Kalau Kencan sama Mbaknya, Saya Harus Bayar Berapa, ya..?
Sugar, Selama hidup merantau dan jauh dari orang tua, ada aja hal yang aneh-aneh yang terjadi meskipun kita sebenarnya gak melakukan hal yang aneh-aneh.
Sama kayak pengalamanku yang ini. Sebenarnya bikin geli, marah, jengkel, dan lain-lain. Tapi kurasa gak papa dituliskan. Biar jadi bahan pembelajaran aja. Bahwa gak selamanya hal-hal aneh cuma menimpa orang yang aneh, bahwa gak selamanya juga pajang no ponsel sembarangan itu bagus. Pun pasang no ponsel di Facebook.
Yap, aku pikir, pajang no ponsel juga memiliki kemungkinan untuk mendatangkan hal yang aneh-aneh kayak gini. Dan berhubungan dengan no ponsel, saking noraknya aku dulu, di keterangan Facebookku, aku mengisi hampir semua kolom identitas yang disediakan Facebook. Naifnya, aku mengisinya dengan keterangan yang sejujur-jujurnya. Mulai dari pendidikan, alamat tempat tinggal kostku, alamat tempat tinggalku di Berau, termasuk no ponsel. Dan aku menerima semua permintaan pertemanan tanpa filter. Ckck, benar-benar gak bijaksana.
Hingga suatu malam, ponsel curutku berbunyi. Kuangkat,
"Halo, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" *suara lelaki*
"Ini siapa ya?"
"Ini aku ******, boleh kenalan gak?"
dapat serangan mendadak, langsung cengok (baca: melongo, terdiam seperti orang bodoh) fyi, dari dulu aku punya satu penyakit, aku gak bisa dengan serta merta berkomunikasi dengan mahluk dari kalangan adam. Kalaupun aku bisa berteman, tuh mahluk adam pasti: 1) Memang teman lama, teman sehari-hari ketemu atau masih hitungan keluarga dekat, 2) Pasti tu mahluk sangat sangat supel dan cair.
"Boleh kenalan gak?" aku langsung tersadar
"Maaf, masnya dapat no saya darimana ya? Masnya asalnya darimana?"
"Aku dapat no ini dari Facebook. Aku tinggal di Samarinda Sebrang"
nah, loh?
Karena gak pinter ngeles, akhirnya aku cuma bisa jawab,
"Em.. maaf, telponnya aku tutup dulu ya. Soalnya aku lagi ada tugas yang mau ku kerjakan. Assalamualaikum"
Habis itu langsung buka Facebook dan cari apakah si ****** ada di daftar teman Facebookku. Dan ternyata ada! Mati kita. Akhirnya karena kapok, no ponselku ku hapus dari kolom identitas diri di Facebook.
Kayaknya, itu baru permulaan. Ada satu petaka kemudian yang lebih parah daripada sekedar minta kenalan bersumber Facebook.
Jadi saat itu aku lagi cari kerjaan, nah kalau cari kerjaan kan memang ya, harus cantumin no ponsel di surat lamaran pekerjaan kita. Tapi ternyata hal ini juga berpeluang loh untuk disalahgunakan orang.
Suatu hari, dalam minggu-minggu sehabis aku mengantar beberapa lamaran kerja (saat itu, meski masih kuliah, aku mencoba mencari kerja part time), ada panggilan telpon masuk ke ponselku. Gak ada namanya. No baru.
"Halo, assalamualaikum", kataku mengangkat panggilan telpon orang tersebut
"Halo" *suara lelaki* "Ini dengan Kiku ya?" lanjutnya
Weh, dia tau namaku, jangan-jangan ini orang mau menawarkan pekerjaan buat aku, pikirku udah bahagia.
"Iya, benar, ini dengan saya sendiri. Ini dengan siapa ya? Ada keperluan apa?"
"Ehem... boleh kenalan gak?"
#heeeeeh??
"Hmmm... Kalau mau kencan sama mbaknya, saya kira-kira harus bayar berapa ya?"
Karpet! Keset! Taplak meja! Dia emang nawarin kerjaan tapi kerjaan yang kayak gitu! ya Allah..
