I Live Alone and I Leave My Parents Alone
Waktu aku ikut tes pegawai tidak tetap untuk guru muatan lokal jenjang SD, aku gak pernah yakin untuk benar-benar terjaring di dalam 120 orang pendidik yang dicari. Kenyataannya, aku tersangkut di antara 120 orang itu.
Sewaktu kami dikumpulkan dalam sebuah acara resmi pembagian surat penugasan dimana kami akan ditempatkan, lagi-lagi aku gak menyangka akan ditempatkan di sebuah sekolah yang letaknya di kampung. Jarak perjalanan dari rumahku ke kampung tempatku bertugas bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan, gak terlalu jauh tapi gak juga bisa dibilang dekat. Tentu saja, dengan jarak segitu, aku harus tinggal di kampung tersebut.
Seiring persiapan kepindahanku ke kampung, aku ingat sesuatu yang kemudian membuat aku perlahan-lahan ngerasa senang banget dan antusias. Ini tuh kayak, impian yang jadi nyata. Ya. Kayak gitu rasanya. Kenapa? Karena semenjak setahun yang lalu aku mengenal program variety show Korea yang berjudul "Na Honja Sanda" (I Live Alone), aku jadi ikutan terobsesi pingin ngerasain gimana rasanya tinggal sendiri, ngurusin pembayaran listrik dan air sendiri, ngatur rumah dan dapur sendiri, membangun perpustakaan mini sendiri, bersih-bersih sendiri dan menerapkan peraturan rumah sendiri. Dengan aku hidup di kampung otomatis aku akan hidup sendiri persis seperti apa yang aku jalani beberapa tahun yang lalu saat aku ngekos untuk kuliah.
Begitu tahu, bahwa di kampung punya beberapa keterbatasan, dengan rasa kekhawatiran yang wajar, aku lagi-lagi tetap bersyukur karena dengan beberapa keterbatasan ini aku ngerasa aku akan menjadi gadis yang semakin kuat. Aku percaya banget bahwa kesulitan hidup akan menempaku menjadi seseorang yang lebih kuat dan mandiri. Aku kemudian membayangkan aku bisa kerja dengan tenang, tambah sehat dengan udara kampung yang segar, bisa dapetin berat badan yang ideal karena di kampung kan gak ada gerai makanan yang enak-enak dan di kampung fix cuma didominasi sama makanan yang sederhana buatan rumah sendiri. Aku bisa jadi gadis yang rapi, pintar masak, langsing, dan semakin mandiri. Ya. Aku ngerasa senang banget dong dengan semua yang akan terjadi ini.
Tapi rupanya, semua yang kubayangkan gak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Kedua orang tuaku apalagi dalam hal ini mamaku, ternyata mengubah semuanya hampir 180 derajat.
Tahu penempatanku di sebuah kampung, mama mencampuri hampir seluruh persiapanku. Mulai dari menentukan kapan aja kami akan pergi ke kampung, naik kendaraan apa, menentukan layak gaknya rumah yang kutempati pas kami pindah nanti, menentukan tanggal berapa aku harus mulai tinggal di kampung (padahal yang kerja disana kan aku), mama juga membuat acara (gak tanggung-tanggung mama membuat dua kali acara), mama menentukan barang apa aja yang harus kuangkut ke rumah yang akan kutempati di kampung, bahkan mama sendiri yang memilih kualitas tempat tidur apa yang harus kupunya. Mama mengatur semuanya. Membuat aku kehilangan selera bahkan untuk sekedar mempersiapkan badanku sendiri untuk kerja di kampung. Perdebatan demi perdebatan sering terjadi di dalam rumah, bervariasi antara aku dengan mama, kakak perempuanku dengan mama hingga bapak dengan mama. Dan semua tema perdebatan itu adalah soal pekerjaanku ini. Mama semua yang bersikeras. Kepalaku pusing. Aku merasa mengapa semuanya menjadi serba rumit seperti ini?
Gak berhenti sampai disitu, mama juga ternyata berniat untuk tinggal dengan aku. Di kampung. Padahal beliau punya rumah di kota, anak-anaknya yang lain dan semua cucunya ada di kota kami. Cuma aku aja yang hidup terpisah dari mereka, tapi mama punya ide yang sama sekali gak pernah kubayangkan, mama pingin tinggal dengan aku di kampung? Itu artinya mama yang akan masak, mama yang akan mengatur apa aja yang akan kumakan, mama yang akan mengatur letak barang-barangku, mama yang akan mengatur rutinitas hidupku selama disana. Memikirkan sampai disini aja aku sudah cukup emosi. Tapi aku memang mengakui aku jago meredam kemarahan dan kekecewaan jadi aku gak pernah sampai berkata blak-blakan apalagi kasar ke mama.
Nah, pas aku mulai aktif masuk sekolah, aku mulai bisa menerima semunya. Gak apa-apa. Asal mama-bapak senang. Juga aku sangat bersyukur ketika suatu hari aku dibiarkan tinggal sendiri di kampung. Benar-benar sendirian. Semangatku mulai kembali, aku masak sendiri, mengurus diri dan rumah sendiri, bahkan aku bisa uji keberanian sendiri. Di tengah kebanggaan dan kegembiraanku yang bisa kupamerkan, bapak malah mengirim mama untuk menemaniku kembali. Aku kembali kesal. Teman-teman di kantor guru yang tentu aja tahu kapan aja keluargaku datang, karena rumah yang kutempati ada di dalam areal sekolahan, ngetawain aku. Seingatku ada dua kali aku diketawain berjamaah. Imejku sekarang adalah anak mama yang nda bisa mandiri. Aku cuma bisa senyum-senyum pasrah menanggapi tertawaan itu. Wajar aku diketawain, selain karena umurku sudah tak lagi muda, perlakuan orang tuaku yang dianggap sedikit berlebihan, aku juga tinggal di kampung yang rata-rata penduduknya bermatapencaharian petani, pekebun dan nelayan. Orang tua sampai anak-anak semuanya orang-orang pekerja keras dan tentu saja mandiri. Mereka biasa menembus hutan di sore hari dan pergi ke kota dengan berkendaraan sendiri. Sedangkan aku? Mama dan bapak selalu mencoba mempernyaman hidupku dengan fasilitas yang sedikit demi sedikit mereka tambahi, mereka rajin menelpon dan mudah ngambek kalau gak ku telpon balik, mereka mengantar aku dengan mobil keluarga dan kami musti perang dulu saat aku memutuskan untuk pulang ke kampung dengan mengendarai motor sendiri. Jadi ingat jaman aku kuliah gimana di tahun kedua aku dilepaskan sendiri, aku mencicipi kehidupan yang susah. Mengapa pas aku sudah dewasa dan kerja aku justru diperlakukan seperti anak-anak yang gak ngerti apa-apa? Kalau ingat ini suka dongkol sendiri gitu.
Suatu hari, aku pulang ke rumahku, liburan akhir pekan sekolah, aku sepuasnya main internet, di facebook aku membaca satu dua artikel tentang orang tua, aku melihat beberapa gambar berisi kutipan tentang jasa orang tua dan sebuah video iklan yang berkisah tentang seorang nak yang merawat orang tua. Aku merenung dalam-dalam dan tersadar banyak hal udah kulewatkan tanpa kupikirkan matang-matang. Aku melewatkan begitu saja tentang kata-kata mama dan bapakku soal betapa senangnya mereka tinggal di kampung dengan aku. Mereka bilang udaranya segar, suasananya tenang dan mereka sangat senang ada disana. Mama yang punya penyakit diabetespun mengaku bahwa kadar gula darahnya turun kalau beliau tinggal di kampung. Aku juga melewatkan bagaimana bangganya ekspresi wajah mama dan bapakku saat aku lulus meskipun itu cuma seleksi pegawai tidak tetap. Mereka bercerita terus-menerus seolah cerita itu tidak ada habisnya. Aku melewatkan bahwa mereka tampak begitu antusias menyediakan perlengkapanku karena mereka berpikir aku harus bekerja dengan perasaan betah dan tanpa ada kesulitan sedikitpun. Saat aku bisa tidur nyenyak, bangga bisa tidur dalam kesendirian, mereka justru tidak bisa tidur karena khawatir bagaimana aku bisa menghabiskan hari tanpa siapa-siapa di kampung. Aku bahkan mungkin melewatkan, bahwa mungkin mereka ingin menebus perasaan salah dan tak nyaman membiarkanku hidup berdampingan dengan keterbatasan di kampung sementara mereka nyaman dengan fasilitas lengkap di rumah kami di kota. Ya, aku melewatkan itu semua.
