Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Aku Mengkhawatirkan Anak-anakku...

Aku pernah muda. Aku juga melalui masa SMA. Aku pernah berada dalam posisi sulit dan persaingan yang ketat dengan teman sekelas. Mungkin bedanya aku bukan orang yang berambisi tinggi. Dan tekanan sekuat apapun tak terlalu berpengaruh pada jiwaku yang pada dasarnya jiwa easy going. Aku mungkin memikirkan hinaan, tapi hinaan tak pernah berujung pada berubahnya aku secara massif. Tapi anak-anakku mulai memprihatinkan. Saat mereka masuk dalam pusaran persaingan, mereka marah, mereka kecewa, mereka terperosok ke jurang kemarahan yang membabi-buta, mereka lalu berubah dari anak manis menjadi anak-anak dengan mulut-mulut pengumpat. Mereka juga mulai bergaya yang berbeda dari mereka apa adanya. Mereka mulai berani sombong dan memperolok-olok kecerdasan orang lain. Hanya karena sebelumnya mereka suka diolok-olok ketika tertinggal dalam persaingan kecerdasan kognitif. Bukan cuma satu dua, tapi banyak anak yang mulai berubah. Rupanya aku bukan ibu yang cukup kuat untuk mengatasi segala peruba...

Tiga Hari Tiga Malam Mencari I Don't Love You-nya Urban Zakapa

Pernah gak? Mengalami saat kita nda sengaja mendengar satu buah lagu. Lalu kita anggap angin lalu. Setelah beberapa waktu kemudian tidak terlalu lama dan tidak terlalu dekat jaraknya, kita mendengar lagi lagu yang sama dan kemudian setengah mati mengingat-ngingat layaknya orang amnesia? Kalau pernah, berarti kita pernah senasib. 'Penderitaan' ini kualami minggu lalu. Saat aku lagi asyik-asyiknya menjajal tontonan The Gentlemen of Wolgyesu Tailor Shop, di scene salah satu episode, sebuah potongan lagu muncul dari dalam radio mobil di adegan itu. Sepotong aja. Tapi sudah bikin aku penasaran 3 hari 3 malam. Soalnya penasaran banget tapi apa daya ingatanku nda membuahkan hasil. Jadi jengkel sendiri. Mau dilupakan juga susah. Potongan yang kudengar di telingaku tuh kayak gini: "Nan sarang haji ana" itu aja yang ketangkap telinga. Yap, parahnya itu lagu Korea dan aku bukan orang Korea yang ahli berbahasa Korea. Mamaku ngomel aja kadang harus ku konfirmasi ulang, lah apal...

Hutang dan Janji

Belakangan ini telah terjadi banyak hal di Indonesia. Penistaan Q.S Al-Maidah: 51 dan terorisme di Samarinda, jelas-jelas telah menyedot perhatian. Perhatian yang paling besar memang disedot oleh kasus penistaan Q.S Al-Maidah: 51 oleh seorang petinggi negeri ini. Tapi sekarang, bukan itu yang ingin aku bahas di dalam tulisan sederhana ini. Aku justru akan menceritakan sesuatu yang kemudian menyadarkanku kembali tentang betapa menakjubkannya Islam mengatur urusan muamalah umatnya. Loh? Dimana sambungannya? Sebentar... kenapa tiba-tiba aku terpikir tentang Islam yang menakjubkan? Ya karena dengan kasus penistaan yang mengakibatkan umat turun aksi ke jalan dan karena kasus terorisme gereja (yang notabene pelakunya adalah orang muslim), Islam lantas dijelek-jelekkan. Umatnya pun kembali dituduh sebagai teroris dan barbar. Islam itu bukan kayak gitu. Islam itu sempurna. Dan katakanlah ilmuku terlalu cetek saat aku menuliskan tulisan ini, tapi inilah yang bisa aku sampaikan. Adalah hal y...

