Edisi Suka Duka bareng Crut: Crut dan Pangeran FPIK

Bersyukurlah kamu, jika kamu ditolong Allah SWT melalui perantara seorang manusia yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, hehe. Tapi bersabarlah kamu jika kamu diberi rizki sebuah motor durhaka tiada tara wkwk.

Di hidupku, salah satu sesi kehidupan yang cukup keras adalah ketika aku kuliah. Memang aku kuliahnya gak jauh sih, masih di satu provinsi yang sama dengan kampung halamanku. Tapi di sana aku berupaya untuk hidup mandiri. Apalagi semenjak kakakku yang saat itu tinggal satu kota denganku, memutuskan untuk pulang kampung ke kampung halaman kami, Berau dan kakak sepupuku juga udah lulus dan pulang juga ke Berau.

Tapi baiknya kakak sepupuku yang udah lulus ini beserta paman dan bibiku adalah, mereka meminjami aku sebuah tunggangan kuliah berupa sebuah motor separuh baya angkatan tahun 2000 bermerk Honda Supra. Motor ini udah sedikit dipereskan. Konon katanya, ini supaya memudahkan kakak sepupuku untuk menaikinya. Karena kakak sepupuku ini cantik dan berpostur imut-imut. Motor ini unik sih karena dia udah agak tua tapi masih sehat dan bugar. Warna strip bodynya hijau. Dan di bagian kepalanya ada stiker mirip muncratan air disertai tulisan "Crut". Sejak saat itu, motor ini  kami namai si Crut.

Si Crut berjasa banget. Mulai dari nganterin kuliah, nganterin orang lain kuliah, dipakai kerja sambilan, pokoknya bukan cuma mempermudah aku. Tapi juga mempermudah teman-teman dan umat #tsah. Tapi selain berjasa, terkadang si Crut juga suka marah. Apalagi makin lama aku makin gak perhatian. Sebenarnya bukan gak perhatian sih, wong tiap bulan aku selalu mengahabiskan ratusan ribu buat servis si Crut. Tapi aku tuh ya emang agak malas nyuci dia haha. Dan ya, kalau udah si Crut marah, siap-siap aja deh merasakan duka petaka dari kedurhakaannya pada majikannya. Tapi di kisah kali ini mungkin bisa dikatakan bahwa Crut membawa duka menuju suka. Dan kisah ini akhirnya menjadi pelajaran buatku. Banyak, banyak sekali pelajaran yang ku petik dari kisah suka dukaku bersama Crut ini.

Jadi, di suatu siang yang panas, di tahun 2010, aku buru-buru izin pulang dari sekolah. Saat itu aku lagi menjalani PPL (Praktek Pengalaman Lapangan atau ada juga yang bilang Program Pengalaman Lapangan), PPL ini merupakan salah satu program kuliah yang harus dijalani oleh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Bentuknya adalah mengajar di sebuah sekolah yang sudah ditentukan oleh UPT PPL kampus, dalam kurun waktu yang juga telah ditentukan dan kostenlos alias tanpa digaji hehe.

Hari itu, bukan tanpa alasan aku izin pulang duluan. Aku ada agenda pertemuan yang penting. Aku harus pergi kajian. Dan itu gak boleh telat. Maka, akupun memacu si Crut, untuk lari ke kawasan kampus Universitas Mulawarman. Karena aku dari arah sekolah, otomatis rute yang kujalani adalah kawasan utama kampus Universitas Mulawarman, yang mana daratannya terdiri dari gunung-gunung kecil (mungkin asal muasalnya disebut kampus Gunung Kelua, karena jalannya yang begunung-gunung itu kali ya wehehe). Saat mulai memasuki kawasan di depan kampus Magister Kehutanan sekaligus kawasan Magister Pendidikan, si Crut mulai kayak nenek-nenek naik tangga trus kena encok. Awalnya ketika nanjak, dia mulai terasa pelan jalannya, makin nanjak makin pelan, aku, karena baik hati, tidak sombong dan selalu berpositif thinking, gak pernah menyangka sedikitpun bahwa sedetik kemudian pengkhianatan Crut bakal dia lakukan. Sampai akhirnya, si Crut benar-benar mati. Glek! Apa yang salah ya? Perasaan bensinnya ada aja. Oli juga baik aja. Kabulator juga sip. Aku segera turun. Segera ngerem tangan. Bahaya kan kalau gak di rem terus mundur turun ke bawah? Ah, Crut, ngambeknya disaat yang tidak tepat nih.

