Ada apa dengan 'Cinta'?

Namanya Cinta. Gadis hitam manis yang sangat periang. Kelewat periang bahkan. Karena 1 kata sudah cukup untuk mendeskripsikan gadis ini: Heboh. Saking hebohnya, tak jarang teman-teman sekelasnya merasa sangat terganggu. Dia kadang jadi bulan-bulanan sumpah serapah ala anak SMA oleh teman-temannya. 
Aku sendiri, sebagai wali kelasnya, mengenal Cinta hampir satu tahun terakhir ini. Cinta anak yang menyenangkan. Sehingga rasa cinta dari teman-teman sekelasnya lambat laun tumbuh menjadi cinta persahabatan.

Sampai suatu hari, disaat mereka satu geng pergi makan bareng, Cinta bilang dia mau pindah sekolah aja. Entah ada masalah apa, entah karena apa. Yang jelas nampaknya Cinta mulai gak betah untuk bersekolah di sekolah kami. 
"Aku mau pindah sekolah bah. Aku mau pindah ke Samarinda" ujarnya. Di hari yang sama, apes ternyata juga menimpa mereka. Mereka yang pergi diam-diam dari sekolah (hari itu jam pelajaranku,  aku nda masuk karena kurang enak badan), mengalami kecelakaan ringan. Ya, salah satu anak sih, tapi akhirnya berdampak ke semua anak yang hari itu pergi bersama dari sekolah diam-diam. 

Alhasil terjadilah kemarahan salah satu guru. Dan berbuntut pemanggilan orang tua murid. Aku yang wali kelas bahkan tak tau apa-apa. Tau-tau ada gitu persidangan gelar perkara di kantor guru. 

Semenjak saat itu, Cinta menghilang. sehari dua hari tiga hari, dia tidak pergi ke sekolah. Sampai guru-guru pada sibuk bertanya-tanya apa yang terjadi sama Cinta. 

Suatu sore, Kepala Sekolah melalui satu staff, meminta aku mendatangi rumah Cinta. Akupun mendatangi tapi gagal bertemu. Rumahnya terus terkunci meskipun dua kali aku datang di waktu yanag berbeda. 
Ketika aku masuk kelas, aku langsung menggali sebanyak-banyaknya informasi dari anak-anak. Anak-anakpun menceritakan satu persatu keganjilan yang terjadi. Seperti misalnya usiran halus bapaknya Cinta dan kebohongan Cinta yang bilang bahwa dia sudah di Samarinda padahal dia masih ada di kota kami.

Hingga sorenya kami sepakat untuk pergi ke rumah Cinta lagi. Kali ini kami pergi bersama, saya dan anak-anak kelas. Hampir seluruh kelas datang. Selesai do'a pulang, salam dan menjalankan piket, kami meluncur ke rumah Cinta.

Olala.. pantas saja aku 2 kali kesana kayak rumahnya terkunci terus. Ternyata bukan itu rumahnya, rumahnya itu ya rumah yang disebelahnya!

Dengan sabar kami mengetuk dan menunggu ibunya selesai sholat ashar. Ketika ibunya keluar, kami dipersilakan masuk dengan ramah
"Cinta mau menikah, bu" ibunya berkata dengan kalimat sederhana tapi kayak sambaran petir di telingaku. Menikah??? Cinta baru kelas X sekolah menengah alias baru kelas I. Ada apa dengan 'Cinta'?
"Ada laki-laki yang mau sama dia bu. Ya sudah kata bapaknya. Lagian Cinta juga udah gak mau lagi sekolah"
"Jadi, Cinta beneran gak akan sekolah lagi, bu?"
"Iya"
"Lah tapi kan katanya, Cinta mau pindah ke Samarinda?"
"Iya, tapi pacarnya ini nda mau ditinggalkan bu"
Aku terdiam
"Tadi malam dia (pacarnya Cinta) datang kesini"
kisah si ibu,
Ibunya melanjutkan
"Malam ini orang tuanya yang akan datang kesini"

Anak-anak yang lain tiba-tiba permisi di depan pintu. Setelah disilakan, muridku yang satunya izin pergi ke kamar Cinta. 
"Aku kangen, Cil" rengeknya ke ibu Cinta. Ibu Cinta mengizinkannya masuk. 
Yang lain juga karena kangen ikutan masuk. Tau sendiri anak cewek apalagi yang masih SMA kayak mereka suka heboh kalau ketemu. Jadilah kamar di sebelah ruang tamu itu, terdengar heboh. Akupun izin ke ibunya Cinta untuk ikut masuk jenguk Cinta ke kamarnya. 

Aku kaget melihat Cinta. Dia berubah 180 derajat. Dia bukan Cinta yang heboh lagi. Dia diam, diam, dan terus diam. Keadaannya memang sehat. Tapi dia jauh lebih pendiam. Di dalam hatiku, aku juga diam-diam menahan sedih. Aku bisa apa kalau sudah begini yang dikehendaki Cinta dan keluarganya? Sementara itu, kulihat jurnal Ilmu Resepnya tergeletak di antara buku-buku pelajarannya. Seolah-olah berbisik sedih, "Selamat tinggal, Cinta, Selamat tinggal Sekolah"

Tiba saatnya kami pamit. Aku rasa kami semua sangat bersedih. Kami pun berfoto bersama. Sebelum pamit, muridku yang paling nakal, berujar pada Cinta
"Ta, kau tau siapa ini?" kata muridku menunjuk ku
"Taulah. Ibu (guru)" jawab Cinta
"Nah, beraninya kau nikah padahal gurumu belum??"
Yang lain ketawa.
Lucu sih... aku juga ikut ketawa. 
Fakta juga sih.. tapi rasanya mau ku kemplang palanya ni anak. Sempet-sempetnya bully gurunya sendiri ckck. 

Tapi ya, well, begitulah cerita tentang Cinta. Kami gak penasaran lagi. Tapi sebagai gantinya kami kini diliputi kesedihan. 

Ya Allah.. Semoga gak ada Cinta-Cinta yang lain sampai nanti tamat SMA. Semoga motivasi belajar mereka selalu terjaga dan buat Cinta, semoga kamu tetap bahagia. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Guru Baru, Guru Muda