Pelupa

Sore ini adalah penutupan kegiatan arisan alumni SMP untuk angkatan kami. Karena sore ini giliranku, akhirnya aku yang bertanggung jawab untuk menentukan tempat arisan kami. Aku memutuskan di sebuah cafe, jalan H. Isa I. Sahabat SMPku bilang, karena ini menjelang malam minggu, kemungkinan cafe tersebut akan penuh. Tak mau mengulang pengalaman kami sebelumnya (dimana waktu itu kami akhirnya cuma kebagian tempat di teras rumah makan, gara-gara gak tahu kalau harus reservasi), akhirnya temanku menyarankan untuk reservasi dulu. Pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, aku yang kebetulan rutenya melewati cafe yang dimaksud, akhirnya singgah. Dengan lusuh habis pulang kerja dan bau matahari. Aku mereservasi satu meja untuk kami pakai arisan. Kebetulan aku langsung berhadapan dengan seseorang yang aku yakini sebagai ownernya. Dengan ramah dia menjelaskan. Lalu tibalah saat dia mulai mencatat jam pemakaian dan no meja yang akan ku reservasi, terjadilah dialog berikut ini: "Jadi, mbak ma...

Catatan Minggu Malam

Aku sama sekali tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena aku tidak menyukai profesi guru, tapi lebih kepada bahwa aku adalah seorang yang pemalu, pendiam, kikuk dan sedikit rendah diri. Sedangkan sekolah merupakan salah satu tempat publik dimana kita harus berkomunikasi dengan banyak sekali manusia entah itu murid, rekan kerja, wali murid bahkan warga dari sekolah lain. Tapi kuliah keguruan adalah pilihan mamaku. Mamaku ingin aku jadi guru. Aku yang sekarang adalah keinginan mamaku. Keinginanku yang sebenarnya adalah berada di dalam kandang entah jerapah, entah orang utan, bahkan kandang singa. Aku menyukai mengurus hewan-hewan. Aku betul-betul menyukai mereka. Selama kuliah, aku tidak terlalu rajin dan tidak terlalu berambisi. Sehingga aku hanya menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Aku bertahan hanya karena aku mengingat cita-cita teman sekelasku pas SMA. Dia orang yang benar-benar bercita-cita menjadi guru. Dan dia cocok untuk itu. Tapi kini dia lebih memilih mengabdikan ...

Buku

Dulu waktu aku ngekos, aku suka berkelakar ke temanku, "Aku nda punya barang berharga apapun di dalam kamarku kecuali 2: laptop dan buku". Tapi kenyataannya emang begitu. Di kamar kosku yang sempit, aku tidak memiliki barang berharga yang lain. Aku memilih menjalani hidup sederhana karena memang pikiranku dan uang sakuku yang teramat sederhana haha. Aku sendiri tergila-gila dengan buku semenjak SMP. Tapi karena keterbatasan uang jajan dan akses ke ibukota kabupaten, maka aku hanya mengandalkan perpustakaan sekolah dan majalah-majalah, koran atau buku-buku langganan orang tua dan kakak-kakakku. Lalu pada saat aku SMA, aku mulai sedikit demi sedikit berani punya buku sendiri (baca: beli). Uangnya bisa dapat dari pemberian paman, uang ekstra pemberian bapak pas bapak ada rizki lebih, uang bagi hasil dari bapak karena jual ayam, dan lain-lain. Meskipun waktu aku SMA aku sangat menyukai buku, tapi aku tidak terlalu memperlihatkannya. Aku -entah mengapa- bukan tipikal orang...

