Postingan

Sedikit Oleh-oleh dari Kedai Es Krim

Aku duduk di salah satu kedai es krim paling es krim di kotaku. Bersama seorang gadis yang menurutku luar biasa. Di hadapan kami ada seporsi es krim dengan gaya taco, sepiring kentang goreng, green tea milkshake dengan es krim vanilla di atasnya dan sebotol air mineral. "Ki" ujarnya, bangkit dari posisi nyendernya di dinding "Seandainya, kamu ditawarin kerja, katakanlah jadi manager, dengan gaji 10 juta, apa yang akan kamu lakukan?" ujarnya aku senyum dikulum, memainkan sendok di gelas green tea milkshakeku, dan menyendok sedikit es krim "Aku akan nolak. Karena aku gak capable" kataku jujur dan yakin. Yakin yang pesimis sebenarnya haha. "Gini...gini" ulangnya tak sabar "Misalnya kamu ditawarin nih. Kamu terima gak?" aku tertawa "Terima lah" jawabku sambil menyendok es krim vanilla dan melumerkannya di mulutku. "Kalau aku gini, aku akan terima" katanya "Aku akan bilang, 'Saya bisa'. Kalau dita...

Aku Mengkhawatirkan Anak-anakku...

Aku pernah muda. Aku juga melalui masa SMA. Aku pernah berada dalam posisi sulit dan persaingan yang ketat dengan teman sekelas. Mungkin bedanya aku bukan orang yang berambisi tinggi. Dan tekanan sekuat apapun tak terlalu berpengaruh pada jiwaku yang pada dasarnya jiwa easy going. Aku mungkin memikirkan hinaan, tapi hinaan tak pernah berujung pada berubahnya aku secara massif. Tapi anak-anakku mulai memprihatinkan. Saat mereka masuk dalam pusaran persaingan, mereka marah, mereka kecewa, mereka terperosok ke jurang kemarahan yang membabi-buta, mereka lalu berubah dari anak manis menjadi anak-anak dengan mulut-mulut pengumpat. Mereka juga mulai bergaya yang berbeda dari mereka apa adanya. Mereka mulai berani sombong dan memperolok-olok kecerdasan orang lain. Hanya karena sebelumnya mereka suka diolok-olok ketika tertinggal dalam persaingan kecerdasan kognitif. Bukan cuma satu dua, tapi banyak anak yang mulai berubah. Rupanya aku bukan ibu yang cukup kuat untuk mengatasi segala peruba...

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Pernah gak? Mengalami saat kita nda sengaja mendengar satu buah lagu. Lalu kita anggap angin lalu. Setelah beberapa waktu kemudian tidak terlalu lama dan tidak terlalu dekat jaraknya, kita mendengar lagi lagu yang sama dan kemudian setengah mati mengingat-ngingat layaknya orang amnesia? Kalau pernah, berarti kita pernah senasib. 'Penderitaan' ini kualami minggu lalu. Saat aku lagi asyik-asyiknya menjajal tontonan The Gentlemen of Wolgyesu Tailor Shop, di scene salah satu episode, sebuah potongan lagu muncul dari dalam radio mobil di adegan itu. Sepotong aja. Tapi sudah bikin aku penasaran 3 hari 3 malam. Soalnya penasaran banget tapi apa daya ingatanku nda membuahkan hasil. Jadi jengkel sendiri. Mau dilupakan juga susah. Potongan yang kudengar di telingaku tuh kayak gini: "Nan sarang haji ana" itu aja yang ketangkap telinga. Yap, parahnya itu lagu Korea dan aku bukan orang Korea yang ahli berbahasa Korea. Mamaku ngomel aja kadang harus ku konfirmasi ulang, lah apal...

