Karangan Anak Muda Zaman Sekarang

Mei hampir berakhir. Ya ini adalah penghujung tahun pelajaran 2015/2016. Tahun ajaran baru akan segera menyapa. Dan itu berarti kita akan menemukan banyak lagi tamu-tamu baru atau anggota-anggota baru yaitu anak-anak SMP yang mulai menapaki jenjang pendidikan SMA.

Sebagai seorang gadis ku akui aku bukanlah gadis yang rapi. Kamarku lebih sering tak terawat ketimbang terawat. Penyumbang terbesar berantakannya kamarku adalah tak lain kertas-kertas, buku-buku, dan pakaian.

Maka, demi memperbaiki hidup ke arah yang lebih baik, aku mulai disiplin menjaga kerapian kamarku. Status pekerjaanku menjadi motivasi terbesarku untuk selalu disiplin dalam hal apapun termasuk kerapian dan kebersihan.

Salah satu cara merapikan kamar adalah menyingkirkan penyumbang terbesar berantakannya kamarku. Dan penyumbang terbesarnya adalah kertas-kertas. Entah itu kertas kosong, kertas cekeran (kertas bekas yang dipakai untuk coret-coretan), dan kertas bekas tugas-tugas murid-muridku yang sudah diambil nilainya namun kertasnya masih ada di kamarku. Seringnya, untuk beberapa tugas, aku tidak mengembalikan kertas mereka. Aku juga mengumumkan nilai tanpa mengembalikan kertas. Dan setelah kertas itu juga bertumpuk di kamar, anehnya, aku enggan membuangnya.

Karena saat ini akan menjelang tahun ajaran baru, aku pikir saatnya merapikan beberapa kertas tugas dan kertas bekas tersebut. Aku lalu duduk dengan tenang memilah mana yang akan dibuang dan mana yang akan tetap disimpan (karena tidak semua kertas adalah sampah).

Pada setumpukan kertas tugas mengarang bebas berbahasa Indonesia (aku ingat tugas ini dulu ku mainkan untuk mereka yang sudah mengerjakan tugas dengan cepat dan supaya mereka tidak ribut, aku memberikan mereka tugas ekstra), aku menemukan selembar karangan tanpa nama. Dan aku kaget dan tertawa dibuatnya. Karangan ini sangat sederhana, monoton, naif, berani, apa adanya. Dan juga, ngenes di ujungnya. Akan ku kutip karangannya.

“Liburan saya kemarin.
Saya berlibur hanya di rumah.
Setiap hari saya bangun mandi, makan, dan nonton tv
Dan di malam hari saya jalan bareng sama pacar saya”

Sampai disini aku sempat sedikit menaikkan alis karena kaget. Bukan apa-apa, tapi tema pacaran tidak kusukai apalagi ini karangan nonfiksi alias kisah nyata. Kedua, ya, murid mana yang dengan santai menulis karangan begitu naifnya tentang dia dan pacarnya untuk tugas yang dikumpul ke gurunya, meski ini cuma tugas karangan bebas??

“esoknya saya bangun pagi lagi dan mandi lagi, lalu saya nonton tv”

Bisa dibayangkan, betapa hampanya hidup anak ini. Ini terlalu monoton ckck

“tiba-tiba HP saya berbunyi pukul 10.45
BBM dari pacar saya dia ingin membawakan makanan ke rumah saya. Saya pun menunggunya di rumah. Satu jam kemudian dia datang dia membawa makanan itu ke rumah saya”

Sampai disini aku berpikir, seriusan mikir, betapa lamanya si anak gadis berdandan sampai-sampai, dia sudah mengabari di BBM akan datang, tapi yang terjadi dia baru datang satu jam kemudian. Aigooo.

“saya pun mengambilnya. Dan dia pun pulang”

Terlintas di kepalaku kalau adegan ini seperti adegan ada pak JNE datang mengantar paket, si anak tandatangan dan pak JNEnya langsung pulang tanpa berkata apapun dan tanpa ngobrol apapun wkwkwk aigoo cara menulis anak ini seolah menunjukkan bahwa hidupnya hampa

“Dan malamnya dia memberi pesan BBM dan dia berkata, ‘Putus’.
Dan saya berkata ‘Iya’ “

Wkwkwkwkwk, maaf, aku tertawa..

“Lalu hari-hari saya hampa”

Udah dari kemarin-kemarin, kali...

“Tapi setelah masuk sekolah saya kembali ceria”

Hahahaha jangan-jangan mantan pacarnya ya teman sekelasnya. Makanya ceria.

Hhhh..anak-anak jaman sekarang...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Guru Baru, Guru Muda

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa