Menghukum Diri Sendiri
Hari Sabtu, aku memutuskan untuk menjenguk salah satu murid. Aku bertanya ke teman-temannya, sudahkah mereka menjenguk si murid? Mereka bilang, belum. Jadi akhirnya aku dan murid yang lain memutuskan untuk pergi menjenguk di hari Minggu jam 9 pagi. Tempat pertemuan kami, kami sepakati di depan Pondok Pesantren Al Kholil.
Hari Minggu, jam 9 pagi aku baru jalan. Aku mengakui bahwa aku terlambat. Aku mampir di toko untuk membeli kue dan minuman lalu menunggu di tempat yang telah di tentukan. Aku tiba jam 09.15. Artinya aku terlambat 15 menit. Tapi wajah murid yang kutunggu-tunggu tidak kelihatan.
Karena tempatku menunggu adalah tempat strategis yang ramai, maka akhirnya aku malu. Rasanya aku mau marah, padahal aku yang salah. Aku terlambat 15 menit dan sekarang baru saja menunggu 2 menit, rasanya sudah kayak menunggu selama 2 tahun. Akupun berpindah tempat, ke tempat yang tidak terlalu mencolok mata. Aku pindah ke seberang Pondok Pesantren Al Kholil. Dan disanalah hukumanku dimulai.
Aku menunggu dengan sabar, meskipun tanganku nda henti-hentinya melirik jam tangan. Entah mengapa aku yakin, si murid yang ku ajak menjenguk ini, memang belum sampai ke tempat janjian kami. Dan karena aku mengakui bahwa aku salah. Jadi aku memutuskan untuk bersabar 15 menit menunggu. Karena aku juga tadi terlambat 15 menit. Aku pikir ini hukuman yang setimpal. Aku yang benci menunggu akan merasakan perasaan yang dialami oleh orang lain jika kita tidak tepat waktu.
Lima belas menit pun berlalu. Kini aku murni menunggu. Aku ingat aku memberikan no ponselku ke muridku, tapi aku gagal mendapatkan no ponselnya karena dia tidak hapal (aku minta no ponselnya ketika kami di dalam kelas). Kini harapanku satu-satunya adalah berdo'a supaya dia berbelas kasihan datang dalam waktu paling tidak 30 menit kemudian.
Lima belas menit kemudian, punggungku sudah mulai menghangat akibat sinar matahari pagi yang merangkak naik. Aku juga pelan-pelan mulai berkeringat dan lusuh. Aku masih sabar menunggu. Aku diam-diam meresapi penderitaanku yang menunggu di pinggir jalan di sapu debu dan polusi, dihangatkan sinar matahari, dan jadi santapan pemandangan orang-orang yang berlalu lalang. Saking lamanya, aku bahkan sampai berteman dengan penjual nasi kuning yang ada di dekat ku.
Sepuluh menit kemudian, aku baru terpikir untuk kirim pesan singkat ke mantan wali kelas si anak yang dulu. Siapa tahu mantan wali kelasnya punya no ponsel si anak. Akupun kirim pesan. Sayangnya, habis mengirim pesan, ponselku low batt, layarnya jadi sangat gelap. Aku pikir, ponsel itu sudah mati. Pupus harapanku dapat no si anak. Lagi-lagi aku berharap semoga anak itu masih ingat bahwa kami janjian jam 9 pagi.
Tepat jam 10 pagi, yang ada aku dan ibu penjual nasi kuning sudah mulai curhat. Kalau saja ibu penjual nasi kuning ini adalah seorang pemuda rajin sholat, gagah, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, pasti kami sudah saling jatuh cinta saking lamanya aku menunggu disana.
Jam 10 lewat 5 menit. Aku sudah benar-benar muak tapi aku memutuskan menunggu hingga pas 1 jam. Jadi aku memutuskan menunggu 10 menit lagi. Ibu penjual nasi kuning sudah membujuk aku supaya berteduh di bawah payung dagangnya. Aku pun menurut.
Jam 10 lewat 10, Aku mengobrol dengan keluarga si ibu penjual nasi kuning. Lagi-lagi, kalau saja ibu penjual nasi kuning ini adalah seorang pemuda, mungkin saat itu aku sudah dilamar, saking lamanya aku bahkan mengobrol dengan keluarga si ibu penjual nasi kuning.
Tepat jam 10 lewat 15 menit, 1 jam aku menunggu, aku pamit pergi sama ibu penjual nasi kuning dan satu ibu lainnya. Aku memutuskan nekad menjenguk muridku sendiri meskipun alamatnya aku masih meraba-raba. Aku mengelilingi Limunjan (nama tempat), mengingat-ngingat setiap detil informasi yang ku punya. Aku nyasar tapi aku nda menyerah. Akhirnya, aku menemukan rumah si anak. Datang. Mengobrol sebentar lalu pulang.
