Uncle dan Sekelompok Anak B-07 English Department
Dulu, waktu zaman kuliah, meskipun kami anak prodi (program studi) Bahasa Inggris, tapi kami gak ada Inggris-inggrisnya. Saat kami sidang akhir untuk ambil strata 1, kami bahkan memecahkan rekor menguasai 12 tenses justru baru saat kepepet oleh ujian sidang akhir (gokil, nda?).
Anak B (nama ruang kami) sebenarnya pinter-pinter, cuma nda tau ya, kami lagi kena gendam apa sampai jadi gokil kayak gitu (hahaha, kalau ada anak B yang menyangkal fakta ini, berarti semua yang aku bilang tadi salah, aku minta maaf, tapi perasaanku kok dulu kayak gitu haha)
Kembali ke fakta kami yang nda Inggris-inggris banget tadi, akhirnya delapan orang dari kami (satu orang dari kelas A) ngambil les tambahan bahasa Inggris khusus TOEFL. Dan kelas kamipun dibagi jadi 2, so satu kelas cuma ada 4 anak. Guru les kami adalah seorang pria cerdas dan berkarisma yang sangat bagus penguasaannya terkait Bahasa Inggris. Kami benar-benar menghormati beliau. Selain karena beliau adalah guru les kami, beliau juga memiliki usia yang tidak lagi muda. Seharusnya kalau kami memanggil beliau, kami harus memanggil beliau dengan sebutan Bapak, Teacher, atau Kakek tapi beliau justru minta dipanggil Uncle. Ya, terdengar lebih kayak keluarga.
Tiap sore kami rajin turun, kadang kami juga SMS-an sama uncle dengan menggunakan bahasa Inggris. Kami juga dilatih menjawab soal-soal tes TOEFL dan kadang kami juga bertanya soal idiom bahkan soal lesson plan (RPP).
Kenangan ini nda akan pernah kulupakan. Kadang kalau mengingatnya, aku jadi lucu sendiri. Karena kami pernah foto-foto seolah-olah lagi sedang di gunung mana gitu, ternyata aslinya, kami cuma numpang foto di bukit kecil yang nda terlalu tinggi dan itu di dekat rumah uncle haha.
Kini kami sudah pulang kampung ke daerah masing-masing. Kami nda pernah berhubungan lagi sama uncle dan istrinya. Kami berharap keduanya selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Aamiin dan semoga mereka nda melupakan kami, sekelompok anak B-07 English Department.
Anak B (nama ruang kami) sebenarnya pinter-pinter, cuma nda tau ya, kami lagi kena gendam apa sampai jadi gokil kayak gitu (hahaha, kalau ada anak B yang menyangkal fakta ini, berarti semua yang aku bilang tadi salah, aku minta maaf, tapi perasaanku kok dulu kayak gitu haha)
Kembali ke fakta kami yang nda Inggris-inggris banget tadi, akhirnya delapan orang dari kami (satu orang dari kelas A) ngambil les tambahan bahasa Inggris khusus TOEFL. Dan kelas kamipun dibagi jadi 2, so satu kelas cuma ada 4 anak. Guru les kami adalah seorang pria cerdas dan berkarisma yang sangat bagus penguasaannya terkait Bahasa Inggris. Kami benar-benar menghormati beliau. Selain karena beliau adalah guru les kami, beliau juga memiliki usia yang tidak lagi muda. Seharusnya kalau kami memanggil beliau, kami harus memanggil beliau dengan sebutan Bapak, Teacher, atau Kakek tapi beliau justru minta dipanggil Uncle. Ya, terdengar lebih kayak keluarga.
Tiap sore kami rajin turun, kadang kami juga SMS-an sama uncle dengan menggunakan bahasa Inggris. Kami juga dilatih menjawab soal-soal tes TOEFL dan kadang kami juga bertanya soal idiom bahkan soal lesson plan (RPP).
Kenangan ini nda akan pernah kulupakan. Kadang kalau mengingatnya, aku jadi lucu sendiri. Karena kami pernah foto-foto seolah-olah lagi sedang di gunung mana gitu, ternyata aslinya, kami cuma numpang foto di bukit kecil yang nda terlalu tinggi dan itu di dekat rumah uncle haha.
Kini kami sudah pulang kampung ke daerah masing-masing. Kami nda pernah berhubungan lagi sama uncle dan istrinya. Kami berharap keduanya selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Aamiin dan semoga mereka nda melupakan kami, sekelompok anak B-07 English Department.
Komentar
Posting Komentar