Dua Titik
Aku sekarang berdiri di titik yang mana paling kusyukuri. Aku memiliki keluarga besar harmonis, ayah yang membanggakan aku, ibu yang mencintai aku, kakak-kakak yang menyayangi aku dan kakak-kakak ipar yang menghargai aku. Tapi aku juga punya satu hal yang lain yang juga paling kusyukuri, aku memiliki anak-anak.
Dan soal anak-anak, aku sedang berdiri di dua titik yang mana memberikan aku kesempatan mempunyai banyak sekali anak meskipun aku belum bersuami. Anak-anak ini mencintai aku dengan tulus, menghargai aku dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meskipun mereka tidak menyukaiku, mereka tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhiku. Dua titik ini yang selalu kujaga keseimbangannya. Aku memiliki 2 kelompok anak-anak yang hanyalah manusia biasa, memiliki rasa cemburu dan rasa luka. Aku mencoba mencintai dengan porsi yang sama dan sesuai. Dengan cinta yang sama dan setara. Layaknya mencintai dua anak kembar.
Soal mencintai, dalam definisiku pada dasarnya adalah memberi. Memberi tanpa harus menerima. Memberi tanpa harus menghitung. Memberi tanpa harus merasa khawatir. Memberi tanpa harus ragu. Memberi meski dengan sederhana. Aku mencintai dengan caraku. Terkadang aku disana selalu ada, terkadang aku membiarkannya terseok berpikir sendiri, terkadang aku sangat lemah lembut dan penyabar, terkadang aku keras dan tegas.
Kembali, aku berdiri di dua titik yang netral. Berdiri sendiri, melihat dari jauh, tubuhku diterpa angin dan aku hanya tersenyum. Aku kemudian berpikir, "Ingatlah satu hal, Ki, anak-anak ini SEMUANYA bukan milikmu. Meski mencintaimu dengan tulus, meski menghargaimu dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meski sebagian dari mereka yang tidak menyukai, tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhimu. Anak-anak ini bukan milikmu, kau hanya berdiri, membagi ilmu, menjadi ibu, dan mencari uang saku. Hanya itu. Masalah cinta yang dibalas, itu hanya bonus".
Ketika aku merasakan anak-anak itu menghampiriku atau bahkan berlari memelukku, saat itu hatiku hampir pecah karena bahagia, tapi aku selalu berkata -kadang tanpa nada bercanda- bahwa hal itu hanyalah kilasan hal yang biasa saja. Kadang aku berkata bahwa perasaanku malah sebaliknya dan aku tidak merindukan mereka, dan wajah-wajah merajuk akan menjadi hiburan tersendiri buatku.
Saat memeluk mereka, aku selalu mengingatkan diriku, bahwa mereka bukan milikku, dan kebahagiaan ini bukanlah abadi. Jadi tak pantas aku cemburu apalagi tergugu, saat mereka jauh berlari meninggalkanku atau bahkan melupakanku.
Menyadari sebuah kenyataan meski pahit adalah lebih baik agar hati bisa mengantisipasi perih yang terperih sekalipun.
Aku hanya penyambung lidah nasehat-nasehat agama, aku hanya penyambung tangan para orang tua, dan aku hanya tongkat estafet dari guru-guru terdahulu.
Kini, aku hanya ingin sendiri, mencoba sendiri, dan merasakan resikonya sendiri agar aku bisa memutuskan apakah aku akan jera ataukah aku akan semakin ingin terus mencoba. Apakah aku memutuskan untuk trauma ataukah memutuskan untuk menjawab tantangan yang kedua?
Dan sekali lagi, aku berdiri di antara dua titik yang tidak ku klaim sebagai milikku sendiri. Anak-anak ini SEMUANYA bukan milikku. Meski mencintaiku dengan tulus, meski menghargaiku dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meski sebagian dari mereka yang tidak menyukai, tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhiku. Bagiku, dicintai adalah kebahagiaan terbesarku dan dibenci adalah kebahagiaan lain yang akan tetap kusyukuri. Selamanya.
Dan soal anak-anak, aku sedang berdiri di dua titik yang mana memberikan aku kesempatan mempunyai banyak sekali anak meskipun aku belum bersuami. Anak-anak ini mencintai aku dengan tulus, menghargai aku dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meskipun mereka tidak menyukaiku, mereka tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhiku. Dua titik ini yang selalu kujaga keseimbangannya. Aku memiliki 2 kelompok anak-anak yang hanyalah manusia biasa, memiliki rasa cemburu dan rasa luka. Aku mencoba mencintai dengan porsi yang sama dan sesuai. Dengan cinta yang sama dan setara. Layaknya mencintai dua anak kembar.
Soal mencintai, dalam definisiku pada dasarnya adalah memberi. Memberi tanpa harus menerima. Memberi tanpa harus menghitung. Memberi tanpa harus merasa khawatir. Memberi tanpa harus ragu. Memberi meski dengan sederhana. Aku mencintai dengan caraku. Terkadang aku disana selalu ada, terkadang aku membiarkannya terseok berpikir sendiri, terkadang aku sangat lemah lembut dan penyabar, terkadang aku keras dan tegas.
Kembali, aku berdiri di dua titik yang netral. Berdiri sendiri, melihat dari jauh, tubuhku diterpa angin dan aku hanya tersenyum. Aku kemudian berpikir, "Ingatlah satu hal, Ki, anak-anak ini SEMUANYA bukan milikmu. Meski mencintaimu dengan tulus, meski menghargaimu dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meski sebagian dari mereka yang tidak menyukai, tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhimu. Anak-anak ini bukan milikmu, kau hanya berdiri, membagi ilmu, menjadi ibu, dan mencari uang saku. Hanya itu. Masalah cinta yang dibalas, itu hanya bonus".
Ketika aku merasakan anak-anak itu menghampiriku atau bahkan berlari memelukku, saat itu hatiku hampir pecah karena bahagia, tapi aku selalu berkata -kadang tanpa nada bercanda- bahwa hal itu hanyalah kilasan hal yang biasa saja. Kadang aku berkata bahwa perasaanku malah sebaliknya dan aku tidak merindukan mereka, dan wajah-wajah merajuk akan menjadi hiburan tersendiri buatku.
Saat memeluk mereka, aku selalu mengingatkan diriku, bahwa mereka bukan milikku, dan kebahagiaan ini bukanlah abadi. Jadi tak pantas aku cemburu apalagi tergugu, saat mereka jauh berlari meninggalkanku atau bahkan melupakanku.
Menyadari sebuah kenyataan meski pahit adalah lebih baik agar hati bisa mengantisipasi perih yang terperih sekalipun.
Aku hanya penyambung lidah nasehat-nasehat agama, aku hanya penyambung tangan para orang tua, dan aku hanya tongkat estafet dari guru-guru terdahulu.
Kini, aku hanya ingin sendiri, mencoba sendiri, dan merasakan resikonya sendiri agar aku bisa memutuskan apakah aku akan jera ataukah aku akan semakin ingin terus mencoba. Apakah aku memutuskan untuk trauma ataukah memutuskan untuk menjawab tantangan yang kedua?
Dan sekali lagi, aku berdiri di antara dua titik yang tidak ku klaim sebagai milikku sendiri. Anak-anak ini SEMUANYA bukan milikku. Meski mencintaiku dengan tulus, meski menghargaiku dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meski sebagian dari mereka yang tidak menyukai, tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhiku. Bagiku, dicintai adalah kebahagiaan terbesarku dan dibenci adalah kebahagiaan lain yang akan tetap kusyukuri. Selamanya.
Komentar
Posting Komentar