Sakitnya sih Nda Seberapa

Pagi menjelang siang, aku butuh kertas untuk UTS. Sudah jadi kebiasaanku, menyiapkan kertas jawaban sendiri. Kecuali kalau ada hal-hal tertentu, barulah aku menyuruh anak-anak merobek kertas untuk lembar jawaban mereka sendiri.  Kemudian aku melihat di depan kantor, dua kelompok anak sedang baris berbaris rapi. Tapi tampaknya dua kelompok barisan ini ada aura-aura nda enak. Entah, kok feelingku bilang mereka kayak lagi melakukan salah atau apalah yang merupakan sesuatu yang nda enak.  Maka aku berlalulah di sisi belakang anak-anak yang baris. Entah apa yang terjadi dengan kakiku, aku kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh mendarat sukses di tanah. Superrrr... dan berakhir dengan posisi persis kayak orang ancang-ancang mau lomba lari marathon. Kaki di tekuk, kedua telapak tangan menapak tanah, dengan wajah tertunduk.  Sesaat semua kaget. Aku sendiripun kaget. Lalu ku pejamkan mata kuat-kuat sambil memaki dalam hati "Duh". Sesaat ku buka mata, berdiri sok-sok...

Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum Jadul dan Minat Baca Anak Bangsa

Sebagian besar orang bilang di artikel-artikel mereka, bahwa minat baca seorang anak manusia sebenarnya dipengaruhi oleh minat dan budaya membaca keluarganya. Dalam hal ini khususnya kedua orang tuanya. Tapi kalau aku pribadi sih, minat baca juga dipengaruhi oleh materi-materi di dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Waktu kurikulum pendidikan jadul, buku pelajaran Bahasa Indonesia "biasa" justru merupakan buku pelajaran "Paling Luar Biasa". Saat buku-buku sains dan teknologi mencapai puncak kecemerlangan ditandai dengan cetakan baru yang lebih kontemporer, bagiku, justru buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah harus lebih menggali mundur ke belakang. Saat ini, membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia, itu tidak semenarik membuka buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia saat masih kurikulum lama. Buku pelajaran Bahasa Indonesia zaman sekarang lebih condong ke arah ilmu-ilmu praktis yang berguna di masyarakat dan lebih condong ke meng-eksplore kemampu...

Jajak Pendapat Kelas Z

Hujan turun rintik-rintik, angin dingin berhembus, udara lembab. Satu dua murid berjaket warna gelap, pelan-pelan berjalan, berhambur di lapangan dan koridor-koridor sekolah. Hari ini Senin. Meskipun lembab dan dingin, kami tetap belum tau apakah upacara bendera ditunda atau tetap dilaksanakan. Aku nongkrong di kantor guru. Sesekali sambil melamun. Sesekali mengutak-atik netbook. "Bu," panggil guru yang duduk di depanku sambil menoleh ke belakang. "Bagaimana pendapat ibu pas ibu ngajar di kelas Z" sebut si ibu guru mengawali sharingnya. Ya, kami memang sering sharing tentang anak-anak yang kami ajar apalagi jika kami mengajar di kelas yang sama. Maka mulailah beliau mengutarakan perasaan dan apa yang beliau alami di kelas Z. Aku bisa merasakan rasa cemas yang sedikit tersirat di dalam cerita dan nada suara beliau. Ternyata apa yang beliau sampaikan, sama dengan apa yang aku alami. Bahkan sebelum aku tahu tentang hal ini, sempat aku berpikir bahwa, apakah anak-ana...

Dua Titik

Aku sekarang berdiri di titik yang mana paling kusyukuri. Aku memiliki keluarga besar harmonis, ayah yang membanggakan aku, ibu yang mencintai aku, kakak-kakak yang menyayangi aku dan kakak-kakak ipar yang menghargai aku. Tapi aku juga punya satu hal yang lain yang juga paling kusyukuri, aku memiliki anak-anak. Dan soal anak-anak, aku sedang berdiri di dua titik yang mana memberikan aku kesempatan mempunyai banyak sekali anak meskipun aku belum bersuami. Anak-anak ini mencintai aku dengan tulus, menghargai aku dengan sebaik-baiknya penghargaan kepada ibu, dan meskipun mereka tidak menyukaiku, mereka tidak pernah berpikir untuk benar-benar memusuhiku. Dua titik ini yang selalu kujaga keseimbangannya. Aku memiliki 2 kelompok anak-anak yang hanyalah manusia biasa, memiliki rasa cemburu dan rasa luka. Aku mencoba mencintai dengan porsi yang sama dan sesuai. Dengan cinta yang sama dan setara. Layaknya mencintai dua anak kembar. Soal mencintai, dalam definisiku pada dasarnya adalah membe...

