Mahmud Ali!
Pernah gak punya murid yang gokil abis? Kalau aku sudah pernah merasakannya. Ya. Itu memang benar adanya.
Nah, ini ada beberapa cerita yang mungkin bagi sebagian orang garing, tapi bagiku, ini lucu. Cerita ini seharusnya gak berjalan begini. Seharusnya cerita ini berjalan sempurna. Karena semua situasi dalam cerita ini adalah situasi formal yang membutuhkan keseriusan. Ini nih ceritanya..
Nama lainnya Ibuprofen adalah Bapakprofen...
Suatu hari, kakakku yang bekerja di puskesmas Gunung Tabur mengadukan tingkah salah satu siswa kelas XI kami yang kebetulan melakukan praker (praktik kerja) di puskesmas yang sama dengannya.
"Jadi, Ki"
"Hmm.."
"Tadi Si Nana (bukan nama sebenarnya) dimarahin sama pembimbing lapangannya, dimarahin mbak Vi"
Mbak Vi ini adalah apoteker di puskesmas tersebut.
"Emangnya kenapa, Ni?" tanyaku mulai penasaran, soalnya kakakku mulai gak bisa mengontrol tawanya.
"Iyya... masak, dia di pre-test mbak Vi, dia ditanya
'Apa nama lain dari ibuprofen (nama obat nih)', dengan polosnya dia jawab
'Bapakprofen' wkwkwkwkwkwk" tawa kakakku berderai
Ya iyalah apanya pembimbing lapangannya nggak ngamuk, ditanya serius malah jawabnya gitu.
Sampai di sekolah di depan dewan guru, lagi-lagi aku mengutip kisah konyol ini. See? Meskipun guru-guru pada gerigitan tapi tetap aja terpaksa tertawa terbahak-bahak.
Mic-mu kebalik!
Dalam sebuah acara lomba mading yang kami ikuti, tibalah saatnya siswa-siswa taplak ini maju untuk mempresentasikan mading hasil karya mereka. Sebenarnya aku rada-rada sangsi juga. Anak-anak ini dari gelagat ngantrinya aja sudah kagak enak. Mereka banyak ngebanyol dan aku khawatir akan terbawa-bawa ke presentasi mading nanti.
Kulihat-lihat siswa-siswa dari sekolah lain tuh mandiri-mandiri, serius-serius, dewasa-dewasa beda sama siswa-siswa yang aku dampingi ini.
'Wah bahaya nih', batinku.
Waktu giliran mereka presentasi, aku sengaja gak masuk. Habisnya ruangan terlihat sangat penuh. Dan.. aku juga punya firasat gak enak. Dan beneran kejadian!
Mereka presentasi dengan gaya yang memang mereka mau. Ya. Yang mereka mau. Berbobot sih. Tapi dengan sedikit banyolan yang... bikin ruangan pecah karena sikap mereka yang terkesan ga dewasa itu.
Dan banyolan yang paling parah itu...
masak presentasi pakai mic yang kebalik!
Itu satu ruangan di Dinas yang ngadain acara itu, ketawa terpingkal-pingkal. Taplaknya lagi, bukannya malu, teman-teman satu timnya malah ikut ngetawain. Ini entah sengaja atau enggak, wallahualam. Di dalam ruangan orang rusuh pada ketawa, di luar aku kayak prajurit yang terbunuh oleh anak panah yang pada nancap di tubuhku. Aku megap-megap kehabisan nafas. Nyesek.
Tapi dasar mereka keren, mereka dapat juara meski bukan juara utama. Alhamdulillah.. Dan itu murni hasil kerja keras mereka tanpa bimbingan sedikitpun dari aku.
Mahmud Ali!
Dan yang terbaru, ya kejadian ini. Ini kejadian, aku gak nyaksikan langsung sih. Tapi dengar sendiri cerita ini dari pelakunya sendiri cukup buat bikin aku galau: antara mau ketawa sama mau bunuh diri di pohon cabe.
Ceritanya kali ini, ni anak-anak ikut LCC (Lomba Cerdas Cermat). Bukan seperti lomba cerdas cermat biasa, lomba ini menekankan pada wawasan kebangsaan, wawasan kedaerahan dan sejarah Indonesia. Lah, kita anak-anaknya, anak-anak Farmasi. Pelajaran Sejarah aja gak ada di sekolah kita. Tapi dengan tekad yang kuat, ini anak-anak tetap maju di dampingi oleh guru pembimbing mereka.
Aku cuma ikut aja mendampingi. Sisanya diatur sama guru pembimbing mereka yaitu guru Pkn sekolah kita.
Aku kemudian pulang duluan karena masih ada kewajiban yang lain. Begitu kuhubungi lagi, mereka sudah selesai lombanya.
Akupun mencari anak-anak satu per satu. Mau tanya gimana hasilnya. Yang ku temukan pertama kali kebeneran adalah si juru bicara tim cerdas cermatnya, panggil aja si Chi.
Waktu ku tanya, dengan antusias Chi bercerita padaku,
"Bu, tadi juga kami diketawain sama orang-orang"
Perasaanku mulai gak enak nih.
Aku langsung mengingat-ngingat betapa aku benar-benar menekankan supaya mereka, kalau di depan juri nanti, harus lebih dewasa dan jangan melakukan hal yang enggak-enggak.
"Kenapa emangnya?"
Akhirnya aku bertanya dengan perasaan yang agak horor
"Masak, tadi kan ada pertanyaan,
'Siapa nama bupati Kabupaten Berau?' Nah, tahunnya jabatannya itu udah lama bu. Kami mana tahu.."
"Jadi.." potongku tak sabar
"Jadi, aku jawab deh bu, bapakku"
"Maksudnya?"
Aku mulai mengendus ketidakberesan disini.
"Iya, aku jawab bu, 'Mahmud Ali! dan orang-orangpun pada ketawa bu. 'Siapa itu Mahmud Ali?' kata jurinya"
"Emang siapa itu Mahmud Ali?"
"Bapakku lah bu.."
Ya Allah... seketika rasanya aku mau meledak dalam 2 sensasi ledakan: meledak ketawa dan meledak marah. Tapi akhirnya aku cuma bisa ketawa. Ya mau gimana lagi udah kejadian. Ya mau kupiting lehernya juga kan mana mungkin. Anak orang eh.
Paksa aku membatin
'Pohon cabe mana pohon cabe'
Komentar
Posting Komentar