Hutang dan Janji

Belakangan ini telah terjadi banyak hal di Indonesia. Penistaan Q.S Al-Maidah: 51 dan terorisme di Samarinda, jelas-jelas telah menyedot perhatian. Perhatian yang paling besar memang disedot oleh kasus penistaan Q.S Al-Maidah: 51 oleh seorang petinggi negeri ini. Tapi sekarang, bukan itu yang ingin aku bahas di dalam tulisan sederhana ini. Aku justru akan menceritakan sesuatu yang kemudian menyadarkanku kembali tentang betapa menakjubkannya Islam mengatur urusan muamalah umatnya. Loh? Dimana sambungannya? Sebentar... kenapa tiba-tiba aku terpikir tentang Islam yang menakjubkan? Ya karena dengan kasus penistaan yang mengakibatkan umat turun aksi ke jalan dan karena kasus terorisme gereja (yang notabene pelakunya adalah orang muslim), Islam lantas dijelek-jelekkan. Umatnya pun kembali dituduh sebagai teroris dan barbar. Islam itu bukan kayak gitu. Islam itu sempurna. Dan katakanlah ilmuku terlalu cetek saat aku menuliskan tulisan ini, tapi inilah yang bisa aku sampaikan. Adalah hal y...

Pelupa

Sore ini adalah penutupan kegiatan arisan alumni SMP untuk angkatan kami. Karena sore ini giliranku, akhirnya aku yang bertanggung jawab untuk menentukan tempat arisan kami. Aku memutuskan di sebuah cafe, jalan H. Isa I. Sahabat SMPku bilang, karena ini menjelang malam minggu, kemungkinan cafe tersebut akan penuh. Tak mau mengulang pengalaman kami sebelumnya (dimana waktu itu kami akhirnya cuma kebagian tempat di teras rumah makan, gara-gara gak tahu kalau harus reservasi), akhirnya temanku menyarankan untuk reservasi dulu. Pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, aku yang kebetulan rutenya melewati cafe yang dimaksud, akhirnya singgah. Dengan lusuh habis pulang kerja dan bau matahari. Aku mereservasi satu meja untuk kami pakai arisan. Kebetulan aku langsung berhadapan dengan seseorang yang aku yakini sebagai ownernya. Dengan ramah dia menjelaskan. Lalu tibalah saat dia mulai mencatat jam pemakaian dan no meja yang akan ku reservasi, terjadilah dialog berikut ini: "Jadi, mbak ma...

Catatan Minggu Malam

Aku sama sekali tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena aku tidak menyukai profesi guru, tapi lebih kepada bahwa aku adalah seorang yang pemalu, pendiam, kikuk dan sedikit rendah diri. Sedangkan sekolah merupakan salah satu tempat publik dimana kita harus berkomunikasi dengan banyak sekali manusia entah itu murid, rekan kerja, wali murid bahkan warga dari sekolah lain. Tapi kuliah keguruan adalah pilihan mamaku. Mamaku ingin aku jadi guru. Aku yang sekarang adalah keinginan mamaku. Keinginanku yang sebenarnya adalah berada di dalam kandang entah jerapah, entah orang utan, bahkan kandang singa. Aku menyukai mengurus hewan-hewan. Aku betul-betul menyukai mereka. Selama kuliah, aku tidak terlalu rajin dan tidak terlalu berambisi. Sehingga aku hanya menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Aku bertahan hanya karena aku mengingat cita-cita teman sekelasku pas SMA. Dia orang yang benar-benar bercita-cita menjadi guru. Dan dia cocok untuk itu. Tapi kini dia lebih memilih mengabdikan ...

Buku

Dulu waktu aku ngekos, aku suka berkelakar ke temanku, "Aku nda punya barang berharga apapun di dalam kamarku kecuali 2: laptop dan buku". Tapi kenyataannya emang begitu. Di kamar kosku yang sempit, aku tidak memiliki barang berharga yang lain. Aku memilih menjalani hidup sederhana karena memang pikiranku dan uang sakuku yang teramat sederhana haha. Aku sendiri tergila-gila dengan buku semenjak SMP. Tapi karena keterbatasan uang jajan dan akses ke ibukota kabupaten, maka aku hanya mengandalkan perpustakaan sekolah dan majalah-majalah, koran atau buku-buku langganan orang tua dan kakak-kakakku. Lalu pada saat aku SMA, aku mulai sedikit demi sedikit berani punya buku sendiri (baca: beli). Uangnya bisa dapat dari pemberian paman, uang ekstra pemberian bapak pas bapak ada rizki lebih, uang bagi hasil dari bapak karena jual ayam, dan lain-lain. Meskipun waktu aku SMA aku sangat menyukai buku, tapi aku tidak terlalu memperlihatkannya. Aku -entah mengapa- bukan tipikal orang...