Cantik

Di facebook sekarang kok lagi hits banget membahas masalah kecantikan wanita? Untuk aku yang bertampang biasa-biasa saja, hanya santai saja menanggapi segala status-status, quotes bahkan meme-meme. Ya. Aku sudah sampai disini. Di level "Sebodo Amat Dah". Tapi biar bagaimanapun menarik untuk dibicarakan jika menyangkut soal kecantikan wanita. Maka disinilah aku, si "Sebodo Amat Dah" yang justru malah seolah care dengan tema kecantikan #gaje, kan? Membandingkan dulu dan sekarang, dulu, melihat status atau meme yang dipajang sama teman lelaki di facebook, yang lebih mendewakan kecantikan, dan bilang inner beauty itu cuma omong kosong, aku langsung misuh-misuh nda terima. Seolah aku manusia bijaksana padahal aku sedang membela diriku dan kaumku sih... haha... kaum wanita tapi bukan wanita biasa melainkan wanita bertampang "Biasa-biasa aja". Aku pribadi juga sebenarnya diam-diam kagum lah sama perempuan yang cantik, apalagi bersih, rapi, wangi dan sholehah ...

Impian

Kalau ditanya, apa sih impianku? Aku pasti bilang, aku pingin sekolah lagi, ke luar negeri. Tapi kalau ditanya, apa sih impian keluargaku? Mereka pasti bilang, Rizki harus jadi PNS (haha). Bagaimanapun setiap orang memang pantas untuk bermimpi, kan? Aku dengan impianku, keluargaku dengan impian mereka.. semuanya punya hak untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengabarkannya. Sehingga, aku teringat lagi tempo hari aku ketemu lagi dengan guru bahasa Indonesiaku waktu SMA, dan beliau lagi-lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama (mungkin ini impian versi guru SMAku tersebut hehe) "Kapan nikah? Butuh ibu carikan kah?" aku cuma senyam-senyum, asli aku nda tersinggung biar berapa kalipun aku ditanya seperti itu "Kebanyakan milih sih.." canda guruku lagi "Engga bu.." kataku sambil tertawa, lalu kemudian berkata, "Ya, nanti kalau ketemu lagi, nanti saya sudah gandeng suami" ujarku becanda "Habis sekarang begemuk sih?" lanjut guruku itu...

Uncle dan Sekelompok Anak B-07 English Department

Dulu, waktu zaman kuliah, meskipun kami anak prodi (program studi) Bahasa Inggris, tapi kami gak ada Inggris-inggrisnya. Saat kami sidang akhir untuk ambil strata 1, kami bahkan memecahkan rekor menguasai 12 tenses justru baru saat kepepet oleh ujian sidang akhir (gokil, nda?). Anak B (nama ruang kami) sebenarnya pinter-pinter, cuma nda tau ya, kami lagi kena gendam apa sampai jadi gokil kayak gitu (hahaha, kalau ada anak B yang menyangkal fakta ini, berarti semua yang aku bilang tadi salah, aku minta maaf, tapi perasaanku kok dulu kayak gitu haha) Kembali ke fakta kami yang nda Inggris-inggris banget tadi, akhirnya delapan orang dari kami (satu orang dari kelas A) ngambil les tambahan bahasa Inggris khusus TOEFL. Dan kelas kamipun dibagi jadi 2, so satu kelas cuma ada 4 anak. Guru les kami adalah seorang pria cerdas dan berkarisma yang sangat bagus penguasaannya terkait Bahasa Inggris. Kami benar-benar menghormati beliau. Selain karena beliau adalah guru les kami, beliau juga memi...