Akhirnya sambil mendaki, aku mendorong motor berusaha untuk sampai ke tempat yang menurutku aman. Sambil berpikir akan berteduh sebentar, mengumpulkan energi buat mendorong ni motor taplak ke bengkel motor terdekat. Di pikiranku, aku udah merencanakan Plan A, B, dan C. Sibuk mikir, habis ini aku ke bengkel, lalu ke kost jalan kaki, lalu... tapi tenang aja, isi pikiranku rata-rata optimis haha karena aku juga udah terbiasa ditimpa kesulitan bahkan yang lebih sulit dari kondisi macam ini.
Meskipun kawasan kampus Magister ini terbilang sepi, tapi sebenarnya kawasan ini nda sepi-sepi amat. Ini jamnya anak-anak pulang kuliah dan jamnya makan siang. Tentu saja yang namanya kampus pasti ada saja mahasiswa yang bersliweran. Selama aku mendorong si Crut, tidak ada satupun yang berhenti untuk menolongku.

Sampai kemudian, belum selesai aku menjalankan plan A ku, tiba-tiba sebuah motor biru menepi tepat beberapa meter di depanku. Tergopoh-gopoh pengendaranya turun dan memburuku yang sedang (terlihat) kepayahan. 

"Mbak, motornya mogok ya, sini biar saya aja yang bawa"

aku kaget, ini aku anggap sebagai serangan mendadak: tiba-tiba ada laki-laki muncul di hadapanku seperti hujan yang tiba-tiba jatuh dari langit. Aku nda sempat memikirkan apa-apa bahkan untuk sekedar merespon.

"Enggak usah, mas. Gak papa kok. Saya bisa bawa sendiri" Aku menatap wajah lelaki tersebut, buru-buru menunduk dan buru-buru lanjut mendorong motor.
Dia kembali mengejarku dan bilang,
"Sini biar saya aja yang bawa. Lihat tuh wajah mbaknya udah pucat begitu" katanya masih bersikeras mengambil motorku. Syukur ini kejadian udah beberapa tahun yang lalu. Coba kalau kejadiannya sekarang-sekarang, otakku yang gak sinkron bisa mengira bahwa ini adalah pembegalan bergaya romantis ckck.
Sesaat aku ragu. Aku jujur saat itu takut. Tapi aku lebih takut lagi kalau jantungku copot dan jatuh ke tanah gara-gara dia nda mau menjauh dari aku. Atau takut tiba-tiba tanganku tepegang dia saat dia berusaha mengambil alih motorku. Akhirnya aku melepaskan motorku. Dia berjalan di depanku, membawa motorku, menepikannya ke tempat aman dan mulai memeriksa kerusakannya. 

"Ka..kayaknya.. businya deh mas yanag bermasalah" kataku tergagap. Berharap dia berhenti, memberikan aku sepatah dua patah semangat lalu pergi meninggalkanku. Itulah harapanku. 
Tapi kulihat dia masih terus memeriksa dan kemudian menoleh padaku. Aku menunduk. Dia berdiri, berhenti memeriksa motorku. 
*Syukurlah.. pasti bentar lagi dia pergi. Karena kusimpulkan dia gagal membuat motorku kembali menyala. Sebentar lagi dia pasti malu karena gagal nyalain dan akhirnya pamit pergi wkwkwkw *aku udah ketawa setan dalam hati.