Di perjalanan pulang, aku sebenarnya kecewa karena peristiwa menunggu tadi pagi. Aku memutuskan untuk jangan langsung pulang ke rumah dalam keadaan kecewa. Aku pergi ke kedai makanan ringan, minum jus dan makan tahu bumbu. Sambil mikir, sambil juga melamun, sambil juga menenangkan diri. Ketika aku sudah baik-baik saja, akupun meninggalkan kedai itu.
Sampai rumah ponselku berbunyi. Aku pikir mati. Aku cepat-cepat ke kamar untuk ngecharge ponsel. Ternyata panggilan telpon dari temanku. Disitu juga ada sms dari temanku, dia bilang, dia punya no ponsel si anak tapi si anak mau pergi ke acara dulu baru pergi jenguk. Ada juga sms si anak menanyakan, jadi tidaknya pergi menjenguk.
Aku menghela nafas setengah kesal setengah sabar. Aku balasi, alih-alih menjawab pertanyaanya, aku malah menyuruh dia untuk pulang saja dan istirahat.
Aku nda mau marah-marah disms. Aku nda mau bilang bahwa, "Ngapain kamu berjanji ketemu sama gurumu jam 9 pagi tapi kamu malah ikut acara lain jam segitu dan nda mengabari gurumu? Kenapa kamu membiarkan ibu menunggu selama satu jam, padahal kamu tahu ibu nda punya no ponselmu? Kenapa kamu menerima janji lain di atas janji dengan ibu, padahal kemarin ibu sudah tanya ke kamu kamu punya acara apa engga dan kamu jawab gak punya acara apa-apa, tapi kenyataannya kamu malah punya acara? Jika memang kamu mau mengundur janji, kenapa kamu gak menghubungi ibu padahal kamu sudah punya no ponsel ibu? Kenapa kamu ingkar janji? Kenapa kamu tidak tepat waktu? Kenapa kamu tidak bertanggung jawab? Sampai 45 menit berlalu ibu masih berpositif thinking kepadamu, ibu percaya kamu, tapi sekarang bagaimana lagi caranya bagi kamu untuk mengembalikan kepercayaan ibu? Apakah kamu pikir janji itu permainan? Apakah kamu pikir kata-kata ibu untuk menunggu kamu jam 9 pagi itu adalah hal yang tidak penting? Kenapa baru kabari ibu justru setelah ibu meminta no ponselmu dari orang lain???? Kenapa?"
Tapi aku nda bilang begitu. Aku diam saja. Aku bahkan nda bilang bahwa aku sudah pergi jenguk duluan.
Aku anggap hari ini aku hanya sedang menghukum diri sendiri. Karena sebelum-sebelumnya aku selalu lelet dan terlambat. Aku akan menjadikan hari ini sebagai pelajaran. Aku juga mulai sekarang memilih untuk datang tepat waktu. Dan memilih untuk tidak mengingkari janji sekecil apapun itu.
Hari Minggu, jam 9 pagi aku baru jalan. Aku mengakui bahwa aku terlambat. Aku mampir di toko untuk membeli kue dan minuman lalu menunggu di tempat yang telah di tentukan. Aku tiba jam 09.15. Artinya aku terlambat 15 menit. Tapi wajah murid yang kutunggu-tunggu tidak kelihatan.
Karena tempatku menunggu adalah tempat strategis yang ramai, maka akhirnya aku malu. Rasanya aku mau marah, padahal aku yang salah. Aku terlambat 15 menit dan sekarang baru saja menunggu 2 menit, rasanya sudah kayak menunggu selama 2 tahun. Akupun berpindah tempat, ke tempat yang tidak terlalu mencolok mata. Aku pindah ke seberang Pondok Pesantren Al Kholil. Dan disanalah hukumanku dimulai.
Aku menunggu dengan sabar, meskipun tanganku nda henti-hentinya melirik jam tangan. Entah mengapa aku yakin, si murid yang ku ajak menjenguk ini, memang belum sampai ke tempat janjian kami. Dan karena aku mengakui bahwa aku salah. Jadi aku memutuskan untuk bersabar 15 menit menunggu. Karena aku juga tadi terlambat 15 menit. Aku pikir ini hukuman yang setimpal. Aku yang benci menunggu akan merasakan perasaan yang dialami oleh orang lain jika kita tidak tepat waktu.
Lima belas menit pun berlalu. Kini aku murni menunggu. Aku ingat aku memberikan no ponselku ke muridku, tapi aku gagal mendapatkan no ponselnya karena dia tidak hapal (aku minta no ponselnya ketika kami di dalam kelas). Kini harapanku satu-satunya adalah berdo'a supaya dia berbelas kasihan datang dalam waktu paling tidak 30 menit kemudian.
Lima belas menit kemudian, punggungku sudah mulai menghangat akibat sinar matahari pagi yang merangkak naik. Aku juga pelan-pelan mulai berkeringat dan lusuh. Aku masih sabar menunggu. Aku diam-diam meresapi penderitaanku yang menunggu di pinggir jalan di sapu debu dan polusi, dihangatkan sinar matahari, dan jadi santapan pemandangan orang-orang yang berlalu lalang. Saking lamanya, aku bahkan sampai berteman dengan penjual nasi kuning yang ada di dekat ku.