Catatan Sederhana Guru Pendamping Lomba

Aku cuma guru biasa. Aku bukan guru berprestasi. Hanya karena aku memiliki keluangan waktu, akupun diberikan kepercayaan lebih untuk mendampingi anak-anak untuk ikut lomba. Lomba apapun, meskipun lomba itu nda linier dengan bidang studi yang ku ampu. Dapat juara ataupun tidak dapat juara, aku selalu hadapi sama-sama dengan mereka. Hingga dua tahun di setiap event lomba, aku hampir selalu pergi dengan anak-anak. Setiap kami pulang dengan tangan hampa, aku selalu membesarkan hati anak-anak. Kadang kebahagiaan kami hanya sesederhana nasi kotak yang kami dapatkan dari panitia lomba, atau sesederhana semangkuk bakso traktiranku, bahkan sesederhana segelas es capcin dingin yang juga kubelikan buat mereka. Seolah gusar dan lelah sehabis lomba langsung terhapus dengan sederet makanan murah sederhana tersebut. Dan bila menang lomba, kebahagiaan kami bertambah-tambah, sorak mereka terdengar tumpah, dan aku merasa luar biasa bangga pada mereka. Hari ini, lomba pidato telah kami jalani, hati...

Plagiasi (Kejujuran dan Hati Nurani yang Dipertanyakan)

Minggu pagi, kulalui dengan membuka linimassa Facebook, sebagai bentuk penyegaran karena semalam aku memutuskan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kondisi ponsel mati dan cuma sesekali menengok Facebook untuk menghalau kantuk. Pas asik buka-buka Facebook pagi tadi, mataku bersirobok pada status salah satu adek tingkatku di kampus dulu (Adek ini satu fakultas denganku tapi beda jurusan. Hebatnya, kini dia aktif sebagai penulis teenlit dan juga owner blog yang berhubungan dengan kepenulisan. Adek ini bahkan juga sudah menerbitkan beberapa buku teenlit karyanya dan sangat peduli dengan kasus-kasus plagiasi (plagiasi: pencurian karya tulisan orang lain dan diakui seolah sebagai hasil karyanya sendiri)). Karena dia penulis dan karya dia juga pernah diplagiat orang, sehingga sangat wajar jika dia memang sangat concern dengan kasus-kasus plagiasi. Tadi pagi, status dia tentang seorang penulis muda sebut saja NDA, yang ternyata adalah seorang plagiat ulung. Aku bisa merasakan kekesa...

Angan-angan Iseng

Waktu aku SMP, sebuah gedung SMA baru, telah rampung dibangun tetapi belum diaktifkan. Letak gedung SMA itu beberapa meter jaraknya dari SMP tempat aku sekolah. Suatu sore, bersama sahabatku Irma, kami memandang ke seberang, ke arah gedung SMA baru yang sunyi itu. Irma duduk di undakan tinggi di samping tiang net. Sambil mengayun-ayunkan kakinya, dia menunjuk ke arah SMA itu dan berkata, "Nanti kalau aku SMA, aku mau sekolah disitu" tunjuknya. Aku mengikuti arah telunjuknya. "Oh, kira-kira bisakah ya aku sekolah di sekolah itu?" tanyaku pula, lebih kepada diri sendiri. Lalu aku melupakannya. Sore itu, berbeda dari temanku, aku hanya melontarkan angan-angan iseng ke udara. Kenapa? Karena konon katanya sekolah itu adalah sekolah berlabel PLUS. Yang namanya label PLUS, itu dimana-mana susah masuknya. Cuma orang pintar saja yang bisa. Irma, sahabatku sekaligus rivalku di kelas untuk rebutan rolling rangking 1,2,3, kurasa sangat pantas untuk masuk SMA PLUS tersebut. Sed...