Aku akhirnya sadar satu hal, aku ngerasa sedang menjalankan I live alone tapi justru I leave my parents alone. Aku pingin hidup sendiri tapi aku gak sama sekali merasa bahwa aku meninggalkan orangtuaku sendirian. Aku ingin lepas dari mereka, tapi disaat bersamaan mereka tidak ingin melepaskan aku. So what can I do then? yang jelas perasaan haru dan bersalah menyeruak.
Mulai sekarang pas aku menulis tulisan ini, aku gak akan protes lagi soal seberapa banyak mereka pingin ikut nginap ke rumahku di kampung, aku juga gak akan ngerasa malu lagi kalau diketawain teman-teman dan dicap anak mami yang manja. Aku yang awalnya pingin membuktikan kalau aku bisa mandiri dengan meninggalkan orangtuaku dan berniat melarang mereka untuk nginap-nginap di kampung, gak akan lagi ngerasa perlu membuktikan bahwa aku sebenarnya anak mandiri. Aku pikir gak usah. I love my parents. Aku tahu aku pingin banget seperti variety show I Live Alone, biar kelihatan keren, tapi jika aku harus leave my parents alone dan membuat mereka merasa aku sudah meninggalkan mereka, ya mending enggak usah deh. Aku bangga dengan keputusanku ini. Aku gak akan malu lagi dicap apapun. Aku akan terima dengan bangga meski diketawain. Karena aku sayang orangtuaku dan aku baru tahu sudut pandang mereka bahwa mereka ternyata sangat sayang ke aku. So, I will not live alone. I will live with my beloved mama dan bapak. Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan untuk keduanya. Aamiin.
Sambaliung Kota, 27 November 2017
Sewaktu kami dikumpulkan dalam sebuah acara resmi pembagian surat penugasan dimana kami akan ditempatkan, lagi-lagi aku gak menyangka akan ditempatkan di sebuah sekolah yang letaknya di kampung. Jarak perjalanan dari rumahku ke kampung tempatku bertugas bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan, gak terlalu jauh tapi gak juga bisa dibilang dekat. Tentu saja, dengan jarak segitu, aku harus tinggal di kampung tersebut.
Seiring persiapan kepindahanku ke kampung, aku ingat sesuatu yang kemudian membuat aku perlahan-lahan ngerasa senang banget dan antusias. Ini tuh kayak, impian yang jadi nyata. Ya. Kayak gitu rasanya. Kenapa? Karena semenjak setahun yang lalu aku mengenal program variety show Korea yang berjudul "Na Honja Sanda" (I Live Alone), aku jadi ikutan terobsesi pingin ngerasain gimana rasanya tinggal sendiri, ngurusin pembayaran listrik dan air sendiri, ngatur rumah dan dapur sendiri, membangun perpustakaan mini sendiri, bersih-bersih sendiri dan menerapkan peraturan rumah sendiri. Dengan aku hidup di kampung otomatis aku akan hidup sendiri persis seperti apa yang aku jalani beberapa tahun yang lalu saat aku ngekos untuk kuliah.
Begitu tahu, bahwa di kampung punya beberapa keterbatasan, dengan rasa kekhawatiran yang wajar, aku lagi-lagi tetap bersyukur karena dengan beberapa keterbatasan ini aku ngerasa aku akan menjadi gadis yang semakin kuat. Aku percaya banget bahwa kesulitan hidup akan menempaku menjadi seseorang yang lebih kuat dan mandiri. Aku kemudian membayangkan aku bisa kerja dengan tenang, tambah sehat dengan udara kampung yang segar, bisa dapetin berat badan yang ideal karena di kampung kan gak ada gerai makanan yang enak-enak dan di kampung fix cuma didominasi sama makanan yang sederhana buatan rumah sendiri. Aku bisa jadi gadis yang rapi, pintar masak, langsing, dan semakin mandiri. Ya. Aku ngerasa senang banget dong dengan semua yang akan terjadi ini.
Tapi rupanya, semua yang kubayangkan gak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Kedua orang tuaku apalagi dalam hal ini mamaku, ternyata mengubah semuanya hampir 180 derajat.
Tahu penempatanku di sebuah kampung, mama mencampuri hampir seluruh persiapanku. Mulai dari menentukan kapan aja kami akan pergi ke kampung, naik kendaraan apa, menentukan layak gaknya rumah yang kutempati pas kami pindah nanti, menentukan tanggal berapa aku harus mulai tinggal di kampung (padahal yang kerja disana kan aku), mama juga membuat acara (gak tanggung-tanggung mama membuat dua kali acara), mama menentukan barang apa aja yang harus kuangkut ke rumah yang akan kutempati di kampung, bahkan mama sendiri yang memilih kualitas tempat tidur apa yang harus kupunya. Mama mengatur semuanya. Membuat aku kehilangan selera bahkan untuk sekedar mempersiapkan badanku sendiri untuk kerja di kampung. Perdebatan demi perdebatan sering terjadi di dalam rumah, bervariasi antara aku dengan mama, kakak perempuanku dengan mama hingga bapak dengan mama. Dan semua tema perdebatan itu adalah soal pekerjaanku ini. Mama semua yang bersikeras. Kepalaku pusing. Aku merasa mengapa semuanya menjadi serba rumit seperti ini?
Gak berhenti sampai disitu, mama juga ternyata berniat untuk tinggal dengan aku. Di kampung. Padahal beliau punya rumah di kota, anak-anaknya yang lain dan semua cucunya ada di kota kami. Cuma aku aja yang hidup terpisah dari mereka, tapi mama punya ide yang sama sekali gak pernah kubayangkan, mama pingin tinggal dengan aku di kampung? Itu artinya mama yang akan masak, mama yang akan mengatur apa aja yang akan kumakan, mama yang akan mengatur letak barang-barangku, mama yang akan mengatur rutinitas hidupku selama disana. Memikirkan sampai disini aja aku sudah cukup emosi. Tapi aku memang mengakui aku jago meredam kemarahan dan kekecewaan jadi aku gak pernah sampai berkata blak-blakan apalagi kasar ke mama.
Nah, pas aku mulai aktif masuk sekolah, aku mulai bisa menerima semunya. Gak apa-apa. Asal mama-bapak senang. Juga aku sangat bersyukur ketika suatu hari aku dibiarkan tinggal sendiri di kampung. Benar-benar sendirian. Semangatku mulai kembali, aku masak sendiri, mengurus diri dan rumah sendiri, bahkan aku bisa uji keberanian sendiri. Di tengah kebanggaan dan kegembiraanku yang bisa kupamerkan, bapak malah mengirim mama untuk menemaniku kembali. Aku kembali kesal. Teman-teman di kantor guru yang tentu aja tahu kapan aja keluargaku datang, karena rumah yang kutempati ada di dalam areal sekolahan, ngetawain aku. Seingatku ada dua kali aku diketawain berjamaah. Imejku sekarang adalah anak mama yang nda bisa mandiri. Aku cuma bisa senyum-senyum pasrah menanggapi tertawaan itu. Wajar aku diketawain, selain karena umurku sudah tak lagi muda, perlakuan orang tuaku yang dianggap sedikit berlebihan, aku juga tinggal di kampung yang rata-rata penduduknya bermatapencaharian petani, pekebun dan nelayan. Orang tua sampai anak-anak semuanya orang-orang pekerja keras dan tentu saja mandiri. Mereka biasa menembus hutan di sore hari dan pergi ke kota dengan berkendaraan sendiri. Sedangkan aku? Mama dan bapak selalu mencoba mempernyaman hidupku dengan fasilitas yang sedikit demi sedikit mereka tambahi, mereka rajin menelpon dan mudah ngambek kalau gak ku telpon balik, mereka mengantar aku dengan mobil keluarga dan kami musti perang dulu saat aku memutuskan untuk pulang ke kampung dengan mengendarai motor sendiri. Jadi ingat jaman aku kuliah gimana di tahun kedua aku dilepaskan sendiri, aku mencicipi kehidupan yang susah. Mengapa pas aku sudah dewasa dan kerja aku justru diperlakukan seperti anak-anak yang gak ngerti apa-apa? Kalau ingat ini suka dongkol sendiri gitu.
Suatu hari, aku pulang ke rumahku, liburan akhir pekan sekolah, aku sepuasnya main internet, di facebook aku membaca satu dua artikel tentang orang tua, aku melihat beberapa gambar berisi kutipan tentang jasa orang tua dan sebuah video iklan yang berkisah tentang seorang nak yang merawat orang tua. Aku merenung dalam-dalam dan tersadar banyak hal udah kulewatkan tanpa kupikirkan matang-matang. Aku melewatkan begitu saja tentang kata-kata mama dan bapakku soal betapa senangnya mereka tinggal di kampung dengan aku. Mereka bilang udaranya segar, suasananya tenang dan mereka sangat senang ada disana. Mama yang punya penyakit diabetespun mengaku bahwa kadar gula darahnya turun kalau beliau tinggal di kampung. Aku juga melewatkan bagaimana bangganya ekspresi wajah mama dan bapakku saat aku lulus meskipun itu cuma seleksi pegawai tidak tetap. Mereka bercerita terus-menerus seolah cerita itu tidak ada habisnya. Aku melewatkan bahwa mereka tampak begitu antusias menyediakan perlengkapanku karena mereka berpikir aku harus bekerja dengan perasaan betah dan tanpa ada kesulitan sedikitpun. Saat aku bisa tidur nyenyak, bangga bisa tidur dalam kesendirian, mereka justru tidak bisa tidur karena khawatir bagaimana aku bisa menghabiskan hari tanpa siapa-siapa di kampung. Aku bahkan mungkin melewatkan, bahwa mungkin mereka ingin menebus perasaan salah dan tak nyaman membiarkanku hidup berdampingan dengan keterbatasan di kampung sementara mereka nyaman dengan fasilitas lengkap di rumah kami di kota. Ya, aku melewatkan itu semua.
Aku akhirnya sadar satu hal, aku ngerasa sedang menjalankan I live alone tapi justru I leave my parents alone. Aku pingin hidup sendiri tapi aku gak sama sekali merasa bahwa aku meninggalkan orangtuaku sendirian. Aku ingin lepas dari mereka, tapi disaat bersamaan mereka tidak ingin melepaskan aku. So what can I do then? yang jelas perasaan haru dan bersalah menyeruak.
Mulai sekarang pas aku menulis tulisan ini, aku gak akan protes lagi soal seberapa banyak mereka pingin ikut nginap ke rumahku di kampung, aku juga gak akan ngerasa malu lagi kalau diketawain teman-teman dan dicap anak mami yang manja. Aku yang awalnya pingin membuktikan kalau aku bisa mandiri dengan meninggalkan orangtuaku dan berniat melarang mereka untuk nginap-nginap di kampung, gak akan lagi ngerasa perlu membuktikan bahwa aku sebenarnya anak mandiri. Aku pikir gak usah. I love my parents. Aku tahu aku pingin banget seperti variety show I Live Alone, biar kelihatan keren, tapi jika aku harus leave my parents alone dan membuat mereka merasa aku sudah meninggalkan mereka, ya mending enggak usah deh. Aku bangga dengan keputusanku ini. Aku gak akan malu lagi dicap apapun. Aku akan terima dengan bangga meski diketawain. Karena aku sayang orangtuaku dan aku baru tahu sudut pandang mereka bahwa mereka ternyata sangat sayang ke aku. So, I will not live alone. I will live with my beloved mama dan bapak. Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan untuk keduanya. Aamiin.
Sambaliung Kota, 27 November 2017
Komentar
Posting Komentar