Postingan

I Live Alone and I Leave My Parents Alone

Waktu aku ikut tes pegawai tidak tetap untuk guru muatan lokal jenjang SD, aku gak pernah yakin untuk benar-benar terjaring di dalam 120 orang pendidik yang dicari. Kenyataannya, aku tersangkut di antara 120 orang itu. Sewaktu kami dikumpulkan dalam sebuah acara resmi pembagian surat penugasan dimana kami akan ditempatkan, lagi-lagi aku gak menyangka akan ditempatkan di sebuah sekolah yang letaknya di kampung. Jarak perjalanan dari rumahku ke kampung tempatku bertugas bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan, gak terlalu jauh tapi gak juga bisa dibilang dekat. Tentu saja, dengan jarak segitu, aku harus tinggal di kampung tersebut. Seiring persiapan kepindahanku ke kampung, aku ingat sesuatu yang kemudian membuat aku perlahan-lahan ngerasa senang banget dan antusias. Ini tuh kayak, impian yang jadi nyata. Ya. Kayak gitu rasanya. Kenapa? Karena semenjak setahun yang lalu aku mengenal program variety show Korea yang berjudul "Na Honja Sanda" (I Live Alone), aku jadi ikut...

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Hai hai, Assalamualaikum... istirahat dulu ya bikin cerita bersambung The Story of Red Shoes. Soalnya aku gak sanggup nulisnya. Lagi gak mood. Kalau dipaksain, gak bagus lah pokoknya. Udah tulisan gak bagus, tambah gak bagus ntar kalau dipaksain hihi. Jadi kita sekarang ngapain? *Kita?? Gue aja kalee* Yap, malam ini bahas film aja ya. Gimana? Suka aja atau suka banget? Hehe. Oke ku mulai aja ya. Malam ini ku mau nge-review film yang baru aku dapat dari hasil keringat banting tulang susah payah diri sendiri *yeiyy lebayy*. Film ini ya aku jagokan soalnya aku gak nyari berdasarkan rekomendasi dari artikel di om Google (salah satu kebiasaanku) ataupun rekomendasi temen. Aku juga sebelum nonton ni film, gak menyengaja mencari review-an nya di internet. Murni aku dapat dari hasil ngobok-ngobok situs film online dan kemudian nonton berdasarkan feeling diawal bahwa ini film bakal asik. Kenyataannya, sesuai dengan ekspektasiku. Melampaui bahkan. Dalam mereview film ini, aku te...

Sedikit Oleh-oleh dari Kedai Es Krim

Aku duduk di salah satu kedai es krim paling es krim di kotaku. Bersama seorang gadis yang menurutku luar biasa. Di hadapan kami ada seporsi es krim dengan gaya taco, sepiring kentang goreng, green tea milkshake dengan es krim vanilla di atasnya dan sebotol air mineral. "Ki" ujarnya, bangkit dari posisi nyendernya di dinding "Seandainya, kamu ditawarin kerja, katakanlah jadi manager, dengan gaji 10 juta, apa yang akan kamu lakukan?" ujarnya aku senyum dikulum, memainkan sendok di gelas green tea milkshakeku, dan menyendok sedikit es krim "Aku akan nolak. Karena aku gak capable" kataku jujur dan yakin. Yakin yang pesimis sebenarnya haha. "Gini...gini" ulangnya tak sabar "Misalnya kamu ditawarin nih. Kamu terima gak?" aku tertawa "Terima lah" jawabku sambil menyendok es krim vanilla dan melumerkannya di mulutku. "Kalau aku gini, aku akan terima" katanya "Aku akan bilang, 'Saya bisa'. Kalau dita...

Aku Mengkhawatirkan Anak-anakku...