Guru Baru, Guru Muda

Aku termasuk guru baru, termasuk guru muda juga, meskipun aku pertama menjadi guru sudah berumur 25 tahun. Di dunia ini guru termuda bisa berumur sekitar 22-23 tahun. Benar-benar fresh graduated. Tiba-tiba, saat aku duduk di perpustakaan, aku terinspirasi untuk menuliskan pengalamanku menjadi guru baru guru muda. Setidaknya, saat kita menjadi guru baru, guru muda, ada beberapa hal yang secara alamiah akan kita alami. Ini berdasarkan pengalamanku dan pengalaman yang aku lihat dari rekan-rekan kerjaku sendiri. 1. Ego Tinggi Guru baru apalagi usianya muda, biasanya memiliki ego yang tinggi. Itu terjadi karena, mereka belum memiliki pengalaman yang cukup soal mendidik anak, mengajar anak dan bahkan berinteraksi dengan anak. Guru muda kan biasanya belum menikah, umumnya mereka belum memiliki naluri keibuan (khususnya guru perempuan). Yang ada mereka masih terlalu muda. Dengan murid yang jarak usianya semakin kecil, mereka cenderung semakin keras, bukan tegas. 2. Sulit Mengambil Keput...

Menghukum Diri Sendiri

Hari Sabtu, aku memutuskan untuk menjenguk salah satu murid. Aku bertanya ke teman-temannya, sudahkah mereka menjenguk si murid? Mereka bilang, belum. Jadi akhirnya aku dan murid yang lain memutuskan untuk pergi menjenguk di hari Minggu jam 9 pagi. Tempat pertemuan kami, kami sepakati di depan Pondok Pesantren Al Kholil. Hari Minggu, jam 9 pagi aku baru jalan. Aku mengakui bahwa aku terlambat. Aku mampir di toko untuk membeli kue dan minuman lalu menunggu di tempat yang telah di tentukan. Aku tiba jam 09.15. Artinya aku terlambat 15 menit. Tapi wajah murid yang kutunggu-tunggu tidak kelihatan. Karena tempatku menunggu adalah tempat strategis yang ramai, maka akhirnya aku malu. Rasanya aku mau marah, padahal aku yang salah. Aku terlambat 15 menit dan sekarang baru saja menunggu 2 menit, rasanya sudah kayak menunggu selama 2 tahun. Akupun berpindah tempat, ke tempat yang tidak terlalu mencolok mata. Aku pindah ke seberang Pondok Pesantren Al Kholil. Dan disanalah hukumanku dimulai. ...

Protagonis yang Antagonis

Dari kecil, aku yang memang pendiam dan penurut, diam-diam mempunyai cita-cita kehidupan yang luhur (Setidaknya 'luhur' menurut definisi Rizkiani Kecil). Apa itu? Yaitu menjadi sosok protagonis* baik hati di alur kehidupanku. Dan aku sangat membenci peran antagonis**. Bagiku, peran protagonis dan antagonis memiliki perbedaan karakter yang sangat jauh. Peran protagonis adalah sosok si baik hati lagi tidak sombong dan antagonis adalah peran jahat yang memuakkan bagi semua orang. Orang-orang protagonis, bagiku, di kehidupan (maafkan aku jika pikiranku sempit dan aku termakan ide-ide sinetron) adalah orang yang selalu baik dan dia juga merupakan orang yang sering dicurangi, disakiti, ditinggalkan dan tidak dipilih, tapi kemudian menjadi pemenang di dalam drama kehidupannya. Sebaliknya orang-orang antagonis adalah orang yang berada di sisi jahat yang sering mencurangi, menyakiti, meninggalkan dan tidak memilih, dan kemudian, dia akan menjadi pecundang di dalam drama kehidupannya kar...

