Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Sakitnya sih Nda Seberapa

Pagi menjelang siang, aku butuh kertas untuk UTS. Sudah jadi kebiasaanku, menyiapkan kertas jawaban sendiri. Kecuali kalau ada hal-hal tertentu, barulah aku menyuruh anak-anak merobek kertas untuk lembar jawaban mereka sendiri.  Kemudian aku melihat di depan kantor, dua kelompok anak sedang baris berbaris rapi. Tapi tampaknya dua kelompok barisan ini ada aura-aura nda enak. Entah, kok feelingku bilang mereka kayak lagi melakukan salah atau apalah yang merupakan sesuatu yang nda enak.  Maka aku berlalulah di sisi belakang anak-anak yang baris. Entah apa yang terjadi dengan kakiku, aku kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh mendarat sukses di tanah. Superrrr... dan berakhir dengan posisi persis kayak orang ancang-ancang mau lomba lari marathon. Kaki di tekuk, kedua telapak tangan menapak tanah, dengan wajah tertunduk.  Sesaat semua kaget. Aku sendiripun kaget. Lalu ku pejamkan mata kuat-kuat sambil memaki dalam hati "Duh". Sesaat ku buka mata, berdiri sok-sok...

Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum Jadul dan Minat Baca Anak Bangsa

Sebagian besar orang bilang di artikel-artikel mereka, bahwa minat baca seorang anak manusia sebenarnya dipengaruhi oleh minat dan budaya membaca keluarganya. Dalam hal ini khususnya kedua orang tuanya. Tapi kalau aku pribadi sih, minat baca juga dipengaruhi oleh materi-materi di dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Waktu kurikulum pendidikan jadul, buku pelajaran Bahasa Indonesia "biasa" justru merupakan buku pelajaran "Paling Luar Biasa". Saat buku-buku sains dan teknologi mencapai puncak kecemerlangan ditandai dengan cetakan baru yang lebih kontemporer, bagiku, justru buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah harus lebih menggali mundur ke belakang. Saat ini, membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia, itu tidak semenarik membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia saat masih kurikulum lama. Buku pelajaran Bahasa Indonesia zaman sekarang lebih condong ke arah ilmu-ilmu praktis yang berguna di masyarakat dan lebih condong ke meng-eksplore kemampu...

Jajak Pendapat Kelas Z

Hujan turun rintik-rintik, angin dingin berhembus, udara lembab. Satu dua murid berjaket warna gelap, pelan-pelan berjalan, berhambur di lapangan dan koridor-koridor sekolah. Hari ini Senin. Meskipun lembab dan dingin, kami tetap belum tau apakah upacara bendera ditunda atau tetap dilaksanakan. Aku nongkrong di kantor guru. Sesekali sambil melamun. Sesekali mengutak-atik netbook. "Bu," panggil guru yang duduk di depanku sambil menoleh ke belakang. "Bagaimana pendapat ibu pas ibu ngajar di kelas Z" sebut si ibu guru mengawali sharingnya. Ya, kami memang sering sharing tentang anak-anak yang kami ajar apalagi jika kami mengajar di kelas yang sama. Maka mulailah beliau mengutarakan perasaan dan apa yang beliau alami di kelas Z. Aku bisa merasakan rasa cemas yang sedikit tersirat di dalam cerita dan nada suara beliau. Ternyata apa yang beliau sampaikan, sama dengan apa yang aku alami. Bahkan sebelum aku tahu tentang hal ini, sempat aku berpikir bahwa, apakah anak-ana...

Dua Titik

Aku sekarang berdiri di titik yang mana paling kusyukuri. Aku memiliki keluarga besar harmonis, ayah yang membanggakan aku, ibu yang mencintai aku, kakak-kakak yang menyayangi aku dan kakak-kakak ipar yang menghargai aku. Tapi aku juga punya satu hal yang lain yang juga paling kusyukuri, aku memiliki anak-anak. Dan soal anak-anak, aku sedang berdiri di dua titik yang mana memberikan aku kesempatan mempunyai banyak sekali anak meskipun aku belum bersuami. Anak-anak ini mencintai aku dengan tulus, menghargai aku dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meskipun mereka tidak menyukaiku, mereka tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhiku. Dua titik ini yang selalu kujaga keseimbangannya. Aku memiliki 2 kelompok anak-anak yang hanyalah manusia biasa, memiliki rasa cemburu dan rasa luka. Aku mencoba mencintai dengan porsi yang sama dan sesuai. Dengan cinta yang sama dan setara. Layaknya mencintai dua anak kembar. Soal mencintai, dalam definisiku pada dasarnya adalah membe...

