Angan-angan Iseng

Waktu aku SMP, sebuah gedung SMA baru, telah rampung dibangun tetapi belum diaktifkan. Letak gedung SMA itu beberapa meter jaraknya dari SMP tempat aku sekolah. Suatu sore, bersama sahabatku Irma, kami memandang ke seberang, ke arah gedung SMA baru yang sunyi itu. Irma duduk di undakan tinggi di samping tiang net. Sambil mengayun-ayunkan kakinya, dia menunjuk ke arah SMA itu dan berkata, "Nanti kalau aku SMA, aku mau sekolah disitu" tunjuknya. Aku mengikuti arah telunjuknya. "Oh, kira-kira bisakah ya aku sekolah di sekolah itu?" tanyaku pula, lebih kepada diri sendiri. Lalu aku melupakannya. Sore itu, berbeda dari temanku, aku hanya melontarkan angan-angan iseng ke udara.
Kenapa? Karena konon katanya sekolah itu adalah sekolah berlabel PLUS. Yang namanya label PLUS, itu dimana-mana susah masuknya. Cuma orang pintar saja yang bisa. Irma, sahabatku sekaligus rivalku di kelas untuk rebutan rolling rangking 1,2,3, kurasa sangat pantas untuk masuk SMA PLUS tersebut. Sedangkan aku tidak. Meskipun aku merupakan salah satu langganan rangking 3 besar di kelasku. Lagipula, kami benar-benar tidak tahu, kapan pastinya sekolah itu akan dibuka. Prediksiku malah 5 tahun kemudian. Tentu saja hanya omong kosong kalau mau masuk sana. Kami nda mungkin daftar kesana. Bukanya aja masih lama. Sempat kami kelas 3 SMA kali baru dibuka, pikirku.
Kenyataannya,
Setahun kemudian, aku resmi bergabung dengan SMA baru tersebut. Angan-angan iseng itu malah jadi kenyataan. Kadang, saat aku memikirkannya, aku terpaku sejenak. Aku merasa aku nda melakukan usaha yang sangat-sangat keras, tapi aku masuk ke dalam sekolah dimana teman-teman sekolah lain yang kutemui di olimpiade zaman aku SMP, terkumpul kembali.

Demikian juga waktu suatu hari, aku pergi ke sebuah SMA tempat temanku mengajar. Saat itu aku pertama kali menjejakkan kakiku di SMA tersebut sebagai orang asing. Aku datang dengan tujuan mempromosikan acara yang akan kami adakan ke sekolah-sekolah. Dengan kikuk aku masuk dan di sambut ramah. Aku presentasi sederhana di depan anak-anak yang berhasil dikumpulkan. Selesai urusanku, sebelum aku benar-benar keluar dari areal sekolah itu, aku menoleh sesaat ke arah sekolah dan bertanya iseng di dalam hati, "Bagaimana ya kalau seandainya aku mengajar disini?" Lalu aku melupakannya. Pagi itu, aku lagi-lagi hanya melontarkan angan-angan iseng ke udara.
Kenapa? Karena aku yakin aku nda akan punya kesempatan mengajar disana. Aku cuma fresh graduated yang baru saja diterima mengajar di sekolah swasta baru. Kemampuan dan pengalamanku juga belum mumpuni. Aku masih bodoh dan sekolahan ini terlalu besar. Dengan guru-guru yang sangat capable dan cakap dibidangnya. Dan aku juga tidak berniat sama sekali untuk mengajukan diri sebagai guru di sekolah ini.
Kenyataannya,
Setahun kemudian, ketika aku setahun mengabdi di sekolahku, aku juga resmi bergabung sebagai tenaga pendidik di SMA yang pernah kudatangi ini. Angan-angan iseng itu malah jadi kenyataan. Ketika aku memikirkannya kembali, aku sering bergidik sendiri. Aku merasa tidak menaruh niat bergabung di SMA ini sebelumnya, tapi justru kini aku masuk ke dalam deretan pengajar di SMA ini, bahkan kini aku menjadi salah satu wali kelas di SMA ini.
MashaAllah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Guru Baru, Guru Muda