Pengalaman Pertama Pembina Upacara

Hari itu, Sabtu, saat aku masuk siang dan bertemu kepala sekolah. Bapak kepala sekolah menyambangiku di dekat meja piket. Lalu menawarkan sesuatu yang sudah kutolak sebanyak 4 kali: Menjadi Pembina Upacara. Siang itu entah karena tidak bisa menghindar lagi alias pasrah atau entah karena aku sudah lelah lari dari kenyataan #tsah, ketika bapak menawarkan lagi (tepatnya menyuruh lagi secara halus) aku mengiyakan. Ku lihat ekspresi bapak sangat senang. Seperti orang yang baru dapat arisan #wkwkwk peace, pak. Pulang ke rumah aku langsung di dera rasa panik. Aku memang sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab di dalam organisasi tapi aku tidak memiliki cukup kemampuan leadership, public speaking termasuk kepercayaan diri. Bertambah-tambah panikku karena pemimpin upacaranya adalah salah satu muridku yang sudah kesohor ngebanyol. Anak ini memang masuk dalam tim Lomba Baris Berbaris suaranya juga lantang sehingga masuk akal kalau dia diandalkan sebagai petugas pemimpin upacara mewakili ...

Menempatkan Diri

Aku masih ingat, percakapan singkat tadi siang di sekolah. Seorang teman, guru laki-laki (beliau ini padahal punya pengalaman kerja di kampungnya dulu, mengajar mencabang di SMA dan SMP, juga pengajar di lembaga bimbingan belajar), membuat aku melongo dan setengah kecewa, setengah nda percaya.  Semuanya bermula saat aku menceritakan apa yang diceritakan oleh anak kelasku, saat mereka berlebaran ke rumah. "Bu, Si A nda sopan sama pak B, masa' si A suka kasar sama bapak B"lapor anak muridku, "Becandaan aja, kali" sahutku "Nda, bu, sering juga si A dan si C kayak ngusir bapak dari kelas. Dan wajah mereka nda menunjukkan tawa sama sekali juga nda menunjukkan kalau mereka bercanda" tambahnya pula meyakinkan aku "Iya bu, kadang kami kasian sama pak B" sergah yang lain. "Pernah juga bu, bebantah-bantahan sama pak B tapi pak B diam aja diperlakukan seperti itu" Sampai sini aku cukup kesal. Pasalnya, aku wali kelasnya, aku t...

Faktas Rizkiani Redha

Ini spesial ya gaes, malam ini postnya dua kali tapi pendek-pendek sih tulisannya #hehe. Malam ini tulisanku bakal ngupas tentang "Faktas Rizkiani Redha", check this out, babe.. 1. Anti-mainstream Biasanya fakta-fakta yang menarik untuk dibahas itu biasanya kalau gak tokoh-tokoh penting berpengaruh, ya ngupas fakta tentang artis. Lah tapi ini ngupas fakta tentang diri sendiri #haha, ya itulah.. makanya.. fakta pertama, Rizkiani itu orangnya sedikit anti-mainstream, ya kayak ginilah.. 2. Guru Dia seorang guru... dan jenisnya macam-macam, ya dia guru SMK, guru SMA juga dan guru les juga.. 3. Perempuan Ya, mungkin disini, fakta bahwa Rizkiani itu perempuan itu gak terlalu mengagetkan karena emang fotonya juga berkerudung dan namanya juga ada 'Ani'nya #di Indonesia nama yang ada Ani-Ani-nya ya cenderung nama perempuan. Tapi percaya gak, Sugar, waktu aku KKN (Kuliah Kerja Nyata) aku dikira laki-laki gara-gara namanya doang ckck. 4. Gembel Iy...

The Perfect Revenge

Suatu malam, sama seorang temen lama, kami membahas mengenai berat badan. Dimana, memang setelah lulus kuliah aku punya masalah berat badan berlebih #orang-orang bilang, aku bahagia karena sudah pulang kampung lagi, sedangkan si temen lama, udah dari dulu hahaha Tapi kerennya, aku nda nyangka kalau dia ternyata berusaha menurunkan berat badan dia #fyi, sebelumnya dia benar-benar gak terlalu peduli ama berat badan bahkan kesehatan. Jadi waktu kami sharing gitu, aku penasaran tanya kenapa kok dia sekarang-sekarang mikir gimana cara nurunin berat badan. Dan jawabannya adalah supaya enak gerak, sehat dan enak dilihat. Dan aku setuju tapi, di akhir chat, aku menambahkan lagi alasan kenapa kita harus berubah menjadi lebih baik "Karena menjadi lebih baik dari yang kemarin adalah balas dendam yang paling sempurna dan terpedih"

