Bukan Farewell Party...
Aku melangkah pelan di jalan setapak menanjak. Melihat ke sekeliling. Dari kejauhan bangunan-bangunan di atas terlihat asri dan berwarna-warni. Pendopo-pendopo beraneka warna tersebar di beberapa tempat. Semakin mendekat, sayup-sayup ku dengar suara riuh penuh kegembiraan. Layaknya sebuah pesta.
Aku naik dan sampai. Banyak jejeran kursi di bawah kanopi besi. Kanopi besi beratapkan bunga Alamanda dan sulur-sulurnya yang saling menjalar satu sama lain. Alamanda berbunga. Warnanya kuning cerah dan begitu segar.
Semuanya diisi warga sekolah kami. Ya, hari ini ada pelepasan siswa-siswi kelas duabelas. Tidak ada tamu undangan eksternal. Hanya Kepala sekolah, guru, staff tata usaha, siswa kelas sepuluh dan sebelas. Dan ini lebih mirip garden party. Aku tersenyum ketika mereka menyapaku. Aku duduk. Menerima segelas es buah susu dingin. Lalu sekotak kue manis dan sekotak makan siang menyusul menemaniku. Aku duduk di belakang. Nampak menyendiri. Tapi hal itu yang paling kusukai.
Aku terlambat kali ini. Terlambat untuk pelepasan yang harusnya kuhadiri dari 2 jam yang lalu.
Di depan sana, di panggung mungil ada beberapa sound system, gitar listrik dan spanduk bertuliskan Pelepasan siswa-siswi sekolah kami.
Aku tertawa, menyapa, bersorak gembira seolah hari ini adalah pestaku. Kadang terlihat seperti pesta pernikahan, kadang terlihat seperti pesta ulang tahun dan kadang terlihat seperti mini konser.
Sesekali melayani siswa yang minta foto bareng dan kembali duduk menekuri es buah susu dingin.
Gelak tawa, nyanyian, petikan gitar, kamera-kamera, tongkat narsis, gelas plastik polkadot, kotak kue, kotak makan siang, tisu, bunga-bunga alamanda, microphone, spanduk, kanopi besi, kursi-kursi semen, bangku kayu, tas, obrolan-obrolan dan sinar matahari yang pelan-pelan menembus atap yang terbuat dari sulur dan daun tanaman bunga alamanda.
Aku tidak menangis. Karena tidak ada yang menangis. Acara menangis sudah usai. Meski ditutup dengan pelukan dan permintaan maaf, tidak ada lagi yang menangis.
Aku... bersama mereka belum genap 2 tahun. Hadir di tengah mereka seperti warna lain. Mungkin ada rasa bahagia yang sulit dilukiskan. Aku pribadi, aku bahagia. Sangat.
Aku tak sempat menyematkan do'a. Hanya permintaan maaf yang paling dalam.
Semoga kalian sukses selalu. Jangan lupakan cita-cita. Teruslah berusaha dan berkarya. I love you all. Thank you.
Aku naik dan sampai. Banyak jejeran kursi di bawah kanopi besi. Kanopi besi beratapkan bunga Alamanda dan sulur-sulurnya yang saling menjalar satu sama lain. Alamanda berbunga. Warnanya kuning cerah dan begitu segar.
Semuanya diisi warga sekolah kami. Ya, hari ini ada pelepasan siswa-siswi kelas duabelas. Tidak ada tamu undangan eksternal. Hanya Kepala sekolah, guru, staff tata usaha, siswa kelas sepuluh dan sebelas. Dan ini lebih mirip garden party. Aku tersenyum ketika mereka menyapaku. Aku duduk. Menerima segelas es buah susu dingin. Lalu sekotak kue manis dan sekotak makan siang menyusul menemaniku. Aku duduk di belakang. Nampak menyendiri. Tapi hal itu yang paling kusukai.
Aku terlambat kali ini. Terlambat untuk pelepasan yang harusnya kuhadiri dari 2 jam yang lalu.
Di depan sana, di panggung mungil ada beberapa sound system, gitar listrik dan spanduk bertuliskan Pelepasan siswa-siswi sekolah kami.
Aku tertawa, menyapa, bersorak gembira seolah hari ini adalah pestaku. Kadang terlihat seperti pesta pernikahan, kadang terlihat seperti pesta ulang tahun dan kadang terlihat seperti mini konser.
Sesekali melayani siswa yang minta foto bareng dan kembali duduk menekuri es buah susu dingin.
Gelak tawa, nyanyian, petikan gitar, kamera-kamera, tongkat narsis, gelas plastik polkadot, kotak kue, kotak makan siang, tisu, bunga-bunga alamanda, microphone, spanduk, kanopi besi, kursi-kursi semen, bangku kayu, tas, obrolan-obrolan dan sinar matahari yang pelan-pelan menembus atap yang terbuat dari sulur dan daun tanaman bunga alamanda.
Aku tidak menangis. Karena tidak ada yang menangis. Acara menangis sudah usai. Meski ditutup dengan pelukan dan permintaan maaf, tidak ada lagi yang menangis.
Aku... bersama mereka belum genap 2 tahun. Hadir di tengah mereka seperti warna lain. Mungkin ada rasa bahagia yang sulit dilukiskan. Aku pribadi, aku bahagia. Sangat.
Aku tak sempat menyematkan do'a. Hanya permintaan maaf yang paling dalam.
Semoga kalian sukses selalu. Jangan lupakan cita-cita. Teruslah berusaha dan berkarya. I love you all. Thank you.
Komentar
Posting Komentar