Catatan Minggu Malam
Aku sama sekali tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena aku tidak menyukai profesi guru, tapi lebih kepada bahwa aku adalah seorang yang pemalu, pendiam, kikuk dan sedikit rendah diri. Sedangkan sekolah merupakan salah satu tempat publik dimana kita harus berkomunikasi dengan banyak sekali manusia entah itu murid, rekan kerja, wali murid bahkan warga dari sekolah lain.
Tapi kuliah keguruan adalah pilihan mamaku. Mamaku ingin aku jadi guru. Aku yang sekarang adalah keinginan mamaku. Keinginanku yang sebenarnya adalah berada di dalam kandang entah jerapah, entah orang utan, bahkan kandang singa. Aku menyukai mengurus hewan-hewan. Aku betul-betul menyukai mereka.
Selama kuliah, aku tidak terlalu rajin dan tidak terlalu berambisi. Sehingga aku hanya menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Aku bertahan hanya karena aku mengingat cita-cita teman sekelasku pas SMA. Dia orang yang benar-benar bercita-cita menjadi guru. Dan dia cocok untuk itu. Tapi kini dia lebih memilih mengabdikan diri menjadi ibu luar biasa buat 2 orang anaknya. Jodohnya datang saat dia sedang kuliah. Menjemputnya. Menghantarkannya wisuda. Dan kemudian dia dianugerahi 2 malaikat kecil. Aku? Aku meminjam cita-cita dan semangatnya untuk bertahan dan menyalakan api cita-cita mamaku.
Sekarang, aku akhirnya menerima bahwa aku adalah seorang guru. Meskipun aku pernah dilanda stres hingga aku selalu menyesal tiap kali aku terbangun di pagi hari. Tapi mengajar anak-anak adalah sesuatu yang sangat aku sukai dan sekaligus sangat membebaniku. Kenapa membebani? Karena aku ingin dalam kondisi maksimal dan optimal. Guru Ma dalam drama Korea "Queen's Classroom" pernah bilang, kira-kira begini:
"Anda tidak "bekerja" sekaligus "menikmati pekerjaan Anda". Kalau Anda ingin hasil yang maksimal, maka Anda tidak bisa menikmatinya. Anda harus bekerja dengan keras dan tidak bisa menikmati apa yang Anda kerjakan. Pernahkah Anda melihat pelari marathon yang menikmati "Lari"nya? Tidak. Tapi dia memaksa dirinya untuk maksimal barulah dia akan bisa menang." Guru Ma benar, aku ketika menikmati menjadi seorang guru, maka pekerjaanku tidak maksimal. Tidak optimal. Untuk menjadi optimal, aku memang harus bekerja keras. Aku harus belajar, kalau muridku menghapal aku juga menghapal, aku harus terbiasa bekerja lebih keras, harus terbiasa tidur dengan tidak tenang, harus terbiasa menyelesaikan tugas administrasi guru yang nda kelar-kelar, aku harus selalu memikirkan anak-anak, aku harus terus memutar otak bagaimana membuat mereka nyaman, aman, paham, dan dapat menangkap pelajaran, aku bahkan harus belajar dan memutar otak bagaimana caranya mendidik anak padahal aku sendiri belum punya anak. Dan semua itu bukanlah hal-hal yang bisa sekadar "dinikmati", semua itu adalah hal-hal yang harus "diusahakan" dengan serius.
Aku ingin seperti itu. Sekarang aku mencoba seperti itu.
Aku sama sekali tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena aku tidak menyukai profesi guru, tapi lebih kepada bahwa aku adalah seorang yang pemalu, pendiam, kikuk dan sedikit rendah diri. Tapi kini aku adalah seorang guru. Aku memang masih meminjam semangat teman SMAku itu, tapi kini aku menjadi guru bukan lagi karena aku memakai cita-cita mamaku. Tapi menjadi guru kini adalah SOMETHING THAT DEFINETLY I WANT.
Tapi kuliah keguruan adalah pilihan mamaku. Mamaku ingin aku jadi guru. Aku yang sekarang adalah keinginan mamaku. Keinginanku yang sebenarnya adalah berada di dalam kandang entah jerapah, entah orang utan, bahkan kandang singa. Aku menyukai mengurus hewan-hewan. Aku betul-betul menyukai mereka.
Selama kuliah, aku tidak terlalu rajin dan tidak terlalu berambisi. Sehingga aku hanya menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Aku bertahan hanya karena aku mengingat cita-cita teman sekelasku pas SMA. Dia orang yang benar-benar bercita-cita menjadi guru. Dan dia cocok untuk itu. Tapi kini dia lebih memilih mengabdikan diri menjadi ibu luar biasa buat 2 orang anaknya. Jodohnya datang saat dia sedang kuliah. Menjemputnya. Menghantarkannya wisuda. Dan kemudian dia dianugerahi 2 malaikat kecil. Aku? Aku meminjam cita-cita dan semangatnya untuk bertahan dan menyalakan api cita-cita mamaku.
Sekarang, aku akhirnya menerima bahwa aku adalah seorang guru. Meskipun aku pernah dilanda stres hingga aku selalu menyesal tiap kali aku terbangun di pagi hari. Tapi mengajar anak-anak adalah sesuatu yang sangat aku sukai dan sekaligus sangat membebaniku. Kenapa membebani? Karena aku ingin dalam kondisi maksimal dan optimal. Guru Ma dalam drama Korea "Queen's Classroom" pernah bilang, kira-kira begini:
"Anda tidak "bekerja" sekaligus "menikmati pekerjaan Anda". Kalau Anda ingin hasil yang maksimal, maka Anda tidak bisa menikmatinya. Anda harus bekerja dengan keras dan tidak bisa menikmati apa yang Anda kerjakan. Pernahkah Anda melihat pelari marathon yang menikmati "Lari"nya? Tidak. Tapi dia memaksa dirinya untuk maksimal barulah dia akan bisa menang." Guru Ma benar, aku ketika menikmati menjadi seorang guru, maka pekerjaanku tidak maksimal. Tidak optimal. Untuk menjadi optimal, aku memang harus bekerja keras. Aku harus belajar, kalau muridku menghapal aku juga menghapal, aku harus terbiasa bekerja lebih keras, harus terbiasa tidur dengan tidak tenang, harus terbiasa menyelesaikan tugas administrasi guru yang nda kelar-kelar, aku harus selalu memikirkan anak-anak, aku harus terus memutar otak bagaimana membuat mereka nyaman, aman, paham, dan dapat menangkap pelajaran, aku bahkan harus belajar dan memutar otak bagaimana caranya mendidik anak padahal aku sendiri belum punya anak. Dan semua itu bukanlah hal-hal yang bisa sekadar "dinikmati", semua itu adalah hal-hal yang harus "diusahakan" dengan serius.
Aku ingin seperti itu. Sekarang aku mencoba seperti itu.
Aku sama sekali tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena aku tidak menyukai profesi guru, tapi lebih kepada bahwa aku adalah seorang yang pemalu, pendiam, kikuk dan sedikit rendah diri. Tapi kini aku adalah seorang guru. Aku memang masih meminjam semangat teman SMAku itu, tapi kini aku menjadi guru bukan lagi karena aku memakai cita-cita mamaku. Tapi menjadi guru kini adalah SOMETHING THAT DEFINETLY I WANT.
Komentar
Posting Komentar