Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Catatan Sederhana Guru Pendamping Lomba

Aku cuma guru biasa. Aku bukan guru berprestasi. Hanya karena aku memiliki keluangan waktu, akupun diberikan kepercayaan lebih untuk mendampingi anak-anak untuk ikut lomba. Lomba apapun, meskipun lomba itu nda linier dengan bidang studi yang ku ampu. Dapat juara ataupun tidak dapat juara, aku selalu hadapi sama-sama dengan mereka. Hingga dua tahun di setiap event lomba, aku hampir selalu pergi dengan anak-anak. Setiap kami pulang dengan tangan hampa, aku selalu membesarkan hati anak-anak. Kadang kebahagiaan kami hanya sesederhana nasi kotak yang kami dapatkan dari panitia lomba, atau sesederhana semangkuk bakso traktiranku, bahkan sesederhana segelas es capcin dingin yang juga kubelikan buat mereka. Seolah gusar dan lelah sehabis lomba langsung terhapus dengan sederet makanan murah sederhana tersebut. Dan bila menang lomba, kebahagiaan kami bertambah-tambah, sorak mereka terdengar tumpah, dan aku merasa luar biasa bangga pada mereka. Hari ini, lomba pidato telah kami jalani, hati...

Plagiasi (Kejujuran dan Hati Nurani yang Dipertanyakan)

Minggu pagi, kulalui dengan membuka linimassa Facebook, sebagai bentuk penyegaran karena semalam aku memutuskan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kondisi ponsel mati dan cuma sesekali menengok Facebook untuk menghalau kantuk. Pas asik buka-buka Facebook pagi tadi, mataku bersirobok pada status salah satu adek tingkatku di kampus dulu (Adek ini satu fakultas denganku tapi beda jurusan. Hebatnya, kini dia aktif sebagai penulis teenlit dan juga owner blog yang berhubungan dengan kepenulisan. Adek ini bahkan juga sudah menerbitkan beberapa buku teenlit karyanya dan sangat peduli dengan kasus-kasus plagiasi (plagiasi: pencurian karya tulisan orang lain dan diakui seolah sebagai hasil karyanya sendiri)). Karena dia penulis dan karya dia juga pernah diplagiat orang, sehingga sangat wajar jika dia memang sangat concern dengan kasus-kasus plagiasi. Tadi pagi, status dia tentang seorang penulis muda sebut saja NDA, yang ternyata adalah seorang plagiat ulung. Aku bisa merasakan kekesa...

Angan-angan Iseng

Waktu aku SMP, sebuah gedung SMA baru, telah rampung dibangun tetapi belum diaktifkan. Letak gedung SMA itu beberapa meter jaraknya dari SMP tempat aku sekolah. Suatu sore, bersama sahabatku Irma, kami memandang ke seberang, ke arah gedung SMA baru yang sunyi itu. Irma duduk di undakan tinggi di samping tiang net. Sambil mengayun-ayunkan kakinya, dia menunjuk ke arah SMA itu dan berkata, "Nanti kalau aku SMA, aku mau sekolah disitu" tunjuknya. Aku mengikuti arah telunjuknya. "Oh, kira-kira bisakah ya aku sekolah di sekolah itu?" tanyaku pula, lebih kepada diri sendiri. Lalu aku melupakannya. Sore itu, berbeda dari temanku, aku hanya melontarkan angan-angan iseng ke udara. Kenapa? Karena konon katanya sekolah itu adalah sekolah berlabel PLUS. Yang namanya label PLUS, itu dimana-mana susah masuknya. Cuma orang pintar saja yang bisa. Irma, sahabatku sekaligus rivalku di kelas untuk rebutan rolling rangking 1,2,3, kurasa sangat pantas untuk masuk SMA PLUS tersebut. Sed...

Guru Baru, Guru Muda

Aku termasuk guru baru, termasuk guru muda juga, meskipun aku pertama menjadi guru sudah berumur 25 tahun. Di dunia ini guru termuda bisa berumur sekitar 22-23 tahun. Benar-benar fresh graduated. Tiba-tiba, saat aku duduk di perpustakaan, aku terinspirasi untuk menuliskan pengalamanku menjadi guru baru guru muda. Setidaknya, saat kita menjadi guru baru, guru muda, ada beberapa hal yang secara alamiah akan kita alami. Ini berdasarkan pengalamanku dan pengalaman yang aku lihat dari rekan-rekan kerjaku sendiri. 1. Ego Tinggi Guru baru apalagi usianya muda, biasanya memiliki ego yang tinggi. Itu terjadi karena, mereka belum memiliki pengalaman yang cukup soal mendidik anak, mengajar anak dan bahkan berinteraksi dengan anak. Guru muda kan biasanya belum menikah, umumnya mereka belum memiliki naluri keibuan (khususnya guru perempuan). Yang ada mereka masih terlalu muda. Dengan murid yang jarak usianya semakin kecil, mereka cenderung semakin keras, bukan tegas. 2. Sulit Mengambil Keput...

Menghukum Diri Sendiri

Hari Sabtu, aku memutuskan untuk menjenguk salah satu murid. Aku bertanya ke teman-temannya, sudahkah mereka menjenguk si murid? Mereka bilang, belum. Jadi akhirnya aku dan murid yang lain memutuskan untuk pergi menjenguk di hari Minggu jam 9 pagi. Tempat pertemuan kami, kami sepakati di depan Pondok Pesantren Al Kholil. Hari Minggu, jam 9 pagi aku baru jalan. Aku mengakui bahwa aku terlambat. Aku mampir di toko untuk membeli kue dan minuman lalu menunggu di tempat yang telah di tentukan. Aku tiba jam 09.15. Artinya aku terlambat 15 menit. Tapi wajah murid yang kutunggu-tunggu tidak kelihatan. Karena tempatku menunggu adalah tempat strategis yang ramai, maka akhirnya aku malu. Rasanya aku mau marah, padahal aku yang salah. Aku terlambat 15 menit dan sekarang baru saja menunggu 2 menit, rasanya sudah kayak menunggu selama 2 tahun. Akupun berpindah tempat, ke tempat yang tidak terlalu mencolok mata. Aku pindah ke seberang Pondok Pesantren Al Kholil. Dan disanalah hukumanku dimulai. ...

Protagonis yang Antagonis

Dari kecil, aku yang memang pendiam dan penurut, diam-diam mempunyai cita-cita kehidupan yang luhur (Setidaknya 'luhur' menurut definisi Rizkiani Kecil). Apa itu? Yaitu menjadi sosok protagonis* baik hati di alur kehidupanku. Dan aku sangat membenci peran antagonis**. Bagiku, peran protagonis dan antagonis memiliki perbedaan karakter yang sangat jauh. Peran protagonis adalah sosok si baik hati lagi tidak sombong dan antagonis adalah peran jahat yang memuakkan bagi semua orang. Orang-orang protagonis, bagiku, di kehidupan (maafkan aku jika pikiranku sempit dan aku termakan ide-ide sinetron) adalah orang yang selalu baik dan dia juga merupakan orang yang sering dicurangi, disakiti, ditinggalkan dan tidak dipilih, tapi kemudian menjadi pemenang di dalam drama kehidupannya. Sebaliknya orang-orang antagonis adalah orang yang berada di sisi jahat yang sering mencurangi, menyakiti, meninggalkan dan tidak memilih, dan kemudian, dia akan menjadi pecundang di dalam drama kehidupannya kar...