Mendengar itu kayak disambar geledek aku reflek berdiri dari dudukku, kebetulan aku lagi nongkrong di kamar teman. Aku pindah ke kamarku, emosi udah mulai terpancing. Marah banget rasanya. Seumur-umur kagak ada yang berani nawar aku. Emangnya aku perempuan apaan.
"Dapat no saya darimana?" *suaraku udah mulai serem*
"Anu.. dari teman.." dia mulai gugup.
"Eh, mas, dengar ya, saya itu perempuan baik-baik!"
"Eh..oh.. maaf mbak, saya benar-benar minta maaf, benar-benar minta maaf" suara mulai setengah panik dan takut.
Aku matikan sambungan telpon dan berusaha memaksa dia lewat sms untuk kasih tau siapa yang tega-teganya menyebarkan no ponselku dan memperkenalkanku seolah-olah aku ini perempuan panggilan. Tapi usahaku gagal. Lagian aku juga kesal sekali. Aku memilih untuk tidak akan berkomunikasi lagi dengan orang gak jelas itu.
Kuceritakan dengan temanku, mereka kaget, Lantas, ada teman yang nyeletuk sambil setengah bercanda
"Lain kali, Ki, kalau ada lagi yang nelpon kamu dengan kata-kata sejenis itu, bilang:
'Emangnya uangmu seberapa banyak sih? Buat ngajak kencan anak perempuan yang gak pernah pacaran ini?' "
Hedeh..
Jadi, Sugar, pesanku:
1. Jangan sembarang cantumin no kontak pribadi di sosial media, kecuali itu untuk tujuan bisnis dan dagang.
2. Jangan suka bagi no ponsel sembarangan sama orang dan gak usah diladeni kalau ada laki-laki nda jelas yang tujuannya juga gak jelas saat menghubungi kita. Kalau udah terasa maksudnya gak baik, udahlah, gak usah diheranin. Kalau itu emang temen yang ngerjain, paling ujung-ujungnya ntar ngaku sendiri. Kalau dia bukan teman kita ternyata, ya pasti lama-lama akan terasa juga ketidakjelasannya #haha dan kalau udah tau begitu, ya udah gak usah diladeni.
3. Bijaksanalah bersosial media
Sama kayak pengalamanku yang ini. Sebenarnya bikin geli, marah, jengkel, dan lain-lain. Tapi kurasa gak papa dituliskan. Biar jadi bahan pembelajaran aja. Bahwa gak selamanya hal-hal aneh cuma menimpa orang yang aneh, bahwa gak selamanya juga pajang no ponsel sembarangan itu bagus. Pun pasang no ponsel di Facebook.
Yap, aku pikir, pajang no ponsel juga memiliki kemungkinan untuk mendatangkan hal yang aneh-aneh kayak gini. Dan berhubungan dengan no ponsel, saking noraknya aku dulu, di keterangan Facebookku, aku mengisi hampir semua kolom identitas yang disediakan Facebook. Naifnya, aku mengisinya dengan keterangan yang sejujur-jujurnya. Mulai dari pendidikan, alamat tempat tinggal kostku, alamat tempat tinggalku di Berau, termasuk no ponsel. Dan aku menerima semua permintaan pertemanan tanpa filter. Ckck, benar-benar gak bijaksana.
Hingga suatu malam, ponsel curutku berbunyi. Kuangkat,
"Halo, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" *suara lelaki*
"Ini siapa ya?"
"Ini aku ******, boleh kenalan gak?"
dapat serangan mendadak, langsung cengok (baca: melongo, terdiam seperti orang bodoh) fyi, dari dulu aku punya satu penyakit, aku gak bisa dengan serta merta berkomunikasi dengan mahluk dari kalangan adam. Kalaupun aku bisa berteman, tuh mahluk adam pasti: 1) Memang teman lama, teman sehari-hari ketemu atau masih hitungan keluarga dekat, 2) Pasti tu mahluk sangat sangat supel dan cair.
"Boleh kenalan gak?" aku langsung tersadar
"Maaf, masnya dapat no saya darimana ya? Masnya asalnya darimana?"
"Aku dapat no ini dari Facebook. Aku tinggal di Samarinda Sebrang"
nah, loh?