Sepuluh menit kemudian, aku baru terpikir untuk kirim pesan singkat ke mantan wali kelas si anak yang dulu. Siapa tahu mantan wali kelasnya punya no ponsel si anak. Akupun kirim pesan. Sayangnya, habis mengirim pesan, ponselku low batt, layarnya jadi sangat gelap. Aku pikir, ponsel itu sudah mati. Pupus harapanku dapat no si anak. Lagi-lagi aku berharap semoga anak itu masih ingat bahwa kami janjian jam 9 pagi.
Tepat jam 10 pagi, yang ada aku dan ibu penjual nasi kuning sudah mulai curhat. Kalau saja ibu penjual nasi kuning ini adalah seorang pemuda rajin sholat, gagah, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, pasti kami sudah saling jatuh cinta saking lamanya aku menunggu disana.
Jam 10 lewat 5 menit. Aku sudah benar-benar muak tapi aku memutuskan menunggu hingga pas 1 jam. Jadi aku memutuskan menunggu 10 menit lagi. Ibu penjual nasi kuning sudah membujuk aku supaya berteduh di bawah payung dagangnya. Aku pun menurut.
Jam 10 lewat 10, Aku mengobrol dengan keluarga si ibu penjual nasi kuning. Lagi-lagi, kalau saja ibu penjual nasi kuning ini adalah seorang pemuda, mungkin saat itu aku sudah dilamar, saking lamanya aku bahkan mengobrol dengan keluarga si ibu penjual nasi kuning.
Tepat jam 10 lewat 15 menit, 1 jam aku menunggu, aku pamit pergi sama ibu penjual nasi kuning dan satu ibu lainnya. Aku memutuskan nekad menjenguk muridku sendiri meskipun alamatnya aku masih meraba-raba. Aku mengelilingi Limunjan (nama tempat), mengingat-ngingat setiap detil informasi yang ku punya. Aku nyasar tapi aku nda menyerah. Akhirnya, aku menemukan rumah si anak. Datang. Mengobrol sebentar lalu pulang.
Di perjalanan pulang, aku sebenarnya kecewa karena peristiwa menunggu tadi pagi. Aku memutuskan untuk jangan langsung pulang ke rumah dalam keadaan kecewa. Aku pergi ke kedai makanan ringan, minum jus dan makan tahu bumbu. Sambil mikir, sambil juga melamun, sambil juga menenangkan diri. Ketika aku sudah baik-baik saja, akupun meninggalkan kedai itu.
Sampai rumah ponselku berbunyi. Aku pikir mati. Aku cepat-cepat ke kamar untuk ngecharge ponsel. Ternyata panggilan telpon dari temanku. Disitu juga ada sms dari temanku, dia bilang, dia punya no ponsel si anak tapi si anak mau pergi ke acara dulu baru pergi jenguk. Ada juga sms si anak menanyakan, jadi tidaknya pergi menjenguk.
Aku menghela nafas setengah kesal setengah sabar. Aku balasi, alih-alih menjawab pertanyaanya, aku malah menyuruh dia untuk pulang saja dan istirahat.
Aku nda mau marah-marah disms. Aku nda mau bilang bahwa, "Ngapain kamu berjanji ketemu sama gurumu jam 9 pagi tapi kamu malah ikut acara lain jam segitu dan nda mengabari gurumu? Kenapa kamu membiarkan ibu menunggu selama satu jam, padahal kamu tahu ibu nda punya no ponselmu? Kenapa kamu menerima janji lain di atas janji dengan ibu, padahal kemarin ibu sudah tanya ke kamu kamu punya acara apa engga dan kamu jawab gak punya acara apa-apa, tapi kenyataannya kamu malah punya acara? Jika memang kamu mau mengundur janji, kenapa kamu gak menghubungi ibu padahal kamu sudah punya no ponsel ibu? Kenapa kamu ingkar janji? Kenapa kamu tidak tepat waktu? Kenapa kamu tidak bertanggung jawab? Sampai 45 menit berlalu ibu masih berpositif thinking kepadamu, ibu percaya kamu, tapi sekarang bagaimana lagi caranya bagi kamu untuk mengembalikan kepercayaan ibu? Apakah kamu pikir janji itu permainan? Apakah kamu pikir kata-kata ibu untuk menunggu kamu jam 9 pagi itu adalah hal yang tidak penting? Kenapa baru kabari ibu justru setelah ibu meminta no ponselmu dari orang lain???? Kenapa?"
Tapi aku nda bilang begitu. Aku diam saja. Aku bahkan nda bilang bahwa aku sudah pergi jenguk duluan.
Aku anggap hari ini aku hanya sedang menghukum diri sendiri. Karena sebelum-sebelumnya aku selalu lelet dan terlambat. Aku akan menjadikan hari ini sebagai pelajaran. Aku juga mulai sekarang memilih untuk datang tepat waktu. Dan memilih untuk tidak mengingkari janji sekecil apapun itu.
Komentar
Posting Komentar