Cantik

Di facebook sekarang kok lagi hits banget membahas masalah kecantikan wanita? Untuk aku yang bertampang biasa-biasa saja, hanya santai saja menanggapi segala status-status, quotes bahkan meme-meme. Ya. Aku sudah sampai disini. Di level "Sebodo Amat Dah". Tapi biar bagaimanapun menarik untuk dibicarakan jika menyangkut soal kecantikan wanita. Maka disinilah aku, si "Sebodo Amat Dah" yang justru malah seolah care dengan tema kecantikan #gaje, kan? Membandingkan dulu dan sekarang, dulu, melihat status atau meme yang dipajang sama teman lelaki di facebook, yang lebih mendewakan kecantikan, dan bilang inner beauty itu cuma omong kosong, aku langsung misuh-misuh nda terima. Seolah aku manusia bijaksana padahal aku sedang membela diriku dan kaumku sih... haha... kaum wanita tapi bukan wanita biasa melainkan wanita bertampang "Biasa-biasa aja". Aku pribadi juga sebenarnya diam-diam kagum lah sama perempuan yang cantik, apalagi bersih, rapi, wangi dan sholehah ...

Impian

Kalau ditanya, apa sih impianku? Aku pasti bilang, aku pingin sekolah lagi, ke luar negeri. Tapi kalau ditanya, apa sih impian keluargaku? Mereka pasti bilang, Rizki harus jadi PNS (haha). Bagaimanapun setiap orang memang pantas untuk bermimpi, kan? Aku dengan impianku, keluargaku dengan impian mereka.. semuanya punya hak untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengabarkannya. Sehingga, aku teringat lagi tempo hari aku ketemu lagi dengan guru bahasa Indonesiaku waktu SMA, dan beliau lagi-lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama (mungkin ini impian versi guru SMAku tersebut hehe) "Kapan nikah? Butuh ibu carikan kah?" aku cuma senyam-senyum, asli aku nda tersinggung biar berapa kalipun aku ditanya seperti itu "Kebanyakan milih sih.." canda guruku lagi "Engga bu.." kataku sambil tertawa, lalu kemudian berkata, "Ya, nanti kalau ketemu lagi, nanti saya sudah gandeng suami" ujarku becanda "Habis sekarang begemuk sih?" lanjut guruku itu...

Uncle dan Sekelompok Anak B-07 English Department

Dulu, waktu zaman kuliah, meskipun kami anak prodi (program studi) Bahasa Inggris, tapi kami gak ada Inggris-inggrisnya. Saat kami sidang akhir untuk ambil strata 1, kami bahkan memecahkan rekor menguasai 12 tenses justru baru saat kepepet oleh ujian sidang akhir (gokil, nda?). Anak B (nama ruang kami) sebenarnya pinter-pinter, cuma nda tau ya, kami lagi kena gendam apa sampai jadi gokil kayak gitu (hahaha, kalau ada anak B yang menyangkal fakta ini, berarti semua yang aku bilang tadi salah, aku minta maaf, tapi perasaanku kok dulu kayak gitu haha) Kembali ke fakta kami yang nda Inggris-inggris banget tadi, akhirnya delapan orang dari kami (satu orang dari kelas A) ngambil les tambahan bahasa Inggris khusus TOEFL. Dan kelas kamipun dibagi jadi 2, so satu kelas cuma ada 4 anak. Guru les kami adalah seorang pria cerdas dan berkarisma yang sangat bagus penguasaannya terkait Bahasa Inggris. Kami benar-benar menghormati beliau. Selain karena beliau adalah guru les kami, beliau juga memi...