Menempatkan Diri
Aku masih ingat, percakapan singkat tadi siang di sekolah. Seorang teman, guru laki-laki (beliau ini padahal punya pengalaman kerja di kampungnya dulu, mengajar mencabang di SMA dan SMP, juga pengajar di lembaga bimbingan belajar), membuat aku melongo dan setengah kecewa, setengah nda percaya.
Semuanya bermula saat aku menceritakan apa yang diceritakan oleh anak kelasku, saat mereka berlebaran ke rumah.
"Bu, Si A nda sopan sama pak B, masa' si A suka kasar sama bapak B"lapor anak muridku,
"Becandaan aja, kali" sahutku
"Nda, bu, sering juga si A dan si C kayak ngusir bapak dari kelas. Dan wajah mereka nda menunjukkan tawa sama sekali juga nda menunjukkan kalau mereka bercanda" tambahnya pula meyakinkan aku
"Iya bu, kadang kami kasian sama pak B" sergah yang lain.
"Pernah juga bu, bebantah-bantahan sama pak B tapi pak B diam aja diperlakukan seperti itu"
Sampai sini aku cukup kesal. Pasalnya, aku wali kelasnya, aku tahu ini bukan fitnah dan hasutan, dan anak yang disebutkan tadi, memang sudah ku ketahui benar tabiatnya. Aku juga nda habis pikir terhadap pak B yang diperlakukan nda sopan oleh muridnya seperti ini tapi nda pernah menceritakannya ke aku. Seiring pengalaman mengajarku yang semakin bertambah walaupun sedikit, tata krama kepada guru bukanlah perkara yang bisa dianggap remeh. Membiarkan dan membela anak murid kita yang berlaku tidak sopan ke gurunya, bukan membawa kebaikan tapi malah ketidakberkahan, bukan ke kita tapi ke murid itu sendiri.
Nah, kembali ke percakapan singkat tadi siang, mumpung ketemu dengan pak B sehabis rapat, aku pun bertanya ke pak B. Yang bikin melongo, setengah kecewa dan setengah nda percaya, pak B menganggap perlakuan anak-anak tersebut sebagai bentuk candaan dan dia juga berkata bahwa dia nda pernah berespektasi tinggi soal rasa hormat (baca: nda gila hormat).
Apa yang ada dipikiran guru yang ada di depanku ini? Tiba-tiba aku merasa tanganku memanas, hatiku juga sakit. Bagiku, sebagai guru kita harusnya tahu apa saja yang harus kita ajarkan pada anak didik kita. Bukan cuma mata pelajaran di sekolah tapi juga tata krama dan rasa hormat kepada guru.
Bukan saatnya untuk menjadi orang yang super duper sabar, bukan tempatnya untuk menjadi humble, ketika kita membiarkan diri kita diremehkan murid. Pun bukan berarti kita sok tua, sok berkuasa dan sok minta dihormati ketika kita marah saat diremehkan murid.
Jujur, dulu aku punya pemikiran yang sama persis dengan pak B ini. Aku membiarkan murid-muridku bercanda terlalu berlebihan denganku, aku juga membiarkan mereka untuk menempatkan diri sejajar denganku di setiap kondisi, aku memaklumi setiap kekurangajaran mereka padaku dengan dalih mendidik harus sabar dan murni dengan kelemahlembutan dan toleransi tanpa batas.
Dan setelah itu apa yang terjadi? Ketika anak-anakku itu tumbuh dewasa, mereka memiliki karakter yang buruk, mereka menganggap hal ini biasa, mereka miskin tata krama, dan itu akibat DIDIKANKU. Hatiku hancur bahwa keegoisanku yang nda mau mengikuti saran rekan-rekan guru itu, ternyata berbuah pahit. Dari situ aku sadar bahwa TEGAS bukan buat kita, TEGAS itu buat murid kita.
Mendidik itu juga melalui cara kita memperlakukan anak-anak kita. Kalau kita memaklumi saja buruknya tata krama mereka ke kita, bukankah sama saja kita membenarkan mereka memiliki buruknya tata krama ke orang lain?
Mendidik itu juga melalui cara kita memperlakukan anak-anak kita. Kalau kita memaklumi saja buruknya tata krama mereka ke kita, bukankah sama saja kita membenarkan mereka memiliki buruknya tata krama ke orang lain?
Kalau kita membenarkan, memaklumi sesuatu yang tidak baik yang dilakukan oleh murid kita, pantaskah kita masih menjadi guru mereka????
Tempatkanlah diri kita dengan baik di hadapan siswa, itu mengajarkan mereka bagaimana menempatkan diri mereka di masyarakat luas kelak.
Tempatkanlah diri kita dengan baik di hadapan siswa, itu mengajarkan mereka bagaimana menempatkan diri mereka di masyarakat luas kelak.
Jangan takut dibenci murid hanya karena menunjukkan hal yang salah dan meluruskannya ke jalan yang benar.
Komentar
Posting Komentar