Suatu Siang di Kelas Ujung

Sugar, konon katanya (nyatanya sih sebenarnya), kelas dijam siang yang kumasuki hari itu adalah kelas yang diisi murid-murid berkemampuan kognitif teruncit. Selain itu, sebagian besarnya juga merupakan anak-anak yang suka gagal fokus dan doyan tidur, kalau pun mereka gak tidur, ada saja ulah yang mereka lakukan yang ujung-ujungnya konon (nyatanya) mampu menggaduhkan kelas. Dan karena track record inilah, kelas ini harus diterapkan strategi mengajar dan mengganjar yang khusus. 

Omong-omong soal strategi mengganjar, aku sempat terkagum-kagum dengan cerita acilku (Tanteku). Suatu hari acilku cerita bahwa pamanku (fyi pamanku adalah salah satu guru dan wakil kepala sekolah di suatu SMP Negeri) adalah guru yang paling diandalkan dalam hal menangani anak-anak yang katanya nakal. Keahlian pamanku ini menurutku sangat keren. Dikesehariannya beliau adalah orang yang lucu dan humoris. Bagaimana bisa di kelas dia menjadi salah satu guru yang disegani sekaligus disukai anak-anak?
Acilkupun mulai bercerita,
"Jadi, ada lakanak, lakanak attu paningngal. Gila batarappak, bagandang di mija. Guru-guru cadada nu tahan dangngan lakanak ini. Talla dilarang, talla dibising, tattap saja digawaynya lakunya. Mangka jinnya kawalnya (kawal pamanku, maksudnya),
"Pak, saya nda tahan dengan anak ini. Dimarahi sudah, dilarang baik-baik sudah, tapi tetap saja dia nakal di kelas dan tetap saja dia hobi bergendang di atas meja" keluh kawalnya.
Nah, datang jua ia ini ka kallas ah. Lakanak attu cada dibisingnya. Dikiaunya saja, jinnnya, "Sini kau gae" abis attu dibawanya lakanak attu nuun ka balakang sakula. Di muka dinding batu, bapada ia,
"Amun kau andak batarittik, disini jalannya, gae. Lain di kallas. Nah, batarittik kau disini puas-puas, jangan kau binggan sampai aku bapaling lagi kamai" nah, abis attu dikiaukannya lakanak sabiji lagi. Disurunya manjagai lakanak nu batarittik ini. Mulai dari sana, jadikan jarranya ulli lakanak ah. Cada lagi ia barani batarittik di kallas"
Kami semua ketawa mendengar cerita itu. Sori ya, ceritanya dalam bahasa Berau. Ini terjemahan bahasa Indonesianya:
"Jadi, ada anak, anak itu nakal banget. Suka banget begendang di meja (memukul meja). Guru-guru tidak ada yang tahan dengan anak ini. Sudah dilarang, sudah dimarahi, tetap saja kelakuannya tambah menjadi. Akhirnya kata temannya (teman pamanku, maksudnya),
'Pak, saya nda tahan dengan anak ini. Dimarahi sudah, dilarang baik-baik sudah, tapi tetap saja dia nakal di kelas dan tetap saja dia hobi bergendang di atas meja" keluh temannya (teman pamanku).
Nah, akhirnya datanglah paman ke kelas anak tersebut. Anak itu ternyata tidak dimarahi olehnya. Cuma dipanggil, terus dibilangi, "Sini kau, gae ('Gae' ini kalau orang Berau dipakai untuk sapaan laki-laki, tapi biasanya hanya laki-laki yang lebih besar atau dewasa dari segi umur saja yang disapa dengan kata ini)". Habis itu, anak tersebut di bawa ke belakang sekolah, Di depan dinding tembok, berkatalah dia (pamanku) ke anak itu,
"Kalau mau begendang, disini tempatnya, gae, Nah, ayo kamu begendang disini puas-puas, jangan berhenti sampai bapak kembali lagi kesini"
Habis itu, dipanggillah satu anak lagi buat mengawasi si anak nakal ini.
Sejak saat itu, itu anak akhirnya kapok. Dia kemudian tidak pernah lagi terlihat begendang di dalam kelas.

Keren? Bagiku iya.
Jadi contoh? O pasti, aku sangat tertarik.
Tapi aku gak nyangka, kalau besok, strategi ini malah membuat heboh di sekolah.

Besoknya, seperti biasa, aku ngajar. Dan di kelas ujung, adalah jam terakhir yang kuisi sebelum jam pulangan. Seperempat pertama kelas berjalan baik meskipun terasa agak gak kondusif. Cuaca lumayan panas dan entah kenapa penduduk kelas ujung beberapa minggu belakangan ini kayak sensitif sekali. Bukan beberapa. Tapi hampir semua anak yang ada di dalam kelas.

