Impian

Kalau ditanya, apa sih impianku? Aku pasti bilang, aku pingin sekolah lagi, ke luar negeri. Tapi kalau ditanya, apa sih impian keluargaku? Mereka pasti bilang, Rizki harus jadi PNS (haha). Bagaimanapun setiap orang memang pantas untuk bermimpi, kan?

Aku dengan impianku, keluargaku dengan impian mereka.. semuanya punya hak untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengabarkannya.

Sehingga, aku teringat lagi tempo hari aku ketemu lagi dengan guru bahasa Indonesiaku waktu SMA, dan beliau lagi-lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama (mungkin ini impian versi guru SMAku tersebut hehe)
"Kapan nikah? Butuh ibu carikan kah?"
aku cuma senyam-senyum, asli aku nda tersinggung biar berapa kalipun aku ditanya seperti itu
"Kebanyakan milih sih.."
canda guruku lagi
"Engga bu.."
kataku sambil tertawa, lalu kemudian berkata,
"Ya, nanti kalau ketemu lagi, nanti saya sudah gandeng suami" ujarku becanda
"Habis sekarang begemuk sih?" lanjut guruku itu lagi dengan nada protes manja
aku tertawa lalu balas menggoda,
"Jadi ibu pingin saya kurus? Okeh, demi ibu saya akan kurus"
beliau tersenyum,
Sampai pada titik perbincangan jodoh-perjodohan itu berakhir di topik pembicaraan tentang S2.
"Saya berarti nda boleh S2 dulu, bu, nanti nda ada yang mau sama saya" candaku lagi
"Kenapa?" beliau mengerutkan kening, terlihat serius (emang ya, guru kita apalagi yang udah S2 kayak beliau ini, kadang-kadang susah digodain, banyakan seriusnya hehe)
"Soalnya laki-laki kalau tau calon istrinya lebih pintar dari dia, ntar dia mundur dan nda mau" kataku asal.
"Oh.." beliau merespon, meski rautnya tetap agak serius gitu haha.
Dalam hati juga aku menanggapi serius, kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri, aku nda pernah berkeinginan untuk mewujudkan candaanku itu. Aku diam-diam mengeluh. Karena sebenarnya aku justru sangat menginginkan S2, menuntut ilmu lebih dalam, karena aku merasa masih bodoh dan tentu saja aku ingin membanggakan orang tua. Aku mau orang tuaku berpikir bahwa mereka juga bisa punya anak yang bisa dibanggakan. Memang sih, kebanggaan orang tua nda bisa diukur dengan anak nya sudah S2 atau belum, tapi setidaknya, aku pingin mereka bangga karena punya anak yang pembelajar dan yang punya tekad yang kuat.

Jadi, kembali lagi, setiap orang punya mimpi, Aku dengan impianku, keluargaku dengan impian mereka.. semuanya punya hak untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengabarkannya.
Dan selama kita berusaha, nda akan ada yang namanya mustahil, jika Allah SWT menghendaki.
Dan catatan ini kubuat sebagai pengingat. Karena aku juga penasaran, mimpi siapakah yang akan terkabul duluan, mimpiku, mimpi orang tuaku atau mimpi guru SMAku? :D

Sambaliung, 4 September 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Guru Baru, Guru Muda