Karena gak pinter ngeles, akhirnya aku cuma bisa jawab,
"Em.. maaf, telponnya aku tutup dulu ya. Soalnya aku lagi ada tugas yang mau ku kerjakan. Assalamualaikum"
Habis itu langsung buka Facebook dan cari apakah si ****** ada di daftar teman Facebookku. Dan ternyata ada! Mati kita. Akhirnya karena kapok, no ponselku ku hapus dari kolom identitas diri di Facebook.
Kayaknya, itu baru permulaan. Ada satu petaka kemudian yang lebih parah daripada sekedar minta kenalan bersumber Facebook.
Jadi saat itu aku lagi cari kerjaan, nah kalau cari kerjaan kan memang ya, harus cantumin no ponsel di surat lamaran pekerjaan kita. Tapi ternyata hal ini juga berpeluang loh untuk disalahgunakan orang.
Suatu hari, dalam minggu-minggu sehabis aku mengantar beberapa lamaran kerja (saat itu, meski masih kuliah, aku mencoba mencari kerja part time), ada panggilan telpon masuk ke ponselku. Gak ada namanya. No baru.
"Halo, assalamualaikum", kataku mengangkat panggilan telpon orang tersebut
"Halo" *suara lelaki* "Ini dengan Kiku ya?" lanjutnya
Weh, dia tau namaku, jangan-jangan ini orang mau menawarkan pekerjaan buat aku, pikirku udah bahagia.
"Iya, benar, ini dengan saya sendiri. Ini dengan siapa ya? Ada keperluan apa?"
"Ehem... boleh kenalan gak?"
#heeeeeh??
"Hmmm... Kalau mau kencan sama mbaknya, saya kira-kira harus bayar berapa ya?"
Karpet! Keset! Taplak meja! Dia emang nawarin kerjaan tapi kerjaan yang kayak gitu! ya Allah..
Mendengar itu kayak disambar geledek aku reflek berdiri dari dudukku, kebetulan aku lagi nongkrong di kamar teman. Aku pindah ke kamarku, emosi udah mulai terpancing. Marah banget rasanya. Seumur-umur kagak ada yang berani nawar aku. Emangnya aku perempuan apaan.
"Dapat no saya darimana?" *suaraku udah mulai serem*
"Anu.. dari teman.." dia mulai gugup.
"Eh, mas, dengar ya, saya itu perempuan baik-baik!"
"Eh..oh.. maaf mbak, saya benar-benar minta maaf, benar-benar minta maaf" suara mulai setengah panik dan takut.
Aku matikan sambungan telpon dan berusaha memaksa dia lewat sms untuk kasih tau siapa yang tega-teganya menyebarkan no ponselku dan memperkenalkanku seolah-olah aku ini perempuan panggilan. Tapi usahaku gagal. Lagian aku juga kesal sekali. Aku memilih untuk tidak akan berkomunikasi lagi dengan orang gak jelas itu.
Kuceritakan dengan temanku, mereka kaget, Lantas, ada teman yang nyeletuk sambil setengah bercanda
"Lain kali, Ki, kalau ada lagi yang nelpon kamu dengan kata-kata sejenis itu, bilang:
'Emangnya uangmu seberapa banyak sih? Buat ngajak kencan anak perempuan yang gak pernah pacaran ini?' "
Hedeh..
Jadi, Sugar, pesanku:
1. Jangan sembarang cantumin no kontak pribadi di sosial media, kecuali itu untuk tujuan bisnis dan dagang.
2. Jangan suka bagi no ponsel sembarangan sama orang dan gak usah diladeni kalau ada laki-laki nda jelas yang tujuannya juga gak jelas saat menghubungi kita. Kalau udah terasa maksudnya gak baik, udahlah, gak usah diheranin. Kalau itu emang temen yang ngerjain, paling ujung-ujungnya ntar ngaku sendiri. Kalau dia bukan teman kita ternyata, ya pasti lama-lama akan terasa juga ketidakjelasannya #haha dan kalau udah tau begitu, ya udah gak usah diladeni.
3. Bijaksanalah bersosial media
Komentar
Posting Komentar