Tapi yang terjadi selanjutnya adalah, boro-boro dia pergi, dia malah merogoh ponsel di sakunya dan mulai menelpon seseorang.
"Eh, kau dimana?"
"..."
"Di Pujasera? Lagi makan? atau sudah selesai makan?"
"..."
"Bisa kesini kah? Bisa bantu aku?"

Lah.. kok jadi panjang urusan kayak gini ya?

Dia menutup telpon. Kami berdua terdiam. 

"Mbaknya orang Berau ya?"tanyanya

dengan muka wow keGRan, berasa tak percaya, aku melongo sebentar, kok dia bisa tau aku dari Berau? Jangan-jangan dia itu sebenarnya...

"Kok mas tau saya dari Berau?"

"Tuh.. platnya" katanya santai sambil menunjuk plat motorku.

Rasanya aku mau nepok jidat sekeras-kerasnya. Dalam hati aku memaki diri sendiri, 'Ya iyalah, Kiku bego, motor kan bisa dilihat asalnya dari platnya. Dan membaca plat adalah pengetahuan umum yang bisa diketahui oleh siapapun di dunia ini.

"Mbaknya anak apa?" lanjutnya.
"FKIP" sahutku pendek. Karena gak enak dia mulu yang tanya, akhirnya aku balik tanya
"Kalau masnya?"
"Aku anak FPIK (FPIK: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan)"
"Oh.."

Udah, setelah itu kami berdua diam. Nda berapa lama orang yang dia telpon datang. Mereka tampak bercakap-cakap sebentar kemudian menoleh ke aku,
"Mbak, mbak bawa motor saya aja ya. Biar saya dan teman saya yang bawa motornya"
aku shock! Aku? Bawa motor laki-laki yang baru beberapa puluh menit yang lalu ku kenal? Serius?
"Mbak..?" dia melihat aku melongo. Aku buru-buru naik ke motornya. Masih melongo. 
"Mbak? Kenapa? Mbak gak bisa bawa motor jenis ini?" katanya sembari mendekat.
Oh, tidak. Jangan mendekat.
"Eng.. enggak kok. I.. Iya. Nanti saya bawa motor mas" dia kembali menjauh. Aku diam-diam menghela nafas lega. 

Akhirnya dia membawa motorku ke bengkel motor terdekat. Yang juga kebetulan bengkel ini berada di depan gang kostku.
"Kost mbak dimana?" tanyanya
"Oh kebetulan dekat aja kok. Di dalam sini aja"
"Oh.. kalau gitu saya antar sampai disini aja ya"
"Oh iya. Terimakasih banyak mas"
Setelah pamit, dia dan temannya kemudia berlalu pergi.
"Terimakasih banyak" ulangku.

Nah demikianlah kisah tersebut berakhir. Gimana? Udah mirip pilem KCB belum? haha. Beda banget dengan pilem KCB, kami tidak pernah lagi bertemu setelah itu. Si baik hati yang nda pernah kutahu nama dan asal-usulnya itu tidak pernah bertemu lagi denganku. Mungkin pernah ketemu, tapi aku sudah lupa wajahnya. Mungkin. 

Yang jelas, semenjak itu aku selalu mendo'akan dia semoga dia selalu diberikan Allah SWT rizki yang yang lebih dan berkah dan selalu sehat. Aamiin.  

Sementara itu, setelah kejadian itu aku jadi bulan-bulanan bahan godaan teman-teman gadisku. Mereka selalu bilang "Beh, Kiku.. ketemu pangeran berkuda yang telah menyelamatkan nyawanya dari ancaman marabahaya Ciyee"

Hedeuh -__-"

Pelajaran yang bisa diambil:
Kebaikan gak pilih-pilih orang. Selama kita mampu dan gak melanggar syara' (aturan Allah SWT, aturan agama), kita harus selalu tolong menolong.

Oia, terakhir,
Dimanapun anda, terimakasih banyak dan maaf sudah merepotkan.. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Guru Baru, Guru Muda

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa