karena sangat jarang aku melepas mereka lomba sendirian. Anak-anak kami sebenarnya anak-anak mandiri dan dewasa, percaya diri dan mudah membaur di keramaian, tapi biasanya, tanpa guru pendamping, mereka seperti kehilangan sesuatu. Maka sesempat-sempatnya di tengah perutku yang sakit melilit, di tengah jam mengajarku yang kosong di sekolah yang satunya, aku izin keluar sekolah untuk melihat anak-anak tanding. Sampai disana, benar saja, mata mereka menatapku dengan binar bahagia dan lega.
Dulu waktu SMP, aku mengikuti lomba mata pelajaran IPS, olimpiade biologi, dan lomba siswa teladan, kehadiran guru pendamping, guruku pribadi, sangat sangat penting. Tanpa guruku, aku tidak akan bisa tersenyum. Sebodo amat anak-anak lain, sekolah-sekolah lain yang nda didampingi oleh gurunya, yang penting guruku harus terlihat batang hidungnya. Dan kalau sudah ada guru, biarpun beliau berdiri jauh di ujung sana, asik masyuk ngobrol dengan orang lain, rasanya tuh kayak energi ribuan kuda mengalir di dalam darah. Rasa senaaaang sekali ditunggui. Padahal cuma ditunggui aja loh. Ketika akhirnya aku ikut dikirim tanding ke Samarinda, guruku dulu nda ikut. Adanya guru pendamping dari sekolah lain. Baik sih ibunya dan bapaknya. Baik banget malah. Tapi tetap aja aku nda bersemangat. Aku jadi ogah-ogahan belajar dan lebih banyak melamun. berdasarkan pengalamanku itulah, jarang sekali aku membiarkan muridku tanding sendiri tanpa kuawasi.
Kembali ke perlombaan tadi, mereka nda maksimal. Bahkan salah satunya lupa naskah pidato dan nda tahu harus bicara apa. Aku kemudian tersenyum memberi semangat. Dia akhirnya menyelesaikan pidatonya dengan struktur yang lengkap: salam, pembuka, isi, penutup. Kuhampiri dia di tempat duduknya selepas dia turun dari panggung, lalu aku berujar "It's okay. It's okay".
Malam sebelum lomba dia menelpon, dengan minimnya latihan kami (bahkan bisa dibilang aku nda punya waktu melatih mereka), dia mengeluh gusar dan takut. Aku bilang, bahwa semua anak yang pernah ku bawa lomba, nda ada yang optimis, mereka selalu merasa kalah duluan (bahkan pernah ada yang mengusulkan,
"Bu, gimana kalau kita kabur aja dari arena") tapi pantang bagi kita untuk menyerah sebelum mencoba. Bahkan para juara yang pernah kubawa, selalu pesimis duluan di depan. Ketika mereka memegang tropi mereka, disitu aku berkata, "Inikah yang kamu bilang kita PASTI kalah?" dan mereka akan tersenyum malu.
Di percakapan via telpon aku terus membesarkan hatinya. Terus. Sampai dia tenang. Lalu percakapanpun kami akhiri.
Di akhir tulisan ini, aku akan membagikan, apa saja yang aku tekankan pada anak-anak kalau mereka lagi lomba:
1. Sportif
Jangan pernah melakukan kecurangan. Kecurangan nda akan membawa keberkahan. Kita akan kalah dengan memalukan jika kita curang dan meskipun menang, kita akan menang tetapi tetap dalam kehinaan.
2. Jujur
Dalam lomba menulis, berpidato atau menjadi duta atau perlombaan yang melibatkan tulisan, aku memberikan pantangan besar ke mereka. Jangan plagiat milik orang lain. Seminim apapun kemampuan menulis kalian, naskah itu harus hasil bikinan kalian sendiri. Kalau mengambil di internet, harus menyertakan sumber.
3. Jangan sombong
sombong sama seperti kecurangan, ia akan jadi batu kerikil yang akan menyandung kaki kita.
4. Jangan kabur sebelum mencoba
Sejelek apapun hasil mereka atau penampilan mereka, aku pasti akan bilang "Kalian hebat, kalian sudah berusaha, dan ibu bangga. Kalian memang pemberani"
5. Belajar, membaca, dan latihan yang dijalani dengan keseriusan adalah utama sebelum berlomba
6. Ketika semua usaha maksimal sudah dilakukan, saatnya kita berdo'a dan bersyukur atas kesempatan lomba yang sudah diberikan ke diri kita.
Hingga dua tahun di setiap event lomba, aku hampir selalu pergi dengan anak-anak. Setiap kami pulang dengan tangan hampa, aku selalu membesarkan hati anak-anak. Kadang kebahagiaan kami hanya sesederhana nasi kotak yang kami dapatkan dari panitia lomba, atau sesederhana semangkuk bakso traktiranku, bahkan sesederhana segelas es capcin dingin yang juga kubelikan buat mereka. Seolah gusar dan lelah sehabis lomba langsung terhapus dengan sederet makanan murah sederhana tersebut.