Setengah perjalanan mengajar, terjadi beberapa keributan kecil. Saking mereka emosinya satu sama lain, mereka gak sadar sudah memotong penjelasanku tentang pelajaran. Kepalaku mulai menghangat. Pelipisku udah berdenyut-denyut nih.

"Oke" Suaraku memecah kelas. Meski nyaring, suaraku masih kentara kalemnya.
"Kalian ya, sudah dari tadi ibu ingetin gak berkelahi di dalam kelas. Masih aja"
otakku muter, tapi kayaknya puterannya kurang, jadi nanggung, yang terjadi selanjutnya adalah...

'Oke, saatnya pasang strategi mengganjar, ala paman'
batinku. Bangga nih ceritanya. Yakin, 100% bakal sukses.

"Oke. Kalau kalian mau ribut, ribut sudah. Saya kasih waktu 10 menit. Awas kalau berhenti ngomong!"
ancamku garang
biasanya hal ini berhasil. Harusnya, ya kan? Sudah terbukti loh. Harusnya aku dapat nobel perdamaian gara-gara kalimat dan strategi kontroversialku ini yang pasti bakal mendamaikan kelas yang carut marut ini. Menyuruh ngobrol itu majas bah. Sindiran. Dalam hati aku tersenyum lebar selebar daun talas. Strategi membalikkan arah kayak yang paman lakukan ke muridnya ini, jelas sudah kutiru dengan cara yang juga keren seperti cara paman.

Namun yang terjadi sedetik kemudian adalah...

"KAU ITU YANG DIAM" Si murid Cewek memaki. Bukan ke aku, tapi tepatnya ke teman sekelasnya yang tadi sempat jadi lawan debat mulutnya, yang sebelum-sebelumnya sempat kulerai.

Si murid cowok yang merasa dimarahin, mulai terpancing
"APA? PANGGIL NAH SINI. BAPAKMU KAH, SAUDARAMU KAH, COWOKMU KAH, SIAPAPUN. AKU NDA TAKUT"

Senyum dalam hatiku yang selebar daun talas mulai pudar sesenti.

"OKE. TUNGGU AJA"
yang lain mulai sibuk melerai, aku masih diam, sesuai kesepakatanku. Aku masih berdiri memegang sandaran kursiku.

"IYALAH KAU KIRA AKU TAKUT" kata si murid cowok tak mau kalah

di saat ini muncullah musuh, si propokator durhaka, pengkhianat tidak berbudi luhur
berkata dia sama si murid cewek,

"Panggil sana, sok juga kamu"

Si anak cewek mulai naik pitam,
demi menahan diri, kursiku kuat-kuat kugenggam

"OKE! KAU KIRA AKU TAKUTKAH HA? B*****!" serta merta si anak cewek mengamuk mengkucingbuta ke arah si anak cowok.
Kelas heboh.
Aku panik.
Ini lebih heboh daripada hebohnya video anak SMA ngaku-ngaku anak jenderal.

Kutangkap tu anak cewek. Dia nangis meraung. Kalap.
Anak cewek itu teriak histeris.
"AKU MAU PULANG! AKU MAU PULANG!!"
Dia lari keluar kelas. Aku kejar. Sambil tarik-tarikan.

Wakil kepala sekolah menghampiri,
wali kelasnya datang,
anak-anak kelas XII di perpustakaan kaget
anak-anak yang lagi ulangan pada ninggalin kertas ulangannya
aku? PUCAT.

***
Aku menundukkan kepala memberi hormat ke wakil kepala sekolah yang baru selesai menasehati anak-anak. Pintu kelas kembali ku tutup dan kami terdiam merenungi kesalahan kami masing-masing. Ya. Kami. Saya dan anak-anak.
Ku berikan juga sedikit nasehat. Mereka mengangguk paham. Sebelum aku berbalik ke papan tulis, salah satu anak nyeletuk
"Ibu sih... pakai acara 10 menit bicara tanpa henti. Ya, dipakai kelahi.."
Mendengar itu senyum daun talas di hatiku berubah jadi nangis Mumbay edisi meraung huaaaa...
***

Jadi sugar, pelajarannya adalah
- Strategi mengajar dan mengganjar siswa benar-benar perlu dipikirkan matang-matang dan tidak bisa diterapkan secara umum. Dia harus per kasus. Setiap kondisi, setiap kelas itu beda-beda. Apalagi beda jenjang. Harus hati-hati sekali.
- Jangan melakukan apapun yang dilakukan oleh orang lain, sama persis mejeplak cara orang lain supaya sama kerennya sama kita. It doesn't works. Mereka ya mereka. Kita ya kita. Pengalaman menempa mereka jadi 'sakti', begitu juga dengan kita. Tetap lakukan langkah orisinal dan dalam langkahmu itu kamu boleh kok berimprovisasi.
Belajarlah dari pengalaman bodohku ini ya, Sugar..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Love, My Bride (2014): Karena Pernikahan tak selalu Semanis Madu

Guru Baru, Guru Muda

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa