Hutang dan Janji
Belakangan ini telah terjadi banyak hal di Indonesia. Penistaan Q.S Al-Maidah: 51 dan terorisme di Samarinda, jelas-jelas telah menyedot perhatian. Perhatian yang paling besar memang disedot oleh kasus penistaan Q.S Al-Maidah: 51 oleh seorang petinggi negeri ini. Tapi sekarang, bukan itu yang ingin aku bahas di dalam tulisan sederhana ini. Aku justru akan menceritakan sesuatu yang kemudian menyadarkanku kembali tentang betapa menakjubkannya Islam mengatur urusan muamalah umatnya. Loh? Dimana sambungannya? Sebentar... kenapa tiba-tiba aku terpikir tentang Islam yang menakjubkan? Ya karena dengan kasus penistaan yang mengakibatkan umat turun aksi ke jalan dan karena kasus terorisme gereja (yang notabene pelakunya adalah orang muslim), Islam lantas dijelek-jelekkan. Umatnya pun kembali dituduh sebagai teroris dan barbar.
Islam itu bukan kayak gitu. Islam itu sempurna. Dan katakanlah ilmuku terlalu cetek saat aku menuliskan tulisan ini, tapi inilah yang bisa aku sampaikan.
Adalah hal yang sangat diperhatikan oleh agama kita, Islam, yaitu tentang hutang dan janji.
Hutang saja begitu dijaga di dalam agama Islam.
"Orang yang mati syahid diampuni semua dosanya, kecuali utang" (HR. Muslim)
Aku akan cerita sedikit, bahwa salah satu murid di sekolah kami beberapa waktu lalu dipanggil Allah SWT. Berapa hari setelah kepergian sang murid, wali kelasnya sibuk mondar-mandir keliling kelas lain dan juga kantin hanya untuk menanyakan utang almarhum sekaligus akan membayarkannya jika memang almarhum ada utang. Ketika itu aku mengajar di kelas sang almarhum dan sang wali kelas masuk ke kelas, meminta waktu untuk berbicara sebentar, dan sang wali kelas kembali bertanya soal utang sang almarhum. Salah satu teman sekelas almarhum, kala itu nyeletuk (kebetulan yang nyeletuk ini adalah nonmuslim), "Wah susah kalau kayak gitu (seakan maksud perkataannya: repot nanyain soal utang satu persatu ke orang lain)"
Aku tersenyum mendengar celetukan yang tentu saja tak terdengar oleh wali kelasnya tersebut. Aku paham, barangkali, tidak semua agama itu benar-benar mengatur ketat masalah hutang-piutang antar sesama manusia. Sementara di agama Islam, utang (yang sering dianggap orang remeh sampai-sampai ada yang gak merasa bersalah saat gak bayar-bayar hehe) saja sangat diperhatikan baik-baik. Karena di agama Islam, utang bahkan bisa menjadi penghalang kita untuk memasuki surga.
Demikian juga janji, kata orang janji adalah utang (nah, lagi-lagi utang)
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu" (Q.S Al-Maidah: 1)
Janji juga merupakan salah satu yang diperhatikan dalam agama Islam. Kalau kita berjanji, maka harus kita tepati.
Itulah mengapa, ku katakan lagi bahwa Islam sangat agung. Sempurna. Menakjubkan.
Aku sendiri bukan orang yang lepas dari utang dan janji. Aku bukan orang suci. Tapi setidaknya dengan kejadian belakangan ini, dengan catatan ini, aku berusaha membatasi diri dari utang dan membayar sedikit demi sedikit utang yang meskipun kalau dilihat nominalnya tidak juga banyak-banyak amat (karena selama ini aku termasuk yang takut sekali berhutang dan tak pernah berhutang dengan nominal yang besar).
Cuma penyakitku satu, aku nda tegaan, sehingga kalau ditodong janji, aku hampir selalu mengiyakan karena ga tegaan dan gak enakan. Sehingga akupun menjadi manusia yang tak lepas pula dari janji. Meskipun janjiku ya janji ala-ala rakyat jelata haha, macam traktiran pas gajian atau macam belikan murid sekotak Beng-beng. Tetap saja janji adalah janji, ya kan?
Sehingga sekarang, akupun berusaha untuk memenuhi janji-janjiku satu persatu. Aku juga sekarang berusaha untuk tidak mudah berjanji. Karena aku akan kepikiran terus.
Eh, omong-omong soal janji, karena ini juga dekat-dekat pilgub, tolong ya bapak-bapak yang nyalon, hati-hati dengan lisan Anda dan hati-hati dengan janji-janji Anda. Karena janji-janjiku yang nda seberapa aja, kadang sudah sampai bikin ga enak tidur, apalagi janji kalian yang berhubungan dengan rakyat yang kalian pimpin. Anda berhutang janji pada rakyat Anda. Karena kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak. Jadi hati-hatilah dalam berhutang dan berjanji.
Islam itu bukan kayak gitu. Islam itu sempurna. Dan katakanlah ilmuku terlalu cetek saat aku menuliskan tulisan ini, tapi inilah yang bisa aku sampaikan.
Adalah hal yang sangat diperhatikan oleh agama kita, Islam, yaitu tentang hutang dan janji.
Hutang saja begitu dijaga di dalam agama Islam.
"Orang yang mati syahid diampuni semua dosanya, kecuali utang" (HR. Muslim)
Aku akan cerita sedikit, bahwa salah satu murid di sekolah kami beberapa waktu lalu dipanggil Allah SWT. Berapa hari setelah kepergian sang murid, wali kelasnya sibuk mondar-mandir keliling kelas lain dan juga kantin hanya untuk menanyakan utang almarhum sekaligus akan membayarkannya jika memang almarhum ada utang. Ketika itu aku mengajar di kelas sang almarhum dan sang wali kelas masuk ke kelas, meminta waktu untuk berbicara sebentar, dan sang wali kelas kembali bertanya soal utang sang almarhum. Salah satu teman sekelas almarhum, kala itu nyeletuk (kebetulan yang nyeletuk ini adalah nonmuslim), "Wah susah kalau kayak gitu (seakan maksud perkataannya: repot nanyain soal utang satu persatu ke orang lain)"
Aku tersenyum mendengar celetukan yang tentu saja tak terdengar oleh wali kelasnya tersebut. Aku paham, barangkali, tidak semua agama itu benar-benar mengatur ketat masalah hutang-piutang antar sesama manusia. Sementara di agama Islam, utang (yang sering dianggap orang remeh sampai-sampai ada yang gak merasa bersalah saat gak bayar-bayar hehe) saja sangat diperhatikan baik-baik. Karena di agama Islam, utang bahkan bisa menjadi penghalang kita untuk memasuki surga.
Demikian juga janji, kata orang janji adalah utang (nah, lagi-lagi utang)
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu" (Q.S Al-Maidah: 1)
Janji juga merupakan salah satu yang diperhatikan dalam agama Islam. Kalau kita berjanji, maka harus kita tepati.
Itulah mengapa, ku katakan lagi bahwa Islam sangat agung. Sempurna. Menakjubkan.
Aku sendiri bukan orang yang lepas dari utang dan janji. Aku bukan orang suci. Tapi setidaknya dengan kejadian belakangan ini, dengan catatan ini, aku berusaha membatasi diri dari utang dan membayar sedikit demi sedikit utang yang meskipun kalau dilihat nominalnya tidak juga banyak-banyak amat (karena selama ini aku termasuk yang takut sekali berhutang dan tak pernah berhutang dengan nominal yang besar).
Cuma penyakitku satu, aku nda tegaan, sehingga kalau ditodong janji, aku hampir selalu mengiyakan karena ga tegaan dan gak enakan. Sehingga akupun menjadi manusia yang tak lepas pula dari janji. Meskipun janjiku ya janji ala-ala rakyat jelata haha, macam traktiran pas gajian atau macam belikan murid sekotak Beng-beng. Tetap saja janji adalah janji, ya kan?
Sehingga sekarang, akupun berusaha untuk memenuhi janji-janjiku satu persatu. Aku juga sekarang berusaha untuk tidak mudah berjanji. Karena aku akan kepikiran terus.
Eh, omong-omong soal janji, karena ini juga dekat-dekat pilgub, tolong ya bapak-bapak yang nyalon, hati-hati dengan lisan Anda dan hati-hati dengan janji-janji Anda. Karena janji-janjiku yang nda seberapa aja, kadang sudah sampai bikin ga enak tidur, apalagi janji kalian yang berhubungan dengan rakyat yang kalian pimpin. Anda berhutang janji pada rakyat Anda. Karena kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak. Jadi hati-hatilah dalam berhutang dan berjanji.
Komentar
Posting Komentar