Dan bila menang lomba, kebahagiaan kami bertambah-tambah, sorak mereka terdengar tumpah, dan aku merasa luar biasa bangga pada mereka.
Hari ini, lomba pidato telah kami jalani, hatiku gusar di sekolah, karena sangat jarang aku melepas mereka lomba sendirian. Anak-anak kami sebenarnya anak-anak mandiri dan dewasa, percaya diri dan mudah membaur di keramaian, tapi biasanya, tanpa guru pendamping, mereka seperti kehilangan sesuatu. Maka sesempat-sempatnya di tengah perutku yang sakit melilit, di tengah jam mengajarku yang kosong di sekolah yang satunya, aku izin keluar sekolah untuk melihat anak-anak tanding. Sampai disana, benar saja, mata mereka menatapku dengan binar bahagia dan lega.
Dulu waktu SMP, aku mengikuti lomba mata pelajaran IPS, olimpiade biologi, dan lomba siswa teladan, kehadiran guru pendamping, guruku pribadi, sangat sangat penting. Tanpa guruku, aku tidak akan bisa tersenyum. Sebodo amat anak-anak lain, sekolah-sekolah lain yang nda didampingi oleh gurunya, yang penting guruku harus terlihat batang hidungnya. Dan kalau sudah ada guru, biarpun beliau berdiri jauh di ujung sana, asik masyuk ngobrol dengan orang lain, rasanya tuh kayak energi ribuan kuda mengalir di dalam darah. Rasa senaaaang sekali ditunggui. Padahal cuma ditunggui aja loh. Ketika akhirnya aku ikut dikirim tanding ke Samarinda, guruku dulu nda ikut. Adanya guru pendamping dari sekolah lain. Baik sih ibunya dan bapaknya. Baik banget malah. Tapi tetap aja aku nda bersemangat. Aku jadi ogah-ogahan belajar dan lebih banyak melamun. berdasarkan pengalamanku itulah, jarang sekali aku membiarkan muridku tanding sendiri tanpa kuawasi.
Kembali ke perlombaan tadi, mereka nda maksimal. Bahkan salah satunya lupa naskah pidato dan nda tahu harus bicara apa. Aku kemudian tersenyum memberi semangat. Dia akhirnya menyelesaikan pidatonya dengan struktur yang lengkap: salam, pembuka, isi, penutup. Kuhampiri dia di tempat duduknya selepas dia turun dari panggung, lalu aku berujar "It's okay. It's okay".
Malam sebelum lomba dia menelpon, dengan minimnya latihan kami (bahkan bisa dibilang aku nda punya waktu melatih mereka), dia mengeluh gusar dan takut. Aku bilang, bahwa semua anak yang pernah ku bawa lomba, nda ada yang optimis, mereka selalu merasa kalah duluan (bahkan pernah ada yang mengusulkan,
"Bu, gimana kalau kita kabur aja dari arena") tapi pantang bagi kita untuk menyerah sebelum mencoba. Bahkan para juara yang pernah kubawa, selalu pesimis duluan di depan. Ketika mereka memegang tropi mereka, disitu aku berkata, "Inikah yang kamu bilang kita PASTI kalah?" dan mereka akan tersenyum malu.
Di percakapan via telpon aku terus membesarkan hatinya. Terus. Sampai dia tenang. Lalu percakapanpun kami akhiri.
Di akhir tulisan ini, aku akan membagikan, apa saja yang aku tekankan pada anak-anak kalau mereka lagi lomba:
1. Sportif
Jangan pernah melakukan kecurangan. Kecurangan nda akan membawa keberkahan. Kita akan kalah dengan memalukan jika kita curang dan meskipun menang, kita akan menang tetapi tetap dalam kehinaan.
2. Jujur
Dalam lomba menulis, berpidato atau menjadi duta atau perlombaan yang melibatkan tulisan, aku memberikan pantangan besar ke mereka. Jangan plagiat milik orang lain. Seminim apapun kemampuan menulis kalian, naskah itu harus hasil bikinan kalian sendiri. Kalau mengambil di internet, harus menyertakan sumber.
3. Jangan sombong
sombong sama seperti kecurangan, ia akan jadi batu kerikil yang akan menyandung kaki kita.
4. Jangan kabur sebelum mencoba
Sejelek apapun hasil mereka atau penampilan mereka, aku pasti akan bilang "Kalian hebat, kalian sudah berusaha, dan ibu bangga. Kalian memang pemberani"
5. Belajar, membaca, dan latihan yang dijalani dengan keseriusan adalah utama sebelum berlomba
6. Ketika semua usaha maksimal sudah dilakukan, saatnya kita berdo'a dan bersyukur atas kesempatan lomba yang sudah diberikan ke diri kita.
Komentar
Posting Komentar