Guru Les vs Guru di Sekolah
Kali ini aku mau membahas tentang guru. Guru itu emang manusia yang super kalau menurutku. Mereka bisa jadi pendidik, orang tua, saudara, bahkan sahabat. Kadang-kadang jadi musuh sih hehe tepatnya, muridnya tuh yang duluan mengibarkan bendera perang #egh. yang jelas, guru itu harus pinter. Meskipun gak harus selalu pamerin kepinterannya.
Nah, aku ini sebenarnya adalah seorang guru. tapi belum pinter-pinter amat #serius. Jadi guru gak gampang loh. Setidaknya harus ada 2 skill yang dimiliki: ilmu terkait disiplin ilmunya sendiri (misal: matematika, bahasa Inggris, Kimia, Fisika) dan ilmu mengelola proses pembelajaran (kayak: memanajemen kelas, kemampuan mengajar, keahlian menyampaikan). Makanya seperti yang ku bilang guru itu harus pinter. Gak boleh ngasal dan harus juga berjiwa pembelajar.
Terus, apa dong hubungannya sama judul di atas? haha oke, kayaknya paragraf pembukaku agak melipir kemana-mana deh. Maklum aja ya.
Aku akan ceritakan satu ceritaku, dimana kondisi ini bisa saja menimpa guru-guru yang bertugas di luar sekolah/ di luar jam sekolah, contohnya kayak guru les, guru kursus, pokoknya guru-guru yang bertugas sebagai guru mata pelajaran tambahan. Guru ini biasanya diminta oleh orang tua atau wali murid untuk ngajarin anak mereka di luar jam sekolah karena mereka merasa anak-anaknya agak ketinggalan saat belajar di kelas. Nah, aku salah satu guru yang termasuk dalam guru jenis ini. Aku nyebutnya-khusus untuk diriku sendiri loh ya- 'Guru Serabutan'.
Suatu hari, salah satu sepupu, keluarga dekatku, datang ke rumah dan dengan keinginan yang amat sangat #beh, meminta aku untuk membantu anaknya mempelajari ulang mata pelajaran yang dianggap susah buat anaknya. Sebenarnya aku tuh paling malas yang begini-begini. Pertama, aku sibuk. Kedua, aku emang nda terlalu suka buka les untuk anak-anak yang berhubungan dekat dengan aku kayak anak keluarga, anak kakakku, anak temanku, sepupuku, dll. Aku baru mau kalau mereka bersedia untuk tidak membayar aku. Sayangnya, orang-orang terdekat ini justru datang dalam rangka bisnis. Artinya, aku harus mau menerima bayaran dari mereka. Mereka gak mau memakai jasaku secara gratis. Ya, meski aku tahu sih, itu kan buat ucapan terimakasih ke aku.
Saat kakak sepupuku itu datang, sebenarnya mau nolak sih, tapi karena ada mamak, akhirnya aku gak berani bilang enggak. Pasalnya, mamaku antusias banget kalau aku punya banyak murid ckck. kalau ku tolak-tolakin trus mamaku ngamuk trus aku dikutuk jadi batu berdahak, gimana? maka, akhirnya ku'iya'kan.
Awalnya muridku cuma satu. Wuih dia semangat banget belajar. Aku jadi semangat juga. Terus, nambah jadi 4 #ini anak bawa gengnya buat les, masih kondusif aja sih. Lama-lama itu murid jadi 8, bahkan terakhir jadi 11. Ini sungguh di luar dugaanku. Seperti les pada umumnya, kami selalu giat belajar. Ya meskipun mereka rusuh banget haha liar. Aku selalu mencoba untuk mewujudkan espektasi para orang tua mereka yaitu menyeret mereka keluar dari lubang-lubang remedial di sekolah #ketawa setan #egh
Keanehan mulai terjadi ketika sebulan dua bulan berlalu bersama tu anak-anak. Hasil-hasil belajar yang kuusahakan seperti gak ada bekasnya. Kami seolah-olah kayak gak pernah les. Aku sampai jedot-jedotin kepala ke dinding #hehe, akhirnya, bisa dipastikan aku merasa gagal. Sedih juga sih. Aku kan tipikal orang yang kalau gak berguna buat orang lain tuh rasanya kayak merasa bersalah banget. Apalagi ini dalam hubungan yang profesional.
Aku mulai belajar lebih keras. Sebelum les udah baca buku dan pelajari lagi materi. Aku juga selalu di dampingi sama duo kamus racun. Aku bahkan membuang egoku untuk mengakui jika aku gak tahu arti dari kosa kata tertentu, dan minta izin untuk cari dulu di kamus. Aku berpikir, aku gak boleh ngajar asal-asalan. Meskipun ini cuma ngajar les. Meskipun cuma anak SMP. Anak-anak juga ku motivasi untuk belajar lebih giat. Tapi hasil yang kudapatkan selalu: wajah kecewa bin murung tu anak-anak.
Sampai beberapa kali aku menemukan keganjilan. Ada beberapa soal yang seharusnya jawabannya bener tapi kok disalahkan.
"Iya kak, ibu Melati (guru mata pelajaran di sekolah mereka, bukan nama sebenarnya) terlalu berpatokan sama kunci jawaban", adu seorang anak kepadaku.