Aku pernah muda. Aku juga melalui masa SMA. Aku pernah berada dalam posisi sulit dan persaingan yang ketat dengan teman sekelas. Mungkin bedanya aku bukan orang yang berambisi tinggi. Dan tekanan sekuat apapun tak terlalu berpengaruh pada jiwaku yang pada dasarnya jiwa easy going. Aku mungkin memikirkan hinaan, tapi hinaan tak pernah berujung pada berubahnya aku secara massif. Tapi anak-anakku mulai memprihatinkan. Saat mereka masuk dalam pusaran persaingan, mereka marah, mereka kecewa, mereka terperosok ke jurang kemarahan yang membabi-buta, mereka lalu berubah dari anak manis menjadi anak-anak dengan mulut-mulut pengumpat. Mereka juga mulai bergaya yang berbeda dari mereka apa adanya. Mereka mulai berani sombong dan memperolok-olok kecerdasan orang lain. Hanya karena sebelumnya mereka suka diolok-olok ketika tertinggal dalam persaingan kecerdasan kognitif. Bukan cuma satu dua, tapi banyak anak yang mulai berubah. Rupanya aku bukan ibu yang cukup kuat untuk mengatasi segala peruba...

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Pernah gak? Mengalami saat kita nda sengaja mendengar satu buah lagu. Lalu kita anggap angin lalu. Setelah beberapa waktu kemudian tidak terlalu lama dan tidak terlalu dekat jaraknya, kita mendengar lagi lagu yang sama dan kemudian setengah mati mengingat-ngingat layaknya orang amnesia? Kalau pernah, berarti kita pernah senasib. 'Penderitaan' ini kualami minggu lalu. Saat aku lagi asyik-asyiknya menjajal tontonan The Gentlemen of Wolgyesu Tailor Shop, di scene salah satu episode, sebuah potongan lagu muncul dari dalam radio mobil di adegan itu. Sepotong aja. Tapi sudah bikin aku penasaran 3 hari 3 malam. Soalnya penasaran banget tapi apa daya ingatanku nda membuahkan hasil. Jadi jengkel sendiri. Mau dilupakan juga susah. Potongan yang kudengar di telingaku tuh kayak gini: "Nan sarang haji ana" itu aja yang ketangkap telinga. Yap, parahnya itu lagu Korea dan aku bukan orang Korea yang ahli berbahasa Korea. Mamaku ngomel aja kadang harus ku konfirmasi ulang, lah apal...

Hutang dan Janji

Belakangan ini telah terjadi banyak hal di Indonesia. Penistaan Q.S Al-Maidah: 51 dan terorisme di Samarinda, jelas-jelas telah menyedot perhatian. Perhatian yang paling besar memang disedot oleh kasus penistaan Q.S Al-Maidah: 51 oleh seorang petinggi negeri ini. Tapi sekarang, bukan itu yang ingin aku bahas di dalam tulisan sederhana ini. Aku justru akan menceritakan sesuatu yang kemudian menyadarkanku kembali tentang betapa menakjubkannya Islam mengatur urusan muamalah umatnya. Loh? Dimana sambungannya? Sebentar... kenapa tiba-tiba aku terpikir tentang Islam yang menakjubkan? Ya karena dengan kasus penistaan yang mengakibatkan umat turun aksi ke jalan dan karena kasus terorisme gereja (yang notabene pelakunya adalah orang muslim), Islam lantas dijelek-jelekkan. Umatnya pun kembali dituduh sebagai teroris dan barbar. Islam itu bukan kayak gitu. Islam itu sempurna. Dan katakanlah ilmuku terlalu cetek saat aku menuliskan tulisan ini, tapi inilah yang bisa aku sampaikan. Adalah hal y...

Pelupa

Sore ini adalah penutupan kegiatan arisan alumni SMP untuk angkatan kami. Karena sore ini giliranku, akhirnya aku yang bertanggung jawab untuk menentukan tempat arisan kami. Aku memutuskan di sebuah cafe, jalan H. Isa I. Sahabat SMPku bilang, karena ini menjelang malam minggu, kemungkinan cafe tersebut akan penuh. Tak mau mengulang pengalaman kami sebelumnya (dimana waktu itu kami akhirnya cuma kebagian tempat di teras rumah makan, gara-gara gak tahu kalau harus reservasi), akhirnya temanku menyarankan untuk reservasi dulu. Pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, aku yang kebetulan rutenya melewati cafe yang dimaksud, akhirnya singgah. Dengan lusuh habis pulang kerja dan bau matahari. Aku mereservasi satu meja untuk kami pakai arisan. Kebetulan aku langsung berhadapan dengan seseorang yang aku yakini sebagai ownernya. Dengan ramah dia menjelaskan. Lalu tibalah saat dia mulai mencatat jam pemakaian dan no meja yang akan ku reservasi, terjadilah dialog berikut ini: "Jadi, mbak ma...