Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum Jadul dan Minat Baca Anak Bangsa
Sebagian besar orang bilang di artikel-artikel mereka, bahwa minat baca seorang anak manusia sebenarnya dipengaruhi oleh minat dan budaya membaca keluarganya. Dalam hal ini khususnya kedua orang tuanya. Tapi kalau aku pribadi sih, minat baca juga dipengaruhi oleh materi-materi di dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Waktu kurikulum pendidikan jadul, buku pelajaran Bahasa Indonesia "biasa" justru merupakan buku pelajaran "Paling Luar Biasa". Saat buku-buku sains dan teknologi mencapai puncak kecemerlangan ditandai dengan cetakan baru yang lebih kontemporer, bagiku, justru buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah harus lebih menggali mundur ke belakang.
Saat ini, membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia, itu tidak semenarik membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia saat masih kurikulum lama. Buku pelajaran Bahasa Indonesia zaman sekarang lebih condong ke arah ilmu-ilmu praktis yang berguna di masyarakat dan lebih condong ke meng-eksplore kemampuan anak. Buku-buku Bahasa Indonesia jaman sekarang ya paling bahasannya pidato, pantun, puisi. Paling menarik juga tentang materi membuat sinopsis. Sudah. Sangat jarang ditemukan potongan paragraf yang diambil dari novel-novel (terlebih novel sastra lama) atau potongan cerpen-cerpen dari penulis-penulis kesohor Indonesia. Seolah-olah buku pelajaran itu mencerminkan "Aku udah gak terlalu nyastra lagi nih".
Padahal tau gak, jaman aku sekolah, hal yang terbesar yang memotivasi aku untuk membaca adalah ketika guru mulai menceritakan tentang satu dua novel sastra lama beserta penulis dan keadaan sosial politik yang melatarbelakangi kehidupan si penulis di masa itu.
Ya mungkin terlalu dangkal pikiranku, ketika aku mengatakan bahwa patokan nyastra atau enggaknya sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia adalah diukur dari seberapa banyak dan kental materi di dalamnya tentang buku-buku sastra atau hasil-hasil sastra lainnya. Tapi kalau bagi aku pribadi, banyak enggaknya unsur sastra di dalam sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia berpengaruh besar terhadap kepribadian anak bangsa. Utamanya soal budaya membaca, yang selama ini setengah mati digalakkan.
Aku masih ingat dulu, di kurikulum lama, bagaimana pelajaran Bahasa Indonesia terutama materi tentang novel-novel sastra lama dan angkatan-angkatan novel sastra lama, begitu menyihir kami. Didukung perpustakaan yang menyimpan koleksi lengkap buku-buku itu, membuat kami "gila" membaca. Efek yang luar biasa.
Buku cetak Bahasa Indonesia adalah buku cetak pertama yang paling diburu di saat sumpek gara-gara berisi potongan-potongan paragraf, cerpen, dan puisi serta naskah drama penulis-penulis hebat Indonesia. Dan akhirnya juga mengasah kita untuk menjawab soal Bahasa Indonesia yang dianggap susah oleh anak-anak jaman sekarang: menganalisis alur cerita dan penokohan.
Akhirnya, aku cuma mau bilang bahwa, sudah baik sih kurikulum dan materi pelajaran jaman sekarang, tapi cobalah untuk tidak mengeliminasi keterlibatan buku-buku sastra (terutama sastra lama dari penulis-penulis hebat Indonesia) meskipun memang ini sudah tahun 2016 dan sebagian orang berpikir bahwa materi-materi pelajaran yang berhubungan dengan sastra sudah tidak inovatif dan tidak relevan dengan jaman. Percayalah, dengan mengenalkan anak muda kita dengan sastra-sastra lama, membuat mereka lebih cerdas, lebih bisa berpikir bijaksana dan lebih menghargai karya sastra. Terakhir dan paling utama, membangkitkan minat baca anak bangsa.
Waktu kurikulum pendidikan jadul, buku pelajaran Bahasa Indonesia "biasa" justru merupakan buku pelajaran "Paling Luar Biasa". Saat buku-buku sains dan teknologi mencapai puncak kecemerlangan ditandai dengan cetakan baru yang lebih kontemporer, bagiku, justru buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah harus lebih menggali mundur ke belakang.
Saat ini, membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia, itu tidak semenarik membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia saat masih kurikulum lama. Buku pelajaran Bahasa Indonesia zaman sekarang lebih condong ke arah ilmu-ilmu praktis yang berguna di masyarakat dan lebih condong ke meng-eksplore kemampuan anak. Buku-buku Bahasa Indonesia jaman sekarang ya paling bahasannya pidato, pantun, puisi. Paling menarik juga tentang materi membuat sinopsis. Sudah. Sangat jarang ditemukan potongan paragraf yang diambil dari novel-novel (terlebih novel sastra lama) atau potongan cerpen-cerpen dari penulis-penulis kesohor Indonesia. Seolah-olah buku pelajaran itu mencerminkan "Aku udah gak terlalu nyastra lagi nih".
Padahal tau gak, jaman aku sekolah, hal yang terbesar yang memotivasi aku untuk membaca adalah ketika guru mulai menceritakan tentang satu dua novel sastra lama beserta penulis dan keadaan sosial politik yang melatarbelakangi kehidupan si penulis di masa itu.
Ya mungkin terlalu dangkal pikiranku, ketika aku mengatakan bahwa patokan nyastra atau enggaknya sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia adalah diukur dari seberapa banyak dan kental materi di dalamnya tentang buku-buku sastra atau hasil-hasil sastra lainnya. Tapi kalau bagi aku pribadi, banyak enggaknya unsur sastra di dalam sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia berpengaruh besar terhadap kepribadian anak bangsa. Utamanya soal budaya membaca, yang selama ini setengah mati digalakkan.
Aku masih ingat dulu, di kurikulum lama, bagaimana pelajaran Bahasa Indonesia terutama materi tentang novel-novel sastra lama dan angkatan-angkatan novel sastra lama, begitu menyihir kami. Didukung perpustakaan yang menyimpan koleksi lengkap buku-buku itu, membuat kami "gila" membaca. Efek yang luar biasa.
Buku cetak Bahasa Indonesia adalah buku cetak pertama yang paling diburu di saat sumpek gara-gara berisi potongan-potongan paragraf, cerpen, dan puisi serta naskah drama penulis-penulis hebat Indonesia. Dan akhirnya juga mengasah kita untuk menjawab soal Bahasa Indonesia yang dianggap susah oleh anak-anak jaman sekarang: menganalisis alur cerita dan penokohan.
Akhirnya, aku cuma mau bilang bahwa, sudah baik sih kurikulum dan materi pelajaran jaman sekarang, tapi cobalah untuk tidak mengeliminasi keterlibatan buku-buku sastra (terutama sastra lama dari penulis-penulis hebat Indonesia) meskipun memang ini sudah tahun 2016 dan sebagian orang berpikir bahwa materi-materi pelajaran yang berhubungan dengan sastra sudah tidak inovatif dan tidak relevan dengan jaman. Percayalah, dengan mengenalkan anak muda kita dengan sastra-sastra lama, membuat mereka lebih cerdas, lebih bisa berpikir bijaksana dan lebih menghargai karya sastra. Terakhir dan paling utama, membangkitkan minat baca anak bangsa.
Komentar
Posting Komentar