Contoh-contoh Status Gagal Move On dan Tips Menyembunyikannya

Setiap manusia, udah fitrahnya suka sama manusia lainnya dan sayang sama manusia lainnya. Sebagai muslim yang taat, wujud kita menyukai dan sayang sama seseorang (dalam hal ini perasaan spesial antara laki-laki dan perempuan) itu harus sesuai dengan tuntunan agama kita. Kalau di dalam agama Islam, kan kita dilarang pacaran. Jadi pilihannya cuma dua: do'akan atau nikahi #tsah. Ketika kita hanya mampu mendo'akan, ketika kita harus menjaga perasaan dan ketika kita bahkan harus berhenti merasakan #tsah, kita butuh satu kata kunci sakti: Move On. Terkait move on nih ya, saya punya banyak teman yang, kebetulan mereka pacaran dan pacarnya adalah laki-laki yang belum pantas dipersunting karena kelakuan mereka yang... ah sudahlah #astaghfirullah.. sehingga mereka lelah, mereka putus, dan mereka harus move on, dan beban beratnya adalah mereka harus membuktikan bahwa mereka memang sudah move on, tapi pembuktian itu malah -menurutku- justru kegagalan dalam move on itu sendiri. Berik...

Descendants of the Sun dan Imajinasi para Fans SongSong Couple

Boomingnya drama Korea Descendants of the Sun memang masih terasa. Bagi banyak penikmat drama Korea terutama kaum hawa, Descendants of the Sun sungguh membuat gagal move on dan baper (bawa perasaan) berkepanjangan. Tak jarang kemudian menimbulkan beragam fantasy dan imajinasi dari para penonton. Aku sendiri termasuk salah satu yang sempat ketinggalan. Sempat gak pernah nonton dan kemudian penasaran tentang sekeren apa sih akting Joong Ki dan Hye Kyo (kebetulan aku menyukai Hye Kyo gegara "Full House"). Dan ketika aku berhasil nonton 16 episodenya, aku jujur juga sempat baper berkepanjangan #haha. Tapi sebaper-bapernya aku, aku masih memegang yang namanya kata "realistis". Maksudku, ketika drama berakhir, para penonton apalagi fans pasangan Song Joong Ki dan Song Hye Kyo banyak yang berharap supaya keduanya jadian betulan bahkan menikah. Tapi aku, ketika drama berakhir aku berpikir bahwa yang akan menikah kelak hanyalah Mayor Yoo Si Jin dan dr. Kang Mo Yeon. Buka...

Karangan Anak Muda Zaman Sekarang

Mei hampir berakhir. Ya ini adalah penghujung tahun pelajaran 2015/2016. Tahun ajaran baru akan segera menyapa. Dan itu berarti kita akan menemukan banyak lagi tamu-tamu baru atau anggota-anggota baru yaitu anak-anak SMP yang mulai menapaki jenjang pendidikan SMA. Sebagai seorang gadis ku akui aku bukanlah gadis yang rapi. Kamarku lebih sering tak terawat ketimbang terawat. Penyumbang terbesar berantakannya kamarku adalah tak lain kertas-kertas, buku-buku, dan pakaian. Maka, demi memperbaiki hidup ke arah yang lebih baik, aku mulai disiplin menjaga kerapian kamarku. Status pekerjaanku menjadi motivasi terbesarku untuk selalu disiplin dalam hal apapun termasuk kerapian dan kebersihan. Salah satu cara merapikan kamar adalah menyingkirkan penyumbang terbesar berantakannya kamarku. Dan penyumbang terbesarnya adalah kertas-kertas. Entah itu kertas kosong, kertas cekeran (kertas bekas yang dipakai untuk coret-coretan), dan kertas bekas tugas-tugas murid-muridku yang sudah diambi...