"ya udah, siapa tahu kakak yang salah. Pokoknya, apa yang diajarin sama bu Melati harus diambil ya. Jangan ngebantah kalau sama bu Melati. Kecuali kalau itu benar-benar salah" jawabku.
Ya, karena aku memang selalu memposisikan diriku harus cuma jadi yang KEDUA. Cuma jadi second opinion supaya rasa hormat mereka ga berkurang sama guru yang di sekolah. Cuma ya aku ngerasa, seperti ada selaput perang dingin yang tipis #haha# antara aku dan ibu Melati. Aku mulai terganggu dengan sikap bu Melati. Tapi kutahan. Kusembunyikan. Dan anak-anak tetap ku motivasi untuk lebih mengutamakan pendapat bu Melati daripada pendapatku.
Sampai suatu kali kami les, sesuatu yang terang, seterang sinar matahari di siang yang terik, terjadi. Waktu aku bantuin anak-anak buat menerjemahkan teks pendek, beberapa kosa kata yang mereka dapat dari bu Melati mulai ngelantur terjemahannya. Aku jadi angot juga lama-lama #haha. Belum lagi mereka yang berbeda kelas saling berdebat. Si guru ngajarin kosakata di kelas A beda artinya sama waktu ngajarin kosa kata di kelas B. Aku bahkan sampai buka kamus dan nunjukin juga arti yang sebenarnya dari kata tersebut biar tu anak-anak percaya. Akhirnya salah satu anak nyeletuk,
"Ah, bu Melati (ngajarnya) bohong-bohong"
Aku diam aja.
Aku jadi berpikir, bekerja berseberangan dengan guru sekolah kayak gini, adalah hal yang berat. Aku kurang suka bekerja dengan model cara kerja begini. Apalagi setelah ku tahu bahwa keseringan tu guru ngajar asal-asalan contohnya kayak, do'i ngasih murid-muridnya PR. Etapi, pas murid-muridnya nanya ke aku gimana cara jawabnya, aku dengan muka datar bilang,
"Maaf, kakak gak bisa bantu PR kalian. Masalahnya gimana mau ngisi, INI KAN SOAL-SOAL LISTENING" Sampe kiamat juga tuh PR kagak bisa kelar. Mau di bawa ke Menteri Pendidikan juga kagak bisa diisi tuh PR. Script listeningnya kan ama gurunya! *Aku nulis aja udah mules-mules nih akibat esmosi.
Tapi aku tetap bertahan.
Belakangan aku semakin sibuk, dan aku juga merasa aku kurang pas untuk menangani mereka. Meskipun mereka baru kelas VII SMP, tapi aku merasa aku butuh lebih banyak belajar lagi. Aku merasa masih bodoh sekali. Aku malu sekali. Akhirnya aku memutuskan membubarkan kelas. Anak-anak ada yang nangis. Aku rasa gak masalah. Daripada aku asal-asalan, ya kan?
Di malam terakhir les kami, di antara rasa gagalku yang kusembunyikan, ternyata apa yang ku tanam selama ini sedikit berbuah...
"Kak, aku dapet 60!" kata seorang anak mengadu padaku
"Yang mana aja yang salah?" kataku
"Yang nomer 1 sama nomer 4" jawabnya, "Aku bilang sama bu Melati, masa sih bu ini salah?/Iya, coba baca teksnya baik-baik" lanjutnya menirukan perdebatannya dengan guru sekolahnya tersebut.
Aku mengecek hasil pekerjaan kami. Ya. Ternyata bu Melati emang benar. Aku yang salah, keliru dan kurang teliti. Aku meminta maaf sama anak tersebut karena membuatnya mendapatkan skor 60 saja.
"Kata bu Melati, kak, 'Kamu les ya?', aku jawab 'iya, bu', terus kata bu Melati, 'Jangan tergantung sama guru les" kata si anak lagi menirukan kata-kata gurunya di sekolah.
Aku ketawa. Tiba-tiba aku merasa sangat senang dan lega. Pekerjaaanku nampaknya tidak sia-sia. Memang nilai anak-anak gak naik signifikan. Tapi aku menembak pada sasaran yang tepat. Nampaknya, bu Melati mulai merasa 'terancam' yang kemudian memacu beliau untuk belajar dengan benar sebelum mengajar di kelas.
Di tengah kebahagiaanku yang berbunga-bunga, salah satu anak yang lain, yang memintaku mengoreksi hasil PR pilihan gandanya, berkata padaku
"Kak, no 1-15 jangan diganggu gugat ya kak"
"Loh, kenapa?" kataku penasaran
"Soalnya itu hasil kerjaanku sendiri kak. Kalau salah biarin aja. Kalau dibenerin sama kakak nanti aku dapat nilai tinggi"
"Eh?" Alisku naik. Aku benar-benar gak paham nih sekarang. Apa aku memang bener-bener mulai bodoh ya,, atau bagaimana??
"Tapi kan kakak selalu jelasin dan bahas tiap soalnya, jadi gak masalah toh? kan akhirnya kamu tahu dan paham juga sama materinya" kataku masih belum mengerti.
"Ya, tetap aja kak, jangan. Nanti dapat nilai tinggi. Kalau dapat nilai tinggi nanti bu Melati marah.."
Aku melongo.
#Nepok.jidat
#Guru macam apa itu?
